Petani Kopi Vietnam Beralih ke Durian: Bisakah Indonesia Menyusul?
Baca dalam 60 detik
- Luas lahan durian Vietnam melonjak lima kali lipat dalam dekade terakhir, mencapai 200.000 hektare, seiring permintaan China yang terus menggelembung.
- Vietnam kini menjadi pemasok durian terbesar ke China, menggeser Thailand yang bertahan hampir dua dekade, dengan nilai ekspor diproyeksikan menembus US$4 miliar tahun ini.
- Fenomena ini memicu kekhawatiran oversupply dan ketergantungan pada satu pasar, menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia yang juga tengah menggarap pasar durian China.

Dataran Tinggi Tengah Vietnam, yang selama ini dikenal sebagai lumbung kopi dunia, tengah mengalami pergeseran besar. Para petani di sana berbondong-bondong mengganti tanaman kopi dengan durian, merespons ledakan permintaan dari China yang menjadikan buah berduri itu sebagai primadona baru. Fenomena ini bukan sekadar tren pertanian, melainkan cermin perubahan pola konsumsi dan dinamika ekonomi regional yang patut dicermati Indonesia.
Pham Xuan Lan, seorang petani di Provinsi Dak Lak, adalah salah satu contoh nyata keberhasilan peralihan ini. Dua dekade lalu, ia mulai menanam durian di sela-sela kebun kopinya. Kini, dari 400 pohon durian yang ia miliki, Lan memanen sekitar 60 ton buah setiap tahun. Pendapatannya melonjak dari US$10.000 menjadi US$76.000 per tahun. "Dengan durian, saya bisa membeli mobil, rumah untuk anak-anak, dan membangun vila," ujarnya, seperti dikutip AFP. Kisah sukses semacam ini mendorong petani lain untuk mengikuti jejaknya, beralih ke varietas premium seperti Ri6, Musang King, dan Dona.
Lonjakan ini tidak lepas dari kebijakan perdagangan. Setelah protokol perdagangan ditandatangani pada 2022, Vietnam resmi memasuki pasar durian China. Hasilnya spektakuler: tahun lalu, Vietnam menggeser Thailand sebagai pemasok durian terbesar ke China berdasarkan volume. Nilai ekspor durian Vietnam diperkirakan mencapai US$4 miliar tahun ini, dengan 90 persen di antaranya mengalir ke negara tirai bambu. Angka ini berbanding terbalik dengan nilai ekspor pada 2021 yang hanya US$180 juta.
Permintaan China sendiri didorong oleh popularitas durian di media sosial, terutama di kalangan anak muda. Video-video orang membelah durian dengan tangan kosong di Douyin, platform video pendek ala TikTok, telah ditonton miliaran kali. Influencer seperti Liulianzi memuji rasa durian yang "sangat manis, seperti dilapisi gula". Harga durian yang semakin terjangkau, akibat persaingan ketat antara Thailand dan Vietnam serta perbaikan jalur transportasi, juga memperluas basis konsumen. Di Beijing, seorang konsumen bernama Ada Song mengaku telah menghabiskan hampir 1.000 yuan (sekitar US$150) untuk durian dalam beberapa pekan terakhir dan mencoba hampir 20 varietas berbeda.
Namun, di balik euforia, ada kekhawatiran yang mengemuka. Pemerintah Vietnam pada awal Agustus memperingatkan risiko oversupply dan hilangnya kendali mutu seiring meluasnya area tanam. Para petani juga mengingatkan bahwa durian bukanlah tanaman yang mudah. Ia membutuhkan perawatan intensif, mulai dari kelembapan, air, hingga pemupukan yang tepat. Lan menganalogikan menanam durian seperti "membesarkan anak - saya bisa memberikan semua trik, tetapi tidak bisa menjamin kesuksesan yang sama". Sebagian petani bahkan telah merasakan pahitnya gagal panen. Hung, seorang petani yang enggan menyebut nama lengkapnya, mengaku beralih total dari kopi ke durian lima tahun lalu, tetapi kembali ke kopi dua tahun kemudian karena kesulitan menghasilkan kualitas yang diharapkan. "Saya gagal. Saya tidak akan pernah kembali ke durian," katanya.
Fenomena ini menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia. Sebagai salah satu produsen durian terbesar di dunia, Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar untuk memanfaatkan pasar China. Namun, hingga kini, pangsa pasar durian Indonesia di China masih sangat kecil dibandingkan Vietnam dan Thailand. Salah satu kendala utama adalah belum adanya protokol perdagangan yang jelas dan standar kualitas yang konsisten. Pemerintah Indonesia sebenarnya telah menandatangani protokol ekspor durian ke China pada 2023, tetapi realisasinya masih jauh dari harapan. Petani durian Indonesia, terutama di daerah seperti Medan dan Jawa Timur, masih menghadapi tantangan dalam hal infrastruktur, teknologi pascapanen, dan akses pasar.
Kisah Vietnam menunjukkan bahwa peluang pasar yang besar tidak selalu berbanding lurus dengan keberhasilan. Diperlukan strategi yang matang, mulai dari pemilihan varietas unggul, penerapan standar mutu, hingga diversifikasi pasar agar tidak terlalu bergantung pada satu negara. Pertanyaannya, apakah Indonesia mampu belajar dari pengalaman Vietnam dan mengambil peran yang lebih besar dalam peta perdagangan durian global? Atau justru akan terjebak dalam siklus yang sama: tergiur oleh keuntungan jangka pendek tanpa mempersiapkan fondasi yang kuat? Waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal yang pasti: durian telah menjadi komoditas strategis yang mampu mengubah nasib petani, sekaligus menjadi ujian bagi kebijakan pertanian nasional.



