Menatap Ashes 2025: Bagaimana Inggris Membangun Serangan Pace yang Siap Menggoyang Australia
Baca dalam 60 detik
- Empat bowler cepat Inggris, Robinson, Archer, Tongue, dan Atkinson, tampil impresif dengan gaya saling melengkapi, membungkam Pakistan di Lord's.
- Kombinasi kecepatan dan akurasi menjadi senjata utama, dengan Robinson unggul dalam kontrol dan Tongue dalam akurasi menyerang tunggak.
- Menjelang Ashes 2025 di kandang, formasi pace attack ini dinilai mampu menjadi pembeda, meski tanpa kehadiran spinner.

LORD'S โ Inggris sepertinya menemukan formula baru dalam lini pace attack mereka. Setelah ditinggal pensiun Ben Stokes, empat bowler cepat yang diturunkan melawan Pakistan pada Tes kedua di Lord's, Jumat (30/8), berhasil membuktikan diri sebagai kekuatan yang patut diperhitungkan. Mereka membatasi Pakistan hanya 110 run, dan yang lebih penting, menunjukkan variasi yang saling melengkapi.
Kapten Joe Root, yang sebelumnya memimpin kemenangan di Headingley, mengakui bahwa kelompok bowler ini memiliki potensi yang belum tergali maksimal. "Mereka belum tahu seberapa bagus mereka nantinya," ujarnya, sambil menyoroti variasi yang mereka tawarkan. Menurut Root, generasi ini lebih unggul dari periode sebelumnya ketika ia mengandalkan James Anderson, Stuart Broad, Chris Woakes, dan Stokes yang semuanya right-arm seam.
Perbedaan paling mencolok dari kuartet baru ini adalah kecepatan. Jofra Archer tercatat menembus 95 mph dalam spell pembuka tercepat dalam kariernya, sementara Ollie Robinson 'hanya' berada di kisaran 78 mph. Namun, kecepatan bukanlah segalanya. Robinson membuktikan bahwa akurasi bisa menjadi senjata mematikan. Dalam Tes ini, ia mengambil 4 wicket dengan hanya kebobolan 11 run dari 13 over, sebuah catatan ekonomi terbaik untuk bowler pace dengan 10 over atau lebih di Inggris dalam 13 tahun terakhir.
Mantan kapten Inggris, Michael Vaughan, menilai bahwa serangan ini akan menjadi ujian nyata bagi Australia. "Mereka semua bisa berkembang, dan itu pertanda baik. Jika mereka bisa tampil seperti ini, mereka akan merepotkan Australia," katanya. Vaughan juga menyoroti Robinson sebagai 'tone-setter' yang selama ini dinantikan, dengan kemampuan luar biasa dalam mengontrol line and length.
Analisis lebih dalam menunjukkan bahwa setiap bowler memiliki peran spesifik. Archer unggul dalam kecepatan dan efektif melawan batsman kidal, dengan rata-rata 23.9 dibanding 31.3 melawan tangan kanan. Sementara Tongue, dengan posisi crease yang lebar (96.4 cm dari stumps), menjadi spesialis serangan ke tunggak. Data menunjukkan 22% dari delivery-nya di seri ini berpotensi menghantam stumps, dan di Headingley angkanya mencapai 29% โ tertinggi untuk bowler Inggris dalam 15 tahun. Atkinson, yang baru setahun di Tes cricket, melengkapi dengan akurasi dan kecepatan di atas rata-rata.
Komentator BBC, Jonathan Agnew, menyebut serangan ini seimbang namun tanpa spinner. "Anda ingin bowler yang bisa swing, yang punya pace, yang bisa reverse swing, dan yang bisa kerja keras. Ini seimbang, tapi tanpa spinner," ujarnya. Meski begitu, Agnew menilai Tongue adalah yang paling berkembang di antara mereka.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menarik untuk dicermati, terutama dalam konteks pembinaan bowler muda. Pelajaran yang bisa diambil adalah pentingnya variasi dan peran yang jelas dalam sebuah tim. Jika Inggris bisa membangun serangan pace yang menakutkan dengan kombinasi kecepatan dan akurasi, bukan tidak mungkin negara-negara lain, termasuk Indonesia, bisa mengadopsi pendekatan serupa dalam mengembangkan kriket di tingkat domestik.
Dengan Ashes di kandang kurang dari setahun lagi, Inggris tampaknya berada di jalur yang tepat. Pertanyaannya, apakah kombinasi ini akan cukup untuk menjegal Australia yang dikenal tangguh? Atau justru menjadi awal dari era baru kejayaan pace attack Inggris? Hanya waktu yang akan menjawab, namun sinyal positif sudah terlihat di Lord's.



