Kapolri Temui 6.500 Eks Anggota JI di Solo: Deradikalisasi dan Jalan Menuju Kontribusi Bangsa
Baca dalam 60 detik
- Kapolri Listyo Sigit Prabowo bertemu 6.500 mantan anggota JI yang tergabung dalam Garda Satya NKRI di Solo, menandai komitmen reintegrasi.
- Lebih dari 7.900 eks anggota JI di 28 provinsi telah mengikuti program pembinaan ekonomi yang difasilitasi Polri dan kementerian terkait.
- Pertemuan ini menjadi sinyal penguatan pendekatan lunak dalam deradikalisasi, dengan fokus pada kemandirian ekonomi dan kontribusi sosial.

Kepala Kepolisian RI Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyambangi 6.500 mantan anggota Jamaah Islamiyah (JI) yang kini bergabung dalam wadah Garda Satya NKRI di Solo, Jawa Tengah, pada Minggu (16/8). Langkah ini bukan sekadar seremoni, melainkan penegasan bahwa program deradikalisasi yang dijalankan kepolisian memasuki babak baru: dari sekadar pembinaan ideologi menuju pemberdayaan ekonomi dan sosial.
Pertemuan yang dirangkaikan dengan tasyakuran HUT ke-81 Kemerdekaan RI itu menjadi panggung bagi para eks kombatan untuk menunjukkan transformasi diri. Kapolri menyebut mereka memiliki kesadaran untuk kembali ke pangkuan NKRI dan bertekad mengaktualisasikan kemampuan di bidang kewirausahaan, ekonomi, hingga dakwah. "Mereka memiliki keterpanggilan untuk memberikan kontribusi nyata kepada negara," ujar Sigit di hadapan ribuan anggota yang hadir.
Di balik suasana akrab tersebut, terdapat pekerjaan rumah besar yang sedang digarap aparat. Komandan Densus 88 Anti Teror, Irjen Sentot Prasetyo, menegaskan komitmen penuh untuk mengawal proses reintegrasi. Hingga saat ini, tercatat 7.942 eks anggota JI di 28 provinsi telah aktif mengikuti program pembinaan dan pelatihan kemandirian ekonomi. Angka ini menunjukkan skala upaya yang tidak kecil, melibatkan koordinasi lintas kementerian dan lembaga.
Bagi Indonesia, fenomena ini memiliki arti strategis. Keberhasilan reintegrasi mantan teroris tidak hanya mengurangi potensi ancaman keamanan, tetapi juga mengubah mereka menjadi aset pembangunan. Program kemandirian ekonomi yang digagas Polri diharapkan mampu memutus mata rantai radikalisme dari akar ekonominya. Jika sebelumnya kelompok ini seringkali menjadi simpul pendanaan aksi teror, kini mereka diarahkan menjadi pelaku usaha produktif yang menopang pertumbuhan ekonomi lokal.
- 6.500 eks anggota JI dari Jatim, Jateng, dan DIY hadir dalam pertemuan di Solo.
- 7.942 eks anggota JI di 28 provinsi telah mengikuti program pembinaan ekonomi Polri.
- Pertemuan dirangkaikan dengan tasyakuran HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Para pengamat keamanan menilai pendekatan yang dilakukan kepolisian saat ini lebih humanis dibanding era sebelumnya. Fokus pada pemberdayaan ekonomi dianggap sebagai strategi jangka panjang yang lebih efektif daripada sekadar penindakan. Namun, tantangan tetap ada: memastikan program ini berkelanjutan dan tidak sekadar proyek seremonial. Pertanyaan tentang pendanaan, pendampingan usaha, serta pemantauan ideologi di lapangan masih menjadi pekerjaan rumah yang harus dijawab.
Kapolri sendiri mengapresiasi bertambahnya jumlah anggota Garda Satya, yang menandakan semakin banyak mantan kombatan yang memilih jalan damai. "Saya mewakili institusi Polri dan negara mengucapkan terima kasih," tambahnya. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa proses rekonsiliasi nasional pasca-konflik ideologi bukanlah utopia, melainkan realitas yang tengah dirajut.
Ke depan, keberhasilan program ini akan diuji melalui dampak nyata di masyarakat. Apakah para eks anggota JI mampu menjadi duta perdamaian dan penggerak ekonomi di daerahnya? Jawabannya akan menentukan apakah pendekatan lunak ini layak dijadikan model nasional dalam penanganan terorisme, atau justru memerlukan evaluasi lebih lanjut. Yang jelas, langkah Polri ini membuka lembaran baru dalam upaya menjaga keutuhan NKRI.



