Kecelakaan Maut di Cub Prix Malaysia: Pembalap 18 Tahun Tewas, Balapan CP150 Berujung Tragedi
Baca dalam 60 detik
- Pembalap CKJ Racing, Farres Putra Mohd Fadhill, 18, meninggal dunia setelah terlibat tabrakan tiga motor di final CP150 Cub Prix Malaysia di Sirkuit Gong Badak, Sabtu (29/8).
- Otopsi di Rumah Sakit Sultanah Nur Zahirah memastikan penyebab kematian adalah cedera multipel, sementara rekan sekaligus sahabatnya mengaku terpukul dan menyadari risiko balap.
- Insiden ini memicu pertanyaan tentang standar keselamatan di ajang balap regional, yang relevan bagi pembalap muda Indonesia yang kerap berkompetisi di sirkuit serupa.

KUALA TERENGGANU โ Tragedi menimpa dunia balap motor Malaysia ketika pembalap muda CKJ Racing, Farres Putra Mohd Fadhill (18), menghembuskan napas terakhirnya setelah mengalami kecelakaan fatal di ajang Malaysian Cub Prix Championship, Sabtu (29/8). Insiden yang terjadi di Sirkuit Motorsport Gong Badak itu melibatkan tiga motor yang saling bertabrakan pada babak final kelas CP150, ronde kelima kejuaraan.
Kepala Polisi Kuala Terengganu, ACP Azli Mohd Noor, mengonfirmasi bahwa hasil otopsi di Departemen Forensik Rumah Sakit Sultanah Nur Zahirah (HSNZ) menunjukkan penyebab kematian adalah cedera multipel yang diderita korban. Prosedur otopsi berlangsung dari pukul 22.00 hingga 23.55 waktu setempat. Farres, yang berasal dari Selangor, sempat dilarikan ke unit gawat darurat HSNZ menggunakan ambulans, namun nyawanya tidak tertolong.
Kecelakaan ini tidak hanya mengguncang tim CKJ Racing, tetapi juga rekan-rekan sesama pembalap. Adi Putra Anahar (17), pembalap Honda KC Racing Team yang juga sahabat dekat Farres sejak usia 13 tahun, menuturkan momen mencekam saat menyaksikan siaran langsung balapan dari dalam mobil. Ia sempat bingung ketika siaran tiba-tiba terputus, sebelum akhirnya mendapat kabar duka dari seorang teman. "Saya sadar risiko di dunia balap, tapi tidak pernah membayangkan kehilangan dia secepat ini," ujarnya dengan nada pilu di depan ruang forensik HSNZ, Sabtu malam.
Peristiwa ini menjadi pengingat keras akan risiko yang melekat pada olahraga balap motor, terutama di level kejuaraan nasional seperti Cub Prix yang kerap menjadi batu loncatan bagi pembalap muda Asia Tenggara. Di Indonesia, ajang serupa seperti Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Road Race juga memiliki profil risiko yang hampir identik, dengan sirkuit-sirkuit yang belum tentu memenuhi standar keselamatan internasional. Pengamat motorsport menilai insiden seperti ini seharusnya memicu evaluasi menyeluruh terhadap prosedur keselamatan, mulai dari kelayakan lintasan hingga kesiapan tim medis di lokasi.
Kepergian Farres juga menyisakan duka mendalam bagi rekan-rekannya, termasuk Adi Putra yang mengaku kerap menghabiskan waktu bersama korban dua hingga tiga kali seminggu. "Kami sudah berteman lama karena sama-sama berkecimpung di dunia motorsport. Terakhir bertemu Kamis lalu saat pulang ke homestay," kenangnya. Kesaksian ini menunjukkan betapa eratnya ikatan antar pembalap muda, sekaligus betapa rapuhnya nyawa di tengah kecepatan.
Pihak penyelenggara dan otoritas setempat diharapkan segera merilis laporan investigasi lengkap mengenai penyebab kecelakaan. Apakah faktor teknis, human error, atau kondisi sirkuit yang menjadi pemicu? Pertanyaan ini penting tidak hanya bagi keluarga korban, tetapi juga bagi masa depan ajang balap di kawasan ini. Jika tidak ada perbaikan signifikan, risiko serupa akan terus membayangi para pembalap muda yang mengejar mimpi di atas aspal.



