Putin, Xi, dan Pezeshkian Berkumpul di Bishkek: Blok Regional Menantang Hegemoni Barat?
Baca dalam 60 detik
- Pertemuan puncak SCO di Kyrgyzstan dihadiri sekitar 12 kepala negara, termasuk pemimpin Rusia, China, dan Iran, untuk merayakan 25 tahun aliansi regional.
- Blok yang mencakup 40% populasi dunia ini berupaya memperkuat posisi tawar terhadap Barat, di tengah konflik Ukraina dan perang dagang yang melibatkan AS.
- Bagi Indonesia, dinamika SCO menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan hubungan dengan berbagai kekuatan global di tengah rivalitas yang meningkat.

Para pemimpin Rusia, China, dan Iran dijadwalkan bertemu di Bishkek, Kyrgyzstan, pada Senin (31/8) dalam KTT dua hari yang menandai seperempat abad Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO). Pertemuan ini menjadi panggung bagi negara-negara yang kerap berseberangan dengan Barat untuk menegaskan solidaritas dan visi tatanan dunia multipolar.
Selain Vladimir Putin dan Xi Jinping, Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Perdana Menteri India Narendra Modi, serta Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif akan hadir dalam sesi pleno yang dipimpin oleh Presiden Kyrgyzstan Sadyr Japarov. Kehadiran mereka terjadi di tengah eskalasi konflik global, termasuk perang di Ukraina yang telah berlangsung empat setengah tahun dan ketegangan antara Washington dan Teheran yang memasuki bulan keenam.
SCO, yang beranggotakan sepuluh negara termasuk empat negara Asia Tengah dan Belarus sekutu Rusia, telah lama menjadi wadah kerja sama ekonomi. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, blok ini semakin vokal mengkritik kebijakan Barat. Pada KTT tahun lalu, Putin menuduh negara-negara Barat memprovokasi perang Ukraina, sementara Xi mengecam "tindakan intimidasi" yang merujuk pada ketegangan AS-China. Kremlin mengonfirmasi bahwa Putin akan mengadakan pembicaraan bilateral terpisah dengan Pezeshkian dan Xi, sebuah sinyal penguatan aliansi di tengah tekanan sanksi.
Rusia dan Iran, dua negara yang paling banyak menerima sanksi internasional, telah memperdalam kerja sama militer dan ekonomi selama perang Ukraina. Kunjungan langka Direktur CIA John Ratcliffe ke Moskow beberapa hari sebelum KTT memicu spekulasi bahwa isu Ukraina dan Iran menjadi agenda pembicaraan. Sementara itu, AS baru-baru ini menjatuhkan sanksi sekunder terhadap mitra dagang Iran di sektor emas, teknologi, aset digital, penerbangan, dan maritim. China, importir utama minyak Iran, menyatakan akan "tegas membela kepentingannya", menunjukkan resistensi terhadap tekanan Washington.
Bagi Indonesia, dinamika SCO memiliki relevansi strategis. Sebagai negara yang menganut politik bebas aktif, Indonesia perlu mencermati bagaimana blok-blok regional seperti SCO membentuk ulang peta kekuatan global. Meskipun Indonesia bukan anggota SCO, kerja sama dengan negara-negara anggotanya, terutama China dan India, sangat penting bagi perdagangan dan investasi. Namun, meningkatnya rivalitas antara AS dan SCO menuntut Indonesia untuk semakin cermat dalam menjaga keseimbangan hubungan diplomatik dan ekonomi.
Menurut Mohammad Hassan Najmi, pakar hubungan internasional, Teheran meyakini bahwa keanggotaan aktif dalam aliansi seperti SCO dapat membantu menghindari sanksi AS dan Eropa. Namun, ia meragukan manfaat konkretnya, karena "dalam masa krisis, aliansi ini jarang membantu Iran menyelesaikan masalahnya". Keraguan ini mencerminkan tantangan internal SCO, yang anggotanya memiliki kepentingan yang beragam dan kadang bertentangan. Rusia dan China, misalnya, bersaing untuk memengaruhi Asia Tengah, kawasan kaya sumber daya yang menjadi jalur vital perdagangan antara Eropa dan Asia. Beijing juga memiliki hubungan yang tidak selalu harmonis dengan India dan Pakistan.
KTT ini berlangsung di tengah perang dagang yang melibatkan AS, China, dan India, serta konflik nyata di Ukraina dan Iran. Meskipun SCO menyatakan diri bukan aliansi yang ditujukan untuk melawan negara lain, retorika anti-Barat dari para pemimpinnya semakin nyata. Pertanyaannya, apakah blok ini mampu menjadi penyeimbang efektif bagi dominasi Barat, atau justru terjebak dalam kepentingan internal yang saling berbenturan? Jawabannya akan menentukan arah tatanan global di masa depan.



