Inggris di Ambang Kemenangan: Pakistan Terpuruk 53-3 di Lord's
Baca dalam 60 detik
- Tim tuan rumah hanya butuh 7 wicket lagi untuk memenangkan seri di Lord's setelah Pakistan kehilangan 3 wicket sebelum lunch.
- Mohammad Abbas tampil gemilang dengan 9 wicket dalam pertandingan, namun dukungan dari rekan setimnya minim.
- Kemenangan ini akan menjadi yang pertama bagi Inggris di kandang dalam dua tahun, menandai kebangkitan mereka di kancah Test.

London, 30 Agustus โ Inggris semakin dekat dengan kemenangan perdana di kandang dalam dua tahun setelah sukses membungkam Pakistan pada 53-3 saat jeda lunch di hari keempat Test kedua di Lord's, Minggu. Dengan target 389 yang harus dikejar untuk menyamakan kedudukan, Pakistan justru tampil limbung di hadapan kecepatan bola yang dihadirkan para bowler Inggris.
Ollie Robinson menjadi mimpi buruk bagi Pakistan. Ia memecah kebuntuan dengan menjebak Azan Awais LBW, lalu tiga bola kemudian menghancurkan stumps Abdullah Shafique dengan yorker yang memukau. Dalam sekejap, Pakistan kehilangan dua wicket dan hanya mengantongi tujuh run. Babar Azam, kapten tim tamu, mencoba melawan balik, namun upayanya berujung petaka ketika ia gagal mengantisipasi bouncer ganas dari Jofra Archer. Bola mengarah ke helmnya dan melambung ke tangan Jordan Cox di third slip, membuat Pakistan terpuruk pada 14-3.
Shan Masood dan Saud Shakeel mencoba bertahan hingga jeda, namun tugas mereka tampak mustahil. Inggris, yang sebelumnya mengumpulkan 208 di babak pertama, kini hanya butuh tujuh wicket lagi untuk memastikan kemenangan seri. Momentum ini menjadi bukti kebangkitan tim asuhan Brendon McCullum yang sebelumnya kesulitan meraih hasil positif di kandang.
Di sisi lain, penampilan Mohammad Abbas menjadi satu-satunya titik terang bagi Pakistan. Bowler veteran ini tampil impresif dengan memungut lima wicket di babak kedua Inggris, melengkapi total sembilan wicket dalam pertandingan. Namun, dukungan dari rekan setimnya nyaris tidak ada, membuat upaya heroiknya sia-sia. Imam-ul-Haq, pembuka Pakistan, bahkan tidak bisa ikut bermain karena cedera, memperparah situasi tim tamu.
Bagi Indonesia, momen ini mengingatkan pada pentingnya kedalaman skuad dan ketahanan mental dalam kriket. Meski kriket bukan olahraga utama di Tanah Air, perkembangan tim nasional Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa konsistensi dan pembinaan pemain muda adalah kunci. Keberhasilan Inggris yang mengandalkan bowler muda seperti Robinson dan Archer bisa menjadi pelajaran berharga bagi pengembangan kriket di Asia Tenggara.
Dengan kondisi ini, Pakistan harus melakukan keajaiban untuk menghindari kekalahan. Sejarah mencatat, hanya sedikit tim yang mampu mengejar target di atas 350 di Lord's. Pertanyaan besarnya: mampukah Masood dan Shakeel bertahan, atau akankah Inggris merayakan kemenangan sebelum tea? Semua akan terjawab dalam beberapa jam ke depan.



