Sabalenka di Ujian Terbesar: Rebut Kembali Kejayaan di US Open 2025
Baca dalam 60 detik
- Petenis Belarusia itu mengawali musim dengan gemilang, tetapi performanya merosot tajam setelah Miami, mengancam posisinya di puncak ranking.
- Dengan hanya unggul 434 poin dari Elena Rybakina, Sabalenka harus tampil sempurna di New York untuk mempertahankan takhta yang telah dipegangnya selama 99 pekan.
- Ketidakpastian cedera Sinner dan Alcaraz membuka peluang bagi Novak Djokovic untuk menambah koleksi gelar Grand Slam-nya menjadi 25.

New York, 24 Agustus 2025 — Aryna Sabalenka tiba di Flushing Meadows dengan beban berat: mempertahankan gelar juara bertahan US Open sekaligus takhta nomor satu dunia yang mulai goyah. Setelah sapu bersih gelar Indian Wells dan Miami pada Maret lalu, performa petenis 28 tahun itu justru menukik drastis, membuka peluang bagi para pesaingnya untuk merebut posisi puncak.
Sabalenka, yang telah mengoleksi empat gelar Grand Slam, hanya mencatatkan rekor 17-7 sejak final Miami. Kekalahan di perempat final Prancis Terbuka dan tersingkir di babak keempat Wimbledon menjadi sinyal bahwa konsistensinya mulai memudar. Padahal, di awal musim ia sempat membangun keunggulan 3.000 poin di ranking WTA—sebuah dominasi yang jarang terlihat dalam satu dekade terakhir.
Masalah utama Sabalenka bukan pada pukulan kerasnya, melainkan fokus mental yang sering hilang di momen-momen krusial. Contoh teranyar terjadi di Cincinnati, ketika ia memimpin 5-1 di tie-break set pertama dan 4-1 di set kedua, tetapi akhirnya menyerah kepada remaja Ceko Sara Bejlek. Pola serupa juga terlihat di Toronto, Madrid, Roma, dan Roland Garros—semuanya berakhir dengan kekalahan setelah memenangi set pertama.
“Saya terus bekerja pada sisi mental permainan. Saya mencoba mereset pikiran dan kembali lebih kuat,” ujar Sabalenka dalam konferensi pers di New York. “Ini hanya soal waktu bagi saya untuk bangkit.” Namun, waktu yang ia miliki semakin sempit. Dengan 2.000 poin yang harus dipertahankan di US Open, dan Elena Rybakina yang hanya berjarak 434 poin, setiap kekalahan sebelum final bisa menjadi bencana.
Rybakina, yang mengalahkan Sabalenka di final Australia Terbuka Januari lalu, bahkan tidak perlu memenangkan satu pertandingan pun untuk menjadi nomor satu dunia—asalkan Sabalenka, Jessica Pegula, dan Coco Gauff gagal merebut gelar. Namun, cedera pergelangan kaki yang dideritanya di Cincinnati menimbulkan tanda tanya besar. Jika Sabalenka mempertahankan gelar, Rybakina tetap bisa naik ke puncak dengan melaju ke semifinal.
Di sisi lain, persaingan di sektor putri semakin ketat. Di belakang kuartet teratas, deretan petenis seperti Mirra Andreeva, Linda Noskova, dan Iga Swiatek juga mengintai. “Anda bisa melihat betapa dalamnya persaingan sekarang,” kata Pegula, yang baru saja menjuarai Cincinnati. Pegula sendiri belum pernah memenangkan Grand Slam, tetapi konsistensinya di Washington dan Cincinnati memberinya modal berharga untuk tampil di hadapan publik sendiri.
Sementara itu, sektor putra juga menyimpan drama. Untuk ketiga kalinya secara beruntun, rivalitas Jannik Sinner dan Carlos Alcaraz gagal tersaji di Grand Slam. Alcaraz, yang comeback setelah cedera pergelangan tangan, mengaku aneh tidak bertemu Sinner di turnamen besar. “Kami tidak akan bertemu selama enam atau tujuh bulan,” katanya. Absennya Sinner dan ketidakpastian kondisi Alcaraz membuat Novak Djokovic, yang kini berusia 39 tahun, kembali menjadi favorit.
Djokovic, yang telah mencapai semifinal dalam enam dari tujuh Grand Slam terakhir, belum pernah menang lagi sejak US Open 2023. Namun, ia menegaskan tidak ada “tanggal kedaluwarsa” bagi kariernya. Dengan 24 gelar Grand Slam, ia hanya butuh satu lagi untuk memecahkan rekor Margaret Court. Sementara itu, Alexander Zverev, yang baru memenangkan Prancis Terbuka pertamanya, menjadi unggulan teratas dan berambisi menembus final ketiga beruntun.
Bagi penggemar tenis Indonesia, US Open tahun ini menawarkan tontonan yang menarik: mampukah Sabalenka membuktikan bahwa krisis hanyalah fase, atau justru menjadi awal pergeseran kekuasaan di puncak tenis putri? Dan akankah Djokovic menuliskan babak final yang sempurna untuk karier legendarisnya? Jawabannya akan terungkap dalam dua pekan ke depan di New York.



