Ilmuwan Material Liu Jiawei Pindah ke Hong Kong demi Riset Hijau dan Kedekatan Keluarga
Baca dalam 60 detik
- Liu Jiawei, peneliti elektrosintesis, memilih Hong Kong sebagai basis laboratorium baru setelah satu dekade di Singapura.
- Hong Kong menawarkan otonomi riset dan akses pendanaan ganda, faktor kunci bagi peneliti muda.
- Langkah ini menyoroti pergeseran pusat riset kimia hijau di Asia, dengan implikasi bagi Indonesia.

Setelah satu dekade berkutat di ekosistem riset Singapura, ilmuwan material Liu Jiawei memutuskan membangun laboratorium sendiri di Hong Kong—keputusan yang ia nilai sebagai langkah strategis untuk mendekatkan diri ke keluarga di daratan Tiongkok tanpa mengorbankan standar akademik internasional.
Kini, dua tahun sejak kepindahannya, Liu tengah merintis kelompok riset di City University of Hong Kong (CityU). Ia menggarisbawahi bahwa lanskap akademik Hong Kong menganut model principal investigator independen, yang memberi keleluasaan besar bagi peneliti untuk menentukan arah laboratorium. Di sisi lain, kolaborasi lintas kelompok juga digalakkan, dengan banyak proyek bersama antar tim riset.
"Singapura dan Hong Kong cukup mirip dalam hal lingkungan riset dan atmosfer akademik. Saya memilih Hong Kong karena ingin lebih dekat dengan keluarga di daratan Tiongkok dan mengembangkan karier di kota yang menawarkan lanskap riset serupa dengan Singapura," ujar Liu, merujuk pada keberagaman dan koneksi kedua kota ke daratan Tiongkok serta Barat.
Perjalanan akademik Liu dimulai dari Nanyang Technological University (NTU), tempat ia meraih gelar sarjana teknik kimia dan doktor bidang ilmu serta teknik material pada 2021. Ia kemudian menjalani riset pascadoktoral di NTU dan Agency for Science, Technology and Research (A*STAR) Singapura selama tiga tahun. Sebelum bergabung dengan CityU pada April lalu sebagai asisten profesor di bawah penunjukan bersama antara sekolah energi dan lingkungan serta departemen kimia, Liu sempat mengajar di Hong Kong University of Science and Technology.
Fokus riset Liu berada di persimpangan kimia, ilmu material, dan energi terbarukan, khususnya elektrosintesis bahan kimia—alternatif hijau untuk proses industri konvensional yang sarat emisi karbon. Data Climate Bonds Initiative menunjukkan sektor kimia merupakan konsumen energi industri terbesar dunia, memakai 30 persen energi industri dan menyumbang sekitar 5 persen emisi gas rumah kaca global. Bahan kimia dasar seperti olefin, aromatik, metanol, dan amonia—yang menjadi kunci produksi barang konsumen—menyumbang 60 persen emisi CO2 langsung sektor ini.
Liu menjelaskan, elektrosintesis memanfaatkan elektron untuk mendorong reaksi oksidasi dan reduksi, sebuah proses yang bersih dan ramah lingkungan. "Proses kimia tradisional sangat bergantung pada bahan bakar fosil, sering membutuhkan suhu dan tekanan tinggi, serta melibatkan zat berbahaya. Menggunakan elektron adalah cara yang bersih, hijau, dan lembut," katanya. Risetnya telah menjangkau senyawa seperti amonia, urea, dan formamida, dan ia berencana memperluas ke asam amino. Ia juga menekankan pemilihan substrat yang selektif, seperti CO2 dan turunan biomassa sebagai sumber karbon, serta nitrogen atau nitrat sebagai sumber nitrogen—sebuah konsep "mengubah sampah menjadi harta".
Meski elektrosintesis masih dalam tahap awal dan menghadapi tantangan skala industri, kelompok riset Liu berupaya meningkatkan efisiensi melalui pengembangan katalis baru, pengaturan mikro-elektroda, dan optimasi rekayasa reaktor. "Kami bertujuan meningkatkan hasil produksi dan selektivitas, mengurangi produk sampingan yang tidak diinginkan," ujarnya. Timnya juga fokus pada riset fundamental mekanisme reaksi, khususnya transfer elektron antara elektroda dan reaktan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat industri kimia nasional masih bergantung pada teknologi konvensional. Adopsi elektrosintesis dapat menjadi peluang untuk menekan emisi dan memanfaatkan sumber daya hayati yang melimpah. Namun, dibutuhkan investasi riset dan kolaborasi internasional yang kuat. Pertanyaannya, akankah Indonesia mulai melirik teknologi hijau ini sebelum negara tetangga melaju lebih jauh?



