Dua Gol Brunner Bawa Monaco ke Puncak Ligue 1, PSG Terpuruk di Posisi 11
Baca dalam 60 detik
- Monaco memuncaki klasemen Ligue 1 setelah menang 2-0 atas Marseille, berkat dua gol Paris Brunner.
- Paris Saint-Germain baru mengumpulkan dua poin dari dua laga dan berada di peringkat 11, awal terburuk mereka dalam satu dekade.
- Persaingan juara Ligue 1 musim ini diprediksi semakin ketat dengan munculnya Paris FC dan Rennes sebagai penantang serius.

AS Monaco menegaskan ambisi mereka di Ligue 1 musim ini dengan menaklukkan Olympique Marseille 2-0 di Stade Louis II, Minggu (31/8) dini hari WIB. Dua gol dari penyerang muda Paris Brunner memastikan tim asuhan Adi Hรผtter menjadi satu-satunya klub yang meraih dua kemenangan beruntun pada awal musim, sekaligus menggeser Paris Saint-Germain yang justru terpuruk di papan tengah.
Kemenangan ini tidak hanya menempatkan Monaco di puncak klasemen dengan enam poin, tetapi juga mengirim sinyal bahwa dominasi PSG di kancah domestik mulai mendapat perlawanan. Les Monegasques tampil efisien: memanfaatkan peluang dengan dingin, sementara Marseille yang menguasai bola justru kesulitan menembus pertahanan solid tuan rumah. Statistik menunjukkan pasukan Roberto De Zerbi melepaskan banyak umpan, namun hanya sedikit yang menjadi tembakan tepat sasaran.
Gol pembuka tercipta pada menit ke-13 ketika lini belakang Marseille lengah. Brunner, yang lolos dari kawalan dua bek, menyambut umpan silang Aleksandr Golovin dengan sundulan terarah. Gol kedua hadir semenit setelah Timothy Weah membuang peluang emas untuk menyamakan kedudukan. Brunner memanfaatkan umpan panjang, berlari kencang, lalu menaklukkan kiper dengan sepakan mendatar ke tiang jauh. Dua gol itu cukup untuk mengamankan tiga poin dan membuat Brunner menjadi bintang lapangan.
Hasil ini semakin menarik karena pada laga lain, Paris FC menang telak 3-0 atas Nice dan kini menempati peringkat kedua dengan empat poin. Sementara itu, Rennes harus bersusah payah menaklukkan tim kasta kedua Le Mans 3-2 lewat penalti di menit ke-96. Di sisi lain, PSG hanya mampu bermain imbang 2-2 melawan Lille setelah tertinggal dua gol lebih dulu, dan Lyon ditahan Le Havre 1-1. Konsekuensinya, juara bertahan itu baru mengoleksi dua poin dan berada di urutan ke-11, sebuah posisi yang asing bagi klub sekelas PSG.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, performa Monaco dan merosotnya PSG menjadi bahan menarik untuk mengamati dinamika Liga Prancis. Persaingan yang lebih ketat di papan atas berpotensi meningkatkan kualitas pertandingan dan daya tarik kompetisi, yang juga diikuti oleh para pemain Asia Tenggara. Selain itu, kebangkitan klub-klub seperti Paris FC yang sebelumnya tidak diperhitungkan menunjukkan bahwa Ligue 1 tidak lagi sekadar milik satu atau dua tim.
Pelatih Monaco, Adi Hรผtter, menilai kemenangan ini sebagai hasil kerja keras tim dan menegaskan bahwa target mereka adalah konsistensi. "Kami tahu kualitas Marseille, tetapi kami bermain sebagai satu kesatuan. Dua gol Brunner adalah buah dari pressing yang baik dan transisi cepat," ujarnya dalam konferensi pers usai laga. Sementara itu, De Zerbi mengakui timnya kurang tajam di depan gawang dan harus segera membenahi penyelesaian akhir.
Dengan awal musim yang tidak biasa ini, pertanyaan besarnya adalah mampukah PSG bangkit dan mengejar ketertinggalan? Jadwal padat dan tekanan publik akan menjadi ujian bagi Luis Enrique untuk merombak strategi. Sementara itu, Monaco dan Paris FC akan berusaha mempertahankan momentum. Jika tren ini berlanjut, Ligue 1 musim ini bisa menjadi salah satu musim paling kompetitif dalam satu dekade terakhir.



