Jeffrey Cheah: Persatuan Malaysia Bukan Warisan, Melainkan Pilihan yang Dibangun
Baca dalam 60 detik
- Pendiri Sunway Group menyerukan introspeksi nasional, mengajak warga Malaysia melampaui sekat etnis dan agama demi masa depan bersama.
- Melalui Yayasan Jeffrey Cheah, lebih dari RM4 miliar telah dihibahkan untuk pendidikan, dengan RM1,05 miliar disalurkan sebagai beasiswa.
- Seruan ini muncul di tengah persaingan global yang semakin ketat, menempatkan kesiapan generasi muda sebagai kunci daya saing Malaysia.

Dalam refleksi Hari Kebangsaan dan Hari Malaysia tahun ini, pendiri Sunway Group, Jeffrey Cheah, melontarkan pertanyaan mendasar yang jarang diangkat dalam hiruk-pikuk politik: apa sebenarnya yang menyatukan seluruh rakyat Malaysia? Lebih dari sekadar perayaan kemerdekaan, esai yang ditulisnya mengajak publik untuk menilik kembali identitas kebangsaan di tengah derasnya arus perubahan global.
Cheah, yang tumbuh di kota kecil Pusing, Perak, mengaku masa kecilnya diwarnai persahabatan lintas etnis tanpa memandang latar belakang. Baginya, anak-anak memiliki kepekaan alami untuk melihat kemanusiaan sebelum label sosial. Namun, ia menyayangkan bahwa kedewasaan kerap mengikis kebijaksanaan tersebut, digantikan kecurigaan dan perpecahan yang dipelihara.
Menurut pengusaha berusia 78 tahun itu, kebencian dan rasa hormat sama-sama bisa dipelajari. Perpecahan memang mudah ditumbuhkan, tetapi membangun kepercayaan membutuhkan keberanian yang jauh lebih besar. Ia mengingatkan bahwa setiap generasi akan dikenang dari jembatan yang dibangunnya, bukan tembok yang ditinggalkannya.
Di tengah kompetisi global yang semakin intensif, Cheah menggarisbawahi bahwa Malaysia tidak boleh tertinggal hanya karena sibuk memperdebatkan perbedaan. Investasi besar-besaran di bidang inovasi, pendidikan, dan sumber daya manusia oleh negara-negara tetangga menjadi alarm tersendiri. Pertanyaannya, apakah generasi muda Malaysia siap menghadapi persaingan yang kian sengit?
Kekhawatiran tersebut bukan tanpa dasar. Cheah mengingatkan bahwa dunia tidak akan menunggu. Kecerdasan buatan dan perubahan iklim telah mengubah lanskap kehidupan dan pekerjaan. Jika Malaysia terus larut dalam kecurigaan dan perpecahan, maka anak cucu yang akan menanggung akibatnya. Ia menegaskan bahwa daya saing bangsa sangat bergantung pada kesiapan generasi penerus.
Pengalaman pribadi Cheah yang lahir dari kemiskinan membawanya pada keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan keluar paling efektif dari jeratan kemiskinan. Keyakinan inilah yang mendorongnya mendirikan Yayasan Jeffrey Cheah dan mengalihkan seluruh kepemilikan sahamnya di kelompok pendidikan Sunway ke yayasan tersebut. Baginya, setiap beasiswa bukan sekadar membuka pintu universitas, melainkan mengangkat satu keluarga dari lingkaran kemiskinan dan memulihkan mimpi yang sempat terputus.
Dalam skala yang lebih luas, Cheah juga menyentuh dinamika geopolitik. Ia membayangkan betapa dunia akan menjadi tempat yang lebih baik jika Amerika Serikat dan China mau bekerja sama sebagai mitra, bukan rival. Pernyataan ini menunjukkan bahwa persatuan bukan hanya isu domestik, tetapi juga relevan dalam hubungan antarnegara.
Bagi Indonesia, pesan Cheah memiliki resonansi yang kuat. Sebagai negara dengan keberagaman etnis dan agama yang luar biasa, Indonesia juga menghadapi tantangan serupa dalam menjaga kohesi sosial. Seruan untuk membangun jembatan, bukan tembok, serta mengutamakan pendidikan sebagai alat pemersatu, dapat menjadi bahan renungan bagi para pemangku kepentingan di tanah air.
Cheah menutup tulisannya dengan nada optimistis. Ia percaya bahwa generasi muda Malaysia memiliki rasa ingin tahu, kreativitas, dan empati yang besar. Mungkin mereka akan berhasil mewujudkan impian yang belum tercapai oleh generasi sebelumnya. Namun, ia mengingatkan bahwa patriotisme sejati bukan sekadar mencintai negeri seperti adanya, melainkan berani membantu mewujudkan negeri yang lebih baik dari yang kita warisi.
Pada akhirnya, pertanyaan yang menggantung adalah: apakah kita semua, baik di Malaysia maupun Indonesia, siap menjadi pribadi yang lebih murah hati dalam membangun bangsa? Sebab, seperti yang ditegaskan Cheah, bangsa tidak menjadi lebih baik dengan sendirinya. Manusialah yang mengubahnya.



