Gus Yahya Minta Massa Aksi Tenang di Tengah Ketegangan Muktamar NU
Baca dalam 60 detik
- Ketua Umum PBNU menyerukan ketenangan dan berjanji mencari solusi bijak di tengah protes terkait pencalonan Gus Yusuf.
- Massa menuntut Perkum tidak digunakan untuk menghalangi kader potensial, menyoroti dinamika internal NU.
- Keputusan AHWA akan menentukan arah organisasi dan berdampak pada stabilitas politik nasional.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), K.H. Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, meminta massa aksi di arena Muktamar Ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, untuk tetap tenang dan tidak mengganggu jalannya persidangan. Permintaan ini disampaikan di tengah ketegangan yang menyelimuti proses pemilihan ketua umum organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.
Gus Yahya secara pribadi mengakui keunggulan K.H. Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf sebagai kader NU yang aktif dan berpotensi. Namun, ia menegaskan bahwa keputusan para muktamirin telah diambil dan harus dihormati. "Seandainya tergantung saya pribadi, saya ingin semua bisa diakomodasi, semua mendapat kesempatan. Tapi para muktamirin sudah membuat keputusan," ujarnya, Sabtu (22/8/2025).
Ketegangan muncul setelah sejumlah massa yang menamakan diri Nahdliyyin Muda menggelar aksi di sekitar arena muktamar. Mereka mendesak panitia dan jajaran PBNU untuk tidak menggunakan Peraturan Perkumpulan (Perkum) sebagai instrumen menghalangi pencalonan Gus Yusuf dan Gus Salam Sohib. Koordinator aksi, Fathoni, menilai dinamika persidangan menunjukkan adanya upaya mengatur proses pemilihan demi kepentingan kelompok tertentu, terutama melalui ketentuan masa idah politik satu tahun dan sanksi organisasi.
Dalam aksinya, massa menyampaikan tujuh tuntutan, antara lain menolak penggunaan Perkum secara sepihak dan diskriminatif, serta mendesak penerapan aturan yang adil, terbuka, dan konsisten. Mereka juga meminta adanya penjelasan resmi dan ruang klarifikasi yang setara bagi Gus Yusuf sebelum keputusan kelayakan pencalonannya diambil.
Gus Yahya merespons dengan menekankan bahwa siapa pun yang nantinya dipilih oleh Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) sebagai ketua umum periode mendatang tidak boleh melupakan Gus Yusuf sebagai potensi besar yang harus dimanfaatkan untuk kemaslahatan jam'iyyah. "Apa pun, siapa pun yang akan dipilih oleh Ahlul Halli Wal Aqdi, yang nanti diputuskan untuk menjadi ketua umum periode mendatang, tidak boleh melupakan Gus Yusuf Chudlori sebagai potensi besar yang harus bisa diunduh manfaatnya untuk jam'iyyah ini," tegasnya.
Konflik internal ini tidak hanya menentukan arah kepemimpinan PBNU, tetapi juga berpotensi memengaruhi stabilitas politik dan sosial di Indonesia. NU sebagai organisasi dengan jutaan anggota memiliki pengaruh signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk politik dan keagamaan. Keputusan AHWA yang dijadwalkan segera diambil akan menjadi sorotan publik, mengingat NU sering menjadi barometer dinamika Islam moderat di tanah air.
Para pengamat menilai bahwa cara PBNU menyelesaikan persoalan ini akan menjadi ujian bagi kredibilitas organisasi dalam menjaga demokrasi internal dan menghargai keberagaman kader. "Ini adalah momen penting untuk menunjukkan bahwa NU mampu mengelola perbedaan dengan bijak, tanpa mengorbankan prinsip-prinsip organisasi," kata seorang analis politik yang enggan disebutkan namanya.
Ke depan, pertanyaan besar yang menggantung adalah apakah AHWA akan memilih pemimpin yang mampu merangkul semua pihak, termasuk Gus Yusuf, atau justru memperdalam perpecahan. Jawabannya akan menentukan wajah NU dalam lima tahun ke depan dan bagaimana organisasi ini memposisikan diri dalam peta politik nasional.



