Islandia Tolak Negosiasi Ulang dengan UE: Kedaulatan Perikanan vs Stabilitas Geopolitik
Baca dalam 60 detik
- Mayoritas warga Islandia menolak referendum untuk memulai kembali negosiasi aksesi ke Uni Eropa, dengan 52,8% suara menentang.
- Kekhawatiran atas kehilangan kendali perikanan dan kedaulatan menjadi faktor utama, meski ada tekanan geopolitik dari AS.
- Hasil ini menegaskan posisi Islandia yang ingin menjaga kemandirian, sementara UE kehilangan kandidat potensial yang stabil.

Warga Islandia secara tegas menolak usulan untuk membuka kembali negosiasi aksesi ke Uni Eropa (UE) dalam referendum yang digelar Sabtu (30/8). Dengan tingkat partisipasi mencapai 82% dari 270.000 pemilih yang memenuhi syarat, hasil ini mencerminkan perdebatan panjang antara keinginan menjaga kendali atas sumber daya perikanan dan kebutuhan akan stabilitas geopolitik di tengah tekanan Amerika Serikat.
Komisi Pemilihan Nasional mencatat 52,8% suara menentang, sementara 47,2% mendukung. Kekalahan ini praktis mengubur wacana keanggotaan UE untuk beberapa tahun ke depan, mengingat upaya serupa terakhir kali gagal pada 2015 ketika pemerintahan yang skeptis terhadap Eropa menghentikan pembicaraan yang dimulai pasca-krisis finansial 2008. Padahal, referendum ini dipercepat oleh koalisi pemerintah yang berhaluan kiri setelah Presiden AS Donald Trump beberapa kali keliru menyebut Islandia dalam pidatonya mengenai ambisi menguasai Greenland.
Ketegangan geopolitik memang mewarnai jalannya referendum. Para pendukung keanggotaan UE berargumen bahwa solidaritas Eropa akan menjadi tameng tambahan jika Trump suatu saat melontarkan ancaman serupa terhadap Islandia, yang merupakan anggota NATO. Namun, kekhawatiran itu tidak cukup untuk menggeser prioritas utama warga: mempertahankan kendali penuh atas perairan yang menjadi sumber kehidupan mereka. Industri perikanan, yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi, memimpin kampanye penolakan dengan dalih kebijakan perikanan bersama UE akan membuka akses bagi kapal-kapal asing, termasuk dari Spanyol dan Belanda.
Perdana Menteri Kristrun Frostadottir menanggapi hasil ini dengan sikap legawa. Ia menilai kekalahan tersebut bukan sebagai kemunduran bagi pemerintahannya, melainkan kemenangan demokrasi. Meski menghormati keputusan rakyat, ia tidak menutup kemungkinan untuk membuka kembali isu ini di masa depan. "Hal-hal yang tidak pernah saya duga terjadi dalam beberapa tahun terakhir," ujarnya, "tetapi pemerintah ini tidak akan melanjutkannya. Perlu perubahan besar dalam 24 bulan ke depan untuk membawa isu ini kembali ke agenda utama."
Di sisi lain, pemimpin oposisi dari Partai Kemerdekaan, Gudrun Hafsteinsdottir, menyambut hasil ini sebagai pukulan bagi pemerintah, namun bukan bagi hubungan Islandia dengan Eropa. "Cara terbaik untuk menyembuhkan luka adalah pemerintah mendengarkan kesimpulan ini dan mengesampingkan jalur tersebut," katanya kepada penyiar nasional RUV. "Kami ingin tetap menjalin kontak erat dengan UE, Eropa, dan sebanyak mungkin negara lain. Bangsa ini mengirim pesan jelas bahwa kami akan menentukan arah sendiri."
Menariknya, dukungan terhadap UE hanya mayoritas di ibu kota Reykjavik, sementara daerah-daerah lain menolak. Hal ini menunjukkan kesenjangan pandangan antara pusat urban yang lebih kosmopolitan dan daerah pesisir yang menggantungkan hidup pada laut. Identitas Islandia memang tidak bisa dilepaskan dari laut; mereka adalah keturunan Viking yang memenangkan "Perang Kod" melawan Inggris pada 1970-an demi mempertahankan hak atas perairan mereka. Penolakan kali ini adalah kelanjutan dari sejarah panjang menolak didikte oleh negara-negara Eropa yang lebih besar dan kaya.
Selain soal perikanan, para penentang juga menyoroti fakta bahwa Islandia sebenarnya sudah menikmati manfaat pasar tunggal UE dan kawasan Schengen tanpa harus mengorbankan kedaulatan. Mereka khawatir suara Islandia akan tenggelam di Parlemen Eropa yang besar, dan lebih baik menjalin perjanjian dagang sendiri, seperti dengan China. Sementara itu, para pendukung berargumen bahwa keanggotaan UE akan menurunkan inflasi dan suku bunga, serta euro akan memberikan stabilitas yang lebih baik dibandingkan mata uang krona yang fluktuatif. Mereka juga menekankan pentingnya kerja sama Eropa dalam isu-isu lintas batas seperti perubahan iklim.
Bagi Uni Eropa, hasil ini tentu mengecewakan. Islandia adalah kandidat yang ideal: negara kaya, stabil, dan demokratis dengan wilayah perikanan luas. Jika bergabung, prosesnya bisa relatif cepat dibandingkan kandidat lain seperti Ukraina atau Moldova yang masih harus melakukan reformasi besar-besaran. Keberhasilan membawa Islandia masuk bisa menjadi simbol pemulihan citra UE pasca-Brexit, terutama ketika Inggris kini tampak ingin memperbaiki hubungan. Namun, dengan penolakan ini, UE harus menunggu lebih lama lagi untuk menambah anggota baru setelah Kroasia pada 2013.
Bagi Indonesia, dinamika ini memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya kedaulatan atas sumber daya alam. Sebagai negara kepulauan dengan kekayaan laut melimpah, Indonesia kerap menghadapi tekanan asing dalam pengelolaan perikanan. Keputusan Islandia menunjukkan bahwa menjaga kendali atas sumber daya bisa menjadi prioritas utama di atas tawaran integrasi ekonomi yang lebih luas. Namun, di sisi lain, Indonesia juga perlu mempertimbangkan stabilitas geopolitik di kawasan, mengingat ketegangan di Laut China Selatan yang melibatkan banyak negara.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah pemerintah Islandia akan benar-benar mengesampingkan isu ini dalam dua tahun ke depan, atau justru muncul krisis geopolitik baru yang mengubah perhitungan. Seperti diungkapkan pemilih Daniel Bjarkason yang menolak, "Untuk sekarang kita terlalu terpecah, itu tidak baik. Seharusnya 70-30 jika kita akan melakukannya." Dengan demikian, jalan menuju keanggotaan UE masih panjang dan penuh ketidakpastian bagi Islandia.



