Fabregas: Como Bangun Skuad Bertahap demi Level Liga Champions, Waspadai Jebakan Napoli
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Como, Cesc Fabregas, menegaskan timnya tengah melakukan rekonstruksi skuad secara bertahap untuk bersaing di Liga Champions musim ini.
- Pertandingan melawan Napoli di Stadio Diego Armando Maradona menjadi ujian awal seberapa siap Como menghadapi atmosfer kompetisi Eropa yang jauh lebih intens.
- Fabregas menyoroti pentingnya penguasaan bola dan kecerdasan bermain, terutama di tengah cuaca panas, serta mengapresiasi mentalitas pemain mudanya seperti Mattia Liberali.

Cesc Fabregas, pelatih Como, mengingatkan bahwa timnya tengah berada dalam fase transisi menuju level yang lebih tinggi, dengan target utama adalah beradaptasi dengan kerasnya persaingan Liga Champions. Jelang laga tandang melawan Napoli di Stadio Diego Armando Maradona, Fabregas menekankan pentingnya bermain cerdas dan tidak sekadar mengandalkan fisik, terutama di tengah teriknya cuaca Italia selatan.
Como memulai musim Serie A dengan hasil yang kurang memuaskan setelah hanya bermain imbang 1-1 melawan Udinese di kandang. Hasil tersebut menjadi sinyal bahwa proses adaptasi para pemain anyar masih berjalan, mengingat banyaknya wajah baru di skuad Lariani. Selain itu, beberapa rekrutan lain masih diharapkan datang, termasuk penyerang Fiorentina, Moise Kean, yang kabarnya akan segera bergabung.
Fabregas, yang pernah merasakan atmosfer LaLiga dan Premier League sebagai pemain, mengakui bahwa Liga Champions memiliki tingkat kesulitan yang berbeda. "Jika tidak siap, Anda bisa kalah 5-0 atau 6-0," ujarnya kepada DAZN Italia. Untuk itu, Como tidak hanya mendatangkan pemain berkualitas, tetapi juga yang memiliki pengalaman di pentas Eropa. Namun, Fabregas menggarisbawahi bahwa sekadar mengumpulkan individu-individu hebat tidak otomatis membuat tim menjadi kuat. "Kami perlu bekerja sebagai satu kesatuan," tegasnya.
Musim lalu, Como finis di posisi keempat Serie A dan menembus semifinal Coppa Italia. Namun, status sebagai tim kejutan kini mulai pudar, dan ekspektasi publik pun meningkat. Fabregas menegaskan bahwa ia tidak merasa ada perubahan status yang signifikan. "Sejak saya melatih Como, kami naik dari Serie B ke Liga Champions dalam beberapa tahun. Kami harus tenang dan tahu tanggung jawab kami," katanya. Ia juga menyoroti pentingnya mentalitas, terutama bagi pemain muda seperti Mattia Liberali, yang musim lalu sempat tidak bermain selama enam bulan namun berhasil menjadi pemain terbaik Serie B.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, perjalanan Como ini menarik untuk disimak. Kebangkitan klub yang dimiliki pengusaha Indonesia, PT Djarum, melalui grup Sampoerna, menunjukkan bahwa investasi jangka panjang dan pembinaan yang sabar bisa membawa klub kecil bersaing di level tertinggi Eropa. Kehadiran pemain-pemain muda berbakat seperti Liberali juga menjadi inspirasi bagi pengembangan sepak bola usia muda di Indonesia, yang kerap kali kurang sabar dalam membina talenta.
Fabregas juga menyoroti pentingnya penguasaan bola untuk mengontrol tempo permainan, terutama di tengah cuaca panas yang bisa menguras stamina. "Jika kami hanya berlari mengejar bola, kami akan cepat lelah. Penting untuk memegang bola dan mengatur ritme," jelasnya. Strategi ini akan diuji saat menghadapi Napoli, tim yang dikenal agresif dan memiliki kualitas individu mumpuni. Pertanyaannya, apakah Como mampu tampil konsisten dan membuktikan bahwa mereka layak berada di panggung Liga Champions, atau justru menjadi bulan-bulanan di kompetisi paling bergengsi di Eropa tersebut?



