Ketegangan Diplomatik di Balik Lord's: PCB Ancam Batalkan Tur Inggris, Pelatih Pakistan Klaim Tak Tahu
Baca dalam 60 detik
- PCB mengancam membatalkan sisa tur Inggris jika wawancara putra Imran Khan disiarkan Sky Sports, namun versi singkat tetap tayang.
- Pelatih Sarfaraz Ahmed membantah mengetahui ancaman tersebut, menegaskan tim fokus pada pertandingan.
- Insiden ini menyoroti sensitivitas politik kriket Pakistan, dengan implikasi bagi hubungan bilateral dan penyelenggaraan tur internasional.

Ancaman pembatalan tur yang dilontarkan Pakistan Cricket Board (PCB) kepada England and Wales Cricket Board (ECB) buntut rencana penayangan wawancara putra Imran Khan oleh Sky Sports nyaris menggagalkan kelanjutan Test kedua di Lord's. Pelatih kepala Pakistan, Sarfaraz Ahmed, dengan tegas membantah mengetahui adanya ultimatum tersebut, seraya menegaskan bahwa dirinya dan para pemain hanya fokus pada pertandingan.
Ketegangan muncul saat jeda makan siang pada hari pertama, ketika Sky Sports menayangkan wawancara eksklusif dengan Suleiman dan Kasim Khan, putra dari mantan kapten dan perdana menteri Pakistan, Imran Khan. Dalam wawancara yang dilakukan mantan kapten Inggris, Michael Atherton, kedua putra Imran menyuarakan kekhawatiran atas perawatan dan keamanan ayah mereka yang telah mendekam di penjara sejak 2023, serta mengkritik respons pemerintah Inggris. Sebelum tayang, Sky dikabarkan menerima keluhan terkait rencana tersebut.
Menurut sumber internal, PCB sempat mengisyaratkan akan membatalkan Test di Lord's dan sisa tur tiga pertandingan jika wawancara itu tetap disiarkan. Meski demikian, versi singkat wawancara tetap mengudara, dan para pemain Pakistan kembali ke lapangan setelah jeda untuk melanjutkan pertandingan. Sarfaraz, saat ditanya awak media di akhir hari kedua, mengaku tidak mengetahui apa-apa. "Saya tidak tahu apa-apa. Saya hanya fokus pada pertandingan," ujarnya. "Anda berbicara tentang wawancara? Kami tidak tahu tentang wawancara itu."
Ketegangan ini mencuat di tengah situasi politik yang pelik di Pakistan. Imran Khan, legenda kriket yang memimpin Pakistan meraih gelar Piala Dunia 1992, telah dipenjara sejak 2023 atas tuduhan korupsi yang ia bantah. Menariknya, ketua PCB, Mohsin Naqvi, juga menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri Pakistan. Kondisi ini memunculkan spekulasi bahwa ancaman pembatalan tur bukan murni keputusan olahraga, melainkan bagian dari tekanan politik yang lebih luas.
ECB sendiri merespons ketegangan ini dengan berkonsultasi ke pemerintah Inggris melalui Foreign, Commonwealth and Development Office. Sementara itu, penyiar publik Pakistan, PTV, yang menggunakan gambar dari Sky, memilih tidak menayangkan wawancara tersebut. Hingga akhir hari kedua, Sky mengaku tidak menerima keluhan lanjutan. Pertandingan sendiri berlanjut dengan Inggris unggul 261 run dan berada di posisi 81-3 pada innings kedua.
Insiden ini mengingatkan pada sejarah kelam kriket Pakistan-Inggris. Pada 2006, Test di The Oval ditinggalkan setelah Pakistan dituduh melakukan ball tampering, dan menjadi satu-satunya kasus dalam sejarah Test di mana sebuah tim dinyatakan kalah karena menolak bermain. Kini, hampir dua dekade kemudian, politik kembali merusak citra kriket Pakistan di panggung internasional.
Bagi Indonesia, meski kriket bukan olahraga utama, insiden ini menjadi pelajaran tentang bagaimana politik dan olahraga saling terkait erat di kawasan Asia Selatan. Ketegangan semacam ini dapat memengaruhi stabilitas regional dan iklim investasi, terutama jika melibatkan tokoh politik senior. Selain itu, bagi para penggemar kriket di Indonesia yang mulai tumbuh, kejadian ini menunjukkan bahwa di balik pertandingan, ada dinamika geopolitik yang kompleks.
Ke depan, ECB dijadwalkan kembali ke Pakistan pada Oktober untuk mengikuti tri-series satu hari melawan tuan rumah dan Sri Lanka. Ini akan menjadi kunjungan keempat Inggris ke Pakistan dalam empat tahun terakhir, setelah jeda 17 tahun akibat masalah keamanan. Pertanyaannya, akankah insiden ini memengaruhi rencana tur tersebut? Atau justru menjadi katalis untuk memperbaiki hubungan kedua negara? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi yang jelas, kriket Pakistan kembali diuji oleh politik.



