Misi Chang'e-7: China Berburu Es di Kutub Selatan Bulan, Pijakan Awal Stasiun Luar Angkasa
Baca dalam 60 detik
- Chang'e-7 akan diluncurkan pekan depan dari Hainan, membawa penjelajah dan robot pelompat untuk mencari air beku di kawah yang tak pernah tersentuh cahaya.
- Misi ini merupakan batu loncatan bagi ambisi China mendirikan basis permanen di Bulan, dengan target pendaratan awak sebelum 2030.
- Keberhasilan menemukan es air akan memangkas biaya suplai dari Bumi dan membuka peluang eksplorasi ruang angkasa yang lebih jauh.

China bersiap meluncurkan misi Chang'e-7, wahana antariksa tanpa awak yang dirancang untuk memburu cadangan air beku di kawah gelap abadi dekat kutub selatan Bulan. Misi ini menjadi tonggak terbaru dalam ambisi Beijing membangun kehadiran manusia permanen di satelit alami Bumi, dengan target pendaratan astronot sebelum 2030 dan stasiun riset bersama Rusia pada 2035.
Chang'e-7, yang dinamai sesuai dewi Bulan dalam mitologi Tiongkok, akan membawa tiga wahana: pendarat, penjelajah roda, dan robot pelompat inovatif. Ketiganya akan mendarat di salah satu wilayah terdingin di tata surya, di mana suhu bisa mencapai -203 derajat Celsius. Peluncuran dijadwalkan pekan depan dari Pusat Peluncuran Luar Angkasa Wenchang di Provinsi Hainan, menggunakan roket Long March 5. Muatannya mencakup penganalisis air, kamera, dan radar untuk memetakan potensi lokasi pendaratan.
Fokus utama misi ini adalah kawah Shackleton, sebuah depresi yang selalu berada dalam bayangan. Meski tepian kawah itu hampir terus-menerus terkena sinar matahari, dasarnya gelap gulita dan belum pernah disinari selama miliaran tahun. Para ilmuwan meyakini kawah semacam ini berfungsi seperti lemari es raksasa yang mengawetkan air purba dan senyawa organik volatil. Keberadaan air sangat krusial: selain untuk konsumsi, air dapat diurai menjadi oksigen dan hidrogen untuk bahan bakar roket, mengurangi ketergantungan pada pasokan dari Bumi.
Robot pelompat menjadi andalan misi ini. Dilengkapi penganalisis molekul air, robot ini akan melompat ke dasar kawah yang curam, mendarat dengan enam kaki berengsel, lalu kembali ke tepian yang terang untuk mengisi daya. Menurut laporan Xinhua, robot ini dijadwalkan melakukan setidaknya tiga lompatan selama misi. Detail teknis seperti berat dan jangkauan terbang belum diungkap, menandakan tingkat kerahasiaan yang masih tinggi.
Persaingan menuju kutub selatan Bulan semakin ketat. Amerika Serikat, India, dan Rusia juga mengincar wilayah ini. India sukses mendarat di dekat kutub selatan melalui misi Chandrayaan-3 pada 2023. Sementara itu, NASA menyiapkan penjelajah VIPER, Badan Antariksa Eropa mengembangkan paket pengeboran PROSPECT, dan Jepang-India menggarap penjelajah LUPEX. Kehadiran banyak aktor ini menegaskan bahwa kutub selatan Bulan adalah kunci masa depan eksplorasi ruang angkasa.
Bagi Indonesia, perlombaan antariksa ini membuka peluang kolaborasi dan pengembangan kapasitas teknologi. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dapat menjajaki kerja sama dengan China atau negara lain dalam riset antariksa, terutama di bidang penginderaan jauh dan teknologi satelit. Selain itu, keberhasilan misi ini dapat menginspirasi generasi muda Indonesia untuk menekuni sains dan teknologi, sejalan dengan upaya pemerintah mendorong hilirisasi industri dan riset.
Ke depan, data dari Chang'e-7 dan Chang'e-8 akan menjadi fondasi bagi rencana China membangun stasiun riset permanen di kutub selatan Bulan. Namun, tantangan teknis dan biaya yang besar masih menghadang. Pertanyaannya, akankah es air yang dicari benar-benar ditemukan dan dapat dimanfaatkan? Jawabannya akan menentukan langkah berikutnya dalam eksplorasi manusia di luar Bumi.



