Pengungsi Gempa NTT Turun 4.142 Orang, BNPB Fokus pada Hunian 27.414 Keluarga
Baca dalam 60 detik
- Jumlah pengungsi gempa NTT tercatat 188.161 orang per Minggu pagi, turun tipis dari hari sebelumnya.
- BNPB menyoroti kebutuhan mendesak hunian sementara atau relokasi bagi 27.414 keluarga yang rumahnya rusak berat.
- Aktivitas gempa susulan mulai mereda, namun diperkirakan masih berlangsung 3-4 minggu ke depan.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat penurunan jumlah pengungsi gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) sebanyak 4.142 orang per Minggu, 30 Agustus 2026. Berdasarkan data pukul 07.00 WIB, total pengungsi kini mencapai 188.161 jiwa, sebuah angka yang masih sangat besar dan menuntut penanganan serius di tengah ancaman gempa susulan.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, dalam konferensi pers di Jakarta, mengungkapkan bahwa konsentrasi pengungsi terbesar masih berada di Kabupaten Manggarai dengan 50.556 orang, disusul Nagekeo dengan 50.574 orang. Daerah lain seperti Manggarai Timur, Manggarai Barat, Ngada, Sikka, dan Ende juga masih menampung ribuan pengungsi. Penurunan jumlah ini, meski tipis, menunjukkan adanya pergerakan sebagian warga yang mulai kembali ke rumah atau pindah ke lokasi yang lebih aman.
Di balik angka tersebut, BNPB menyoroti kebutuhan mendesak akan hunian sementara atau relokasi bagi 27.414 keluarga yang rumahnya mengalami kerusakan berat. Total kerusakan rumah akibat gempa mencapai 95.567 unit, dengan rincian 46.161 rusak ringan, 21.992 rusak sedang, dan 27.414 rusak berat. Angka ini menjadi dasar bagi pemerintah untuk segera merancang skema pembangunan kembali yang tidak hanya memulihkan tempat tinggal, tetapi juga mempertimbangkan aspek keamanan dari potensi gempa susulan.
Korban jiwa akibat gempa yang mengguncang NTT sejak 15 Agustus 2026 tercatat 111 orang, dengan 1.631 orang luka-luka, terdiri dari 223 luka berat dan 1.408 luka ringan. Angka ini masih mungkin bertambah mengingat proses evakuasi dan pendataan yang terus berjalan. Sementara itu, aktivitas gempa susulan mulai menunjukkan penurunan, dengan total 9.765 kali getaran hingga Minggu pagi. Gempa susulan terbesar tercatat magnitudo 6,2, dan yang terkecil magnitudo 1,0. Dari jumlah tersebut, 155 kali dirasakan oleh masyarakat.
Berton memperkirakan rangkaian gempa susulan masih akan berlangsung sekitar tiga hingga empat minggu setelah gempa utama. "Sebanyak 155 gempa susulan dirasakan masyarakat. Rangkaian gempa susulan disebut mulai menunjukkan pola penurunan, meski diperkirakan masih dapat berlangsung sekitar 3โ4 minggu sejak gempa utama," ujarnya. Pernyataan ini menegaskan pentingnya kewaspadaan warga dan kesiapsiagaan aparat, terutama di daerah dengan tanah labil atau bangunan yang belum kokoh.
Bagi Indonesia, bencana ini menjadi ujian nyata bagi sistem penanggulangan bencana nasional, terutama dalam hal koordinasi antarlembaga dan kecepatan respons. Keputusan pemerintah pusat untuk menunggu rekomendasi BMKG sebelum membangun hunian tetap, seperti yang diinstruksikan Presiden Prabowo, menunjukkan pendekatan yang lebih hati-hati namun berisiko memperpanjang masa tinggal pengungsi di tenda-tenda darurat. Pertanyaannya, apakah logistik dan dukungan psikososial bagi 188 ribu jiwa mampu bertahan hingga proses relokasi selesai? Pengalaman bencana sebelumnya menunjukkan bahwa fase pemulihan seringkali lebih rumit daripada fase tanggap darurat.
Ke depan, pemerintah daerah dan pusat perlu mempercepat pemetaan lokasi relokasi yang aman, melibatkan ahli geologi untuk memastikan area bebas dari sesar aktif, serta menyiapkan anggaran yang memadai. Selain itu, transparansi data dan komunikasi publik harus dijaga agar tidak menimbulkan kepanikan atau ekspektasi yang tidak realistis. Masyarakat NTT yang terkena dampak membutuhkan kepastian, bukan hanya janji. Akankah pemerintah mampu mengubah angka-angka statistik ini menjadi aksi nyata yang meringankan beban mereka?



