Fabregas Akui Belajar dari Milan, Puji Milla sebagai Rekrutan Terlupakan
Baca dalam 60 detik
- Kemenangan perdana Fabregas atas Allegri setelah musim lalu gagal menaklukkan Milan, dengan skor 2-1 di Napoli.
- Luis Milla dinilai sebagai gelandang yang kerap diremehkan di Spanyol, namun kini menjadi andalan Como di lini tengah.
- Como masih berburu striker baru untuk menopang jadwal padat, dengan Douvikas tak mampu bermain di semua kompetisi.

Kemenangan tipis 2-1 atas Napoli di Stadio Maradona, Minggu (25/8), bukan sekadar tiga poin bagi Como. Lebih dari itu, ini adalah penaklukan pertama pelatih Cesc Fabregas atas Massimiliano Allegri, sosok yang musim lalu kerap menjadi mimpi buruknya di Serie A. Fabregas pun tak menyembunyikan kebanggaannya, sambil melontarkan pujian khusus untuk gelandang anyarnya, Luis Milla.
Musim lalu, Como dua kali bersua AC Milan dan selalu pulang dengan tangan hampa: sekali kalah dan sekali imbang. Bahkan, pada laga kedua di San Siro, Fabregas sempat terlibat adu mulut dengan Allegri. Kini, kemenangan atas Napoli yang diasuh Allegri terasa begitu manis. Gol dari Martin Baturina dan Anastasios Douvikas memastikan tiga poin, sekaligus menjadi pembuktian bahwa Como telah belajar dari kesalahan.
“Saya belajar banyak dari pertandingan terakhir melawan Milan,” ujar Fabregas kepada DAZN, seperti dikutip Football-Italia. “Hari ini kami mampu membaca permainan dengan baik. Babak pertama kami tampil sangat solid; di babak kedua, kami sadar sedang menghadapi pemain-pemain kelas dunia, tapi kami bertahan. Kualitas pemain pengganti mereka membuat saya mengira mereka punya lebih banyak pergantian. Sekarang rasanya seperti berada di sauna.”
Di tengah euforia kemenangan, Fabregas menyempatkan diri memuji Luis Milla. Gelandang berusia 31 tahun itu tampil sebagai starter untuk kedua kalinya beruntun, dan pelatih asal Spanyol itu menilai kualitasnya kerap terabaikan di negara asalnya. “Milla sangat diremehkan di Spanyol, tapi itu wajar. Ada begitu banyak pemain hebat sehingga kita cenderung melupakan yang lain, yang bukan Pedri atau Rodri,” kata Fabregas.
“Saya sudah mengikutinya sejak lama. Kariernya terus menanjak, dan sekarang waktunya dia bermain di Liga Champions. Kami memang mencoba membawa pemain muda ke sini, tapi saya senang untuknya dan banyak pemain lain.” Pujian ini menegaskan bahwa Milla bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian penting dari rencana jangka panjang Como.
Namun, di balik kebahagiaan itu, Fabregas juga menyimpan pekerjaan rumah. Douvikas, yang menjadi top skor Como musim lalu, sudah mencetak gol di dua laga pembuka, tetapi ia tak bisa dimainkan di semua kompetisi. “Saya jelas berharap ada striker. Douvikas tidak bisa bermain di Serie A, Coppa Italia, dan Liga Champions sekaligus,” aku Fabregas. “Musim lalu kami kesulitan dengan Morata yang cedera tiga bulan. Ingat, kami sering bermain dengan false nine. Bermain setiap tiga hari di level ini tidak mudah.”
Como kabarnya tengah bernegosiasi dengan Fiorentina untuk mendatangkan Moise Kean. Jika kesepakatan tercapai, lini serang Como akan semakin tajam. Namun, hingga bursa transfer ditutup, Fabregas harus pandai-pandai merotasi pemain agar performa tim tetap konsisten.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kisah Como ini menarik untuk disimak. Bagaimana tidak, klub yang baru promosi ke Serie A ini berani bermimpi besar dengan merekrut pemain-pemain berpengalaman dan melatih mereka dengan filosofi yang jelas. Keberanian Fabregas memadukan pemain muda dan senior seperti Milla bisa menjadi pelajaran bagi klub-klub Indonesia yang sedang membangun skuad jangka panjang.
Pertanyaannya, akankah Como mampu mempertahankan performa ini hingga akhir musim? Dengan jadwal padat dan persaingan ketat di Serie A, konsistensi menjadi kunci. Fabregas tampaknya sadar betul akan tantangan itu, dan ia tengah menyiapkan segala sesuatunya dengan matang.



