Menyelam Tanpa Tabung di Maladewa: Retret Freediving Keluarga dan Perayaan Pariwisata Berkelanjutan
Baca dalam 60 detik
- Atlet freediving dunia Hanli Prinsloo akan memandu dua retret menyelam di Maladewa pada September 2026, menawarkan pengalaman unik bagi keluarga dan dewasa.
- Program ini berlangsung di kawasan konservasi Baa Atoll, yang juga menjadi lokasi perayaan Hari Pariwisata Dunia dengan fokus pada ekowisata dan perlindungan biota laut.
- Dengan paket mulai dari US$3.160, retret ini menargetkan wisatawan yang mencari liburan bermakna sekaligus berkontribusi pada pelestarian lingkungan.

Maladewa, yang selama ini identik dengan bulan madu mewah, kini membuka babak baru pariwisata petualangan. Pada September mendatang, negara kepulauan di Samudra Hindia itu akan menjadi panggung dua retret freediving yang dipandu langsung oleh pemegang rekor dunia Hanli Prinsloo, seorang konservasionis laut yang juga pendiri organisasi nirlaba I Am Water. Inisiatif ini menandai pergeseran tren wisata bahari dari sekadar bersantai di tepi pantai menuju pengalaman imersif yang menggabungkan eksplorasi bawah air dengan kesadaran ekologis.
Retret pertama, bertajuk Family Freediving Retreat, akan berlangsung pada 7โ10 September di Avani+ Fares Maldives, resor yang terletak di Atol Baa. Sesi ini dirancang khusus untuk orang tua dan anak, dengan fokus pada pengenalan teknik pernapasan, snorkeling, dan permainan air yang aman. Alih-alih mengejar kedalaman atau kompetisi, program ini menekankan pada pembangunan kepercayaan diri di air serta penguatan ikatan keluarga melalui aktivitas bersama. Menurut Prinsloo, pendekatan ini lahir dari keyakinan bahwa laut adalah ruang belajar yang kaya akan nilai-nilai kesabaran dan keberanian.
Setelah itu, Prinsloo akan pindah ke NH Collection Maldives Reethi untuk menggelar Into the Blue pada 14โ18 September. Retret empat malam ini menyasar peserta berusia 16 tahun ke atas, dengan kurikulum yang memadukan yoga, meditasi, latihan pernapasan, dan freediving. Para peserta akan diajak mengeksplorasi terumbu karang di sekitar resor, termasuk kunjungan ke Teluk Hanifaru yang terkenal sebagai lokasi berkumpulnya pari manta secara musiman. Momen puncak acara ini bertepatan dengan perayaan Hari Pari Manta Sedunia pada 17 September, di mana para tamu dapat ikut serta dalam kegiatan snorkeling untuk mengamati mamalia laut tersebut di habitat aslinya.
Kedua program tersebut merupakan bagian dari rangkaian Ocean Aware Month yang digagas oleh Minor Hotels, grup yang menaungi kedua resor tersebut. Sepanjang bulan, pengunjung dapat berpartisipasi dalam penanaman karang, fotografi bawah air, bersih-bersih pantai, dan kursus menyelam. Langkah ini sejalan dengan status Atol Baa sebagai Cagar Biosfer UNESCO, sebuah pengakuan atas keanekaragaman hayati lautnya yang luar biasa. Bagi Indonesia, model pariwisata regeneratif seperti ini bisa menjadi pelajaran berharga, mengingat banyak destinasi unggulan seperti Raja Ampat dan Wakatobi menghadapi tekanan serupa antara konservasi dan ekonomi.
Dari perspektif ekonomi, tren ini mencerminkan pergeseran preferensi wisatawan global yang semakin menghargai pengalaman bermakna dibandingkan sekadar kemewahan. Data dari Asosiasi Pariwisata Selam Internasional menunjukkan bahwa segmen ekowisata bahari tumbuh sekitar 15% per tahun, didorong oleh generasi milenial dan Gen Z yang sadar lingkungan. Bagi operator wisata di Indonesia, kolaborasi dengan atlet atau tokoh konservasi internasional dapat menjadi strategi untuk menarik pasar niche yang bersedia membayar lebih untuk dampak positif.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Biaya yang tinggi membuat program semacam ini eksklusif, sementara dampak lingkungan dari penerbangan dan operasional resor perlu dikelola secara hati-hati. Prinsloo sendiri mengakui bahwa industri ini harus terus berinovasi untuk memastikan bahwa setiap dolar yang dibelanjakan wisatawan benar-benar berkontribusi pada pelestarian laut. "Kita tidak bisa hanya mengambil dari laut tanpa memberi kembali," ujarnya dalam sebuah wawancara, menekankan pentingnya pendidikan dan partisipasi aktif dalam konservasi.
Ke depan, keberhasilan retret ini akan menjadi ujian apakah pariwisata mewah dapat berjalan seiring dengan keberlanjutan. Jika berhasil, model ini berpotensi direplikasi di destinasi lain, termasuk Indonesia, yang memiliki kekayaan bawah laut setara. Pertanyaannya, akankah pelaku industri pariwisata nasional berani mengambil langkah serupa, atau justru terjebak dalam jebakan pariwisata massal yang merusak? Jawabannya akan menentukan masa depan destinasi-destinasi bahari kita.



