Rais Aam PBNU Terpilih Restui Lima Kandidat Ketua Umum, Musyawarah Penentuan Segera Digelar
Baca dalam 60 detik
- Lima nama kandidat ketua umum PBNU telah disetujui Rais Aam terpilih, Miftachul Akhyar, setelah memenuhi syarat administratif dan politik.
- Gus Kikin memimpin perolehan suara dengan 472 dukungan, disusul Zulfa Mustofa, Abdussalam Sochib, Gus Yahya, dan Abdul Ghaffar Rozin.
- Keputusan final akan diambil melalui musyawarah tertutup Rais Aam bersama delapan anggota AHWA di kediaman Kiai Abdul Wahab Chasbullah.

Jombang, 31 Agustus 2026 โ Langkah penentuan pemimpin baru Nahdlatul Ulama (NU) memasuki babak akhir setelah Rais Aam terpilih, K.H. Miftachul Akhyar, secara resmi menyetujui lima calon Ketua Umum PBNU yang telah lolos verifikasi pada Muktamar ke-35 di Jombang, Jawa Timur. Persetujuan itu menjadi pintu terakhir sebelum mekanisme musyawarah internal menentukan siapa yang akan memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia untuk periode mendatang.
Keputusan tersebut diumumkan dalam Sidang Pleno V yang berlangsung di Gedung Serba Guna Tambakberas, Senin (31/8). Ketua Sidang, Prof. Dr. H. Ganefri, menegaskan bahwa kelima kandidat telah memenuhi seluruh persyaratan, termasuk tidak memiliki afiliasi politik aktif dan mendapat restu Rais Aam. "Setelah kami menghadap Rais Aam terpilih, kelima calon yang kita usulkan itu disetujui secara lisan maupun tertulis," ujarnya di hadapan para muktamirin.
Dengan rampungnya tahap penjaringan ini, konsentrasi kini bergeser ke musyawarah tertutup yang digelar di ndalem kasepuhan Kiai Abdul Wahab Chasbullah. Miftachul Akhyar bersama delapan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) akan bermusyawarah untuk memilih satu nama di antara lima kandidat. Proses ini menjadi penentu arah kepemimpinan NU lima tahun ke depan, sekaligus menjawab spekulasi publik mengenai figur yang dianggap mampu merawat tradisi sekaligus membawa organisasi pada tantangan zaman.
Perolehan suara dalam proses sebelumnya menunjukkan peta kekuatan yang cukup jelas. K.H. Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin unggul telak dengan 472 suara, diikuti K.H. Zulfa Mustofa (262 suara), K.H. Abdussalam Sochib (261 suara), K.H. Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya (258 suara), dan K.H. Abdul Ghaffar Rozin (155 suara). Meski demikian, keunggulan suara tidak otomatis menjamin kemenangan, karena keputusan akhir berada di tangan AHWA yang dikenal mengedepankan pertimbangan maslahat organisasi.
Di luar dinamika elektoral, proses ini menyiratkan pesan penting tentang konsolidasi internal NU. Ketua pelaksana sidang menekankan bahwa seluruh kandidat telah menyatakan kesediaan dan tidak sedang menduduki jabatan politik, sebuah langkah untuk menjaga netralitas organisasi di tengah tahun politik. Beberapa calon bahkan diketahui masih melengkapi berkas administratif, namun hal itu tidak menghalangi kelanjutan proses.
Reaksi para kandidat pun mulai bermunculan. Gus Kikin menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan yang diterimanya dan menegaskan kesiapannya untuk melengkapi persyaratan yang belum sempurna. Sementara itu, K.H. Zulfa Mustofa mengaku terkejut dengan perolehan suaranya. "Saya tidak menyangka dengan perolehan saya. Saya berkompetisi dengan modal yang sangat seadanya," katanya. Ia juga mengungkapkan telah menyiapkan buku berjudul Panca Khidmat sebagai penjabaran visi-misinya, dan berkomitmen melanjutkan program-program kepengurusan sebelumnya demi menjaga kesinambungan.
Bagi kalangan pengamat, muktamar kali ini menjadi ujian bagi NU dalam menjaga tradisi musyawarah di tengah tekanan eksternal. Kehadiran Presiden Prabowo Subianto pada pembukaan dan penutupan acara menegaskan posisi strategis NU dalam peta politik nasional. Keputusan AHWA nantinya tidak hanya menentukan arah organisasi, tetapi juga berpotensi memengaruhi dinamika sosial-politik di Indonesia, mengingat NU memiliki puluhan juta pengikut.
Pertanyaan besarnya kini: akankah AHWA memilih figur dengan elektabilitas tertinggi seperti Gus Kikin, atau justru mempertimbangkan keseimbangan internal yang lebih luas? Jawabannya akan segera diketahui dalam hitungan jam, dan publik menantikan apakah keputusan tersebut mampu merangkul seluruh elemen NU untuk bergerak bersama dalam menghadapi tantangan masa depan.



