Teleskop Luar Angkasa Nancy Grace Roman: Misi Baru NASA Mengungkap Misteri Energi Gelap dan Planet di Luar Tata Surya
Baca dalam 60 detik
- NASA akan meluncurkan teleskop luar angkasa Nancy Grace Roman pada Minggu (25/8) untuk mempelajari energi gelap, materi gelap, dan exoplanet.
- Dengan biaya sekitar US$4 miliar, teleskop ini dijadwalkan lepas landas lebih cepat sembilan bulan dari rencana awal menggunakan roket Falcon Heavy milik SpaceX.
- Misi lima tahun ini diharapkan memetakan lebih dari dua miliar galaksi dan menguji teori relativitas Einstein dalam skala kosmik.

Badan antariksa Amerika Serikat (NASA) bersiap meluncurkan observatorium luar angkasa andalan terbarunya, Teleskop Luar Angkasa Nancy Grace Roman, yang dirancang untuk menguak misteri terbesar alam semesta—mulai dari energi gelap, materi gelap, hingga uji gravitasi dalam skala raksasa serta perburuan planet di luar tata surya. Peluncuran dijadwalkan pada Minggu (25/8) dari Kennedy Space Center, Florida, menggunakan roket Falcon Heavy milik SpaceX, dan menariknya, misi ini berjalan sembilan bulan lebih cepat dari jadwal yang direncanakan.
Teleskop yang menelan biaya sekitar US$4 miliar ini merupakan penerus dari Teleskop Luar Angkasa Hubble yang diluncurkan pada 1990 dan James Webb yang mulai beroperasi pada 2021. Berbeda dengan pendahulunya, Roman memiliki kemampuan survei langit yang sangat luas dan cepat, memungkinkan para ilmuwan untuk mempelajari struktur, komposisi, dan evolusi kosmos dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dengan bidang pandang yang lebar, teleskop ini diharapkan dapat menemukan objek-objek aneh, langka, dan tidak biasa di alam semesta.
"Jangkauan Roman yang luas akan memungkinkan kita menemukan yang aneh, yang langka, dan yang tidak biasa," ujar Julie McEnery, ilmuwan proyek senior Roman di Goddard Space Flight Center NASA, Maryland. Survei utama teleskop ini akan berlangsung lebih dari satu tahun dan mencakup lebih dari dua miliar galaksi. "Kita akan mempelajari bagaimana struktur alam semesta—bintang, galaksi, gugus galaksi—tumbuh dan berevolusi, serta mengukur perluasan alam semesta dari waktu ke waktu. Ini adalah kunci untuk mengungkap sifat fundamental materi gelap, energi gelap, dan jalinan alam semesta itu sendiri," tambahnya.
Energi gelap dan materi gelap merupakan dua misteri terbesar dalam kosmologi modern. Sejak Big Bang sekitar 13,8 miliar tahun lalu, alam semesta terus mengembang. Pada 1998, para ilmuwan menemukan bahwa ekspansi ini justru semakin cepat, dan energi gelap diduga menjadi penyebabnya. Materi biasa—bintang, planet, gas, debu—hanya menyumbang sekitar 5 persen dari isi alam semesta. Materi gelap, yang diketahui melalui pengaruh gravitasinya, diperkirakan mencapai 27 persen, sementara energi gelap sekitar 68 persen.
Pertanyaan mendasar yang ingin dijawab Roman adalah apakah energi gelap merupakan properti ruang kosong yang konstan atau justru berubah seiring waktu. Mustapha Ishak, kosmolog dari University of Texas at Dallas yang tergabung dalam kolaborasi ilmiah Roman, mengungkapkan bahwa hasil terbaru dari DESI (Dark Energy Spectroscopic Instrument) memberikan petunjuk menarik tentang evolusi energi gelap. "Mungkinkah percepatan ekspansi ini justru mengindikasikan bahwa teori gravitasi kita perlu dimodifikasi pada skala terbesar? Menjawab pertanyaan ini adalah salah satu tujuan terpenting kosmologi modern," katanya.
Roman juga akan menguji teori relativitas umum Einstein yang diperkenalkan pada 1915. Dengan memetakan penggumpalan galaksi dan pembelokan cahaya melalui fenomena pelensaan gravitasi, teleskop ini akan memeriksa apakah teori tersebut tetap berlaku dalam jarak miliaran tahun cahaya. "Pengukuran ini memungkinkan kita menguji apakah teori Einstein tetap valid atau memerlukan modifikasi," jelas Ishak. "Ini penting karena menyentuh pertanyaan paling fundamental dalam fisika: hukum apa yang mengatur alam semesta pada skala terbesar?"
Selain itu, Roman akan melakukan pencarian exoplanet paling komprehensif. Hingga saat ini, lebih dari 6.350 exoplanet telah ditemukan. Roman diharapkan menemukan ribuan planet baru dan memberikan sensus statistik pertama sistem planet yang mirip dengan tata surya kita. Teleskop ini juga akan mendemonstrasikan teknologi baru untuk pencitraan langsung exoplanet yang relatif dekat.
Setelah diluncurkan, Roman akan menuju Lagrange Point 2, sekitar 1,6 juta kilometer dari Bumi—empat kali jarak ke Bulan—di mana Teleskop Webb juga berada. Misi utama direncanakan berlangsung lima tahun, dengan kemungkinan perpanjangan lima tahun lagi berkat cadangan bahan bakar. Menariknya, upaya pengurangan anggaran yang dilakukan pemerintahan Donald Trump pada dua periode kepresidenannya gagal menghentikan proyek ini karena Kongres AS mempertahankan pendanaannya.
Bagi Indonesia, misi Roman membuka peluang kolaborasi riset antariksa dan astronomi. Para peneliti Indonesia dapat mengakses data publik dari teleskop ini untuk studi kosmologi, pembentukan galaksi, dan karakterisasi exoplanet. Selain itu, kemajuan teknologi antariksa ini dapat menginspirasi pengembangan sumber daya manusia di bidang sains dan teknologi di tanah air. Namun, pertanyaan besarnya adalah: seberapa siap Indonesia memanfaatkan data dan peluang yang ditawarkan misi ini untuk memperkuat posisinya dalam peta riset astronomi global?



