Ruwatan Anak Gimbal di Dieng: Tradisi Hidup yang Menembus Zaman
Baca dalam 60 detik
- Tiga belas anak berambut gimbal menjalani ritual ruwatan di kompleks Candi Arjuna, Dieng, dalam gelaran Dieng Culture Festival 2026.
- Tradisi ini bukan sekadar atraksi wisata, melainkan wujud kepercayaan dan harapan keluarga yang terus diwariskan lintas generasi.
- Ke depan, pelestarian ruwatan berpotensi memperkuat identitas budaya sekaligus daya tarik pariwisata Dataran Tinggi Dieng.

Di tengah heningnya kompleks Candi Arjuna yang diselimuti kabut khas Dataran Tinggi Dieng, alunan tembang Dandanggula mengalun pelan, mengiringi prosesi sakral pemotongan rambut gimbal belasan anak. Sabtu akhir Agustus itu, 13 anak yang dalam tradisi setempat disebut anak bajang menjalani ruwatan, sebuah ritual pembersihan yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.
Ritual yang menjadi bagian dari Dieng Culture Festival (DCF) ke-16 ini bukanlah sekadar pertunjukan budaya untuk menarik wisatawan. Di balik gunting yang memangkas helai demi helai rambut gimbal, tersimpan doa, harapan, dan permintaan yang diajukan oleh anak-anak tersebut. Koordinator DCF XVI, Alif Faozi, mengungkapkan bahwa dari 40 anak yang didaftarkan orang tua mereka, hanya 13 yang terpilih mengikuti prosesi setelah melalui kurasi ketat. Kurasi ini, menurutnya, berkaitan dengan kemampuan panitia untuk memenuhi syarat atau permintaan yang diajukan oleh setiap anak bajang.
Permintaan itu beragam, mulai dari yang sederhana hingga yang mencerminkan kebutuhan modern. Kakak beradik Andien Checilia Shaquilla (9) dan Andien Cheeryl Shaqueenna (7) dari Wonosobo, misalnya, meminta dua ekor kambing kecil. Sementara Khanza Azkadina Sarvenaz Mahsana menginginkan enam potong daster seperti milik ibunya. Ada pula yang meminta sepeda listrik warna pink, laptop, perosotan, hingga telepon seluler Redmi Note 14. Lilla Chandra Kusuma bahkan meminta motor trail dan ingin prosesi pencukuran dilakukan oleh kakaknya.
Di antara deretan permintaan itu, kisah Laira Anindya Maryam (11) menjadi pengingat bahwa ruwatan memiliki makna yang jauh lebih dalam. Laira, yang berambut gimbal sejak usia tiga tahun, hanya meminta satu hal: rambutnya dicukur di Dieng. Ia sempat menjadi bahan ejekan teman-temannya, terutama saat tidak mengenakan hijab. Ibunda Laira, Rizky, menuturkan bahwa keinginan putrinya itu sudah lama ada, tetapi sempat tertunda akibat pandemi COVID-19. Keluarga sempat memotong rambut Laira di rumah, namun gimbalnya tumbuh kembali. "Sudah dikasih. Tapi tetap mau minta cukur di sini, di Dieng," ujar Rizky.
Kisah serupa datang dari keluarga Anna, ibu dari Checilia dan Cheeryl. Menurut Anna, sang kakak telah meminta dicukur di Dieng sejak usia dua tahun, bahkan sebelum mengetahui adanya DCF. "Kakaknya cukur, adiknya minta cukur juga," katanya. Fenomena ini menunjukkan bahwa ruwatan bukanlah paksaan orang tua, melainkan keinginan yang lahir dari dalam diri anak-anak itu sendiri, sebuah kepercayaan yang diwariskan secara turun-temurun.
Bagi masyarakat Dieng, ruwatan anak gimbal adalah warisan leluhur yang sarat makna. Anak berambut gimbal dipercaya membawa berkah sekaligus ujian, sehingga perlu disucikan melalui ritual ini. Prosesi yang berlangsung khidmat ini juga menjadi daya tarik utama DCF, yang setiap tahun menyedot perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara. Namun, di balik kemeriahan festival, ada pertanyaan besar: bagaimana tradisi ini dapat bertahan di tengah arus modernisasi dan perubahan sosial yang semakin cepat?
Pelestarian ruwatan tidak hanya bergantung pada penyelenggaraan festival tahunan. Dibutuhkan peran aktif generasi muda dan dukungan pemerintah daerah untuk memastikan tradisi ini tetap hidup. Bupati Banjarnegara, Amalia Desiana, yang turut memimpin prosesi jamasan, menunjukkan adanya dukungan resmi dari pemerintah. Namun, tantangan ke depan adalah bagaimana menjaga keaslian ritual di tengah tekanan komersialisasi pariwisata. Apakah ruwatan akan terus menjadi cermin kearifan lokal yang otentik, atau justru tergerus menjadi sekadar tontonan? Jawabannya ada pada kesadaran kolektif masyarakat Dieng untuk menjaga warisan ini tetap bermakna.


