Psyllium Husk: Suplemen Serat yang Populer, tapi Benarkah Efektif untuk Menurunkan Berat Badan?
Baca dalam 60 detik
- Psyllium husk terbukti membantu melancarkan pencernaan dan mengatasi sembelit, namun klaim penurunan berat badan belum didukung bukti kuat.
- Studi menunjukkan suplemen ini dapat sedikit menurunkan kolesterol dan gula darah, tetapi efeknya lebih kecil dibandingkan serat dari makanan utuh.
- Para ahli menyarankan untuk memprioritaskan asupan serat alami dari buah, sayur, dan biji-bijian daripada bergantung pada suplemen.

Psyllium husk, serat yang diekstrak dari tanaman asal Asia Selatan, kini banyak dikonsumsi sebagai suplemen untuk melancarkan pencernaan, menurunkan kolesterol, hingga membantu diet. Namun, di balik popularitasnya, klaim-klaim tersebut tidak sepenuhnya didukung oleh bukti ilmiah yang kuat.
Menurut Dr. William D. Chey, kepala divisi gastroenterologi di Michigan Medicine, psyllium memang efektif untuk mengatasi konstipasi dan sindrom iritasi usus besar (IBS). Saat masuk ke saluran pencernaan, serat ini menyerap air dan membentuk gel kental yang melunakkan tinja serta mempercepat perjalanannya di usus besar. Menariknya, psyllium juga membantu mengatasi diare, gejala lain dari IBS, dengan menyerap cairan berlebih di usus, jelas Kate Scarlata, ahli diet dari Boston.
Penelitian menunjukkan bahwa psyllium dapat sedikit menurunkan kadar kolesterol dan gula darah. Serat ini mengikat asam empedu yang berasal dari kolesterol di usus, sehingga meningkatkan ekskresinya dan membantu menurunkan kolesterol jahat (LDL). Selain itu, psyllium memperlambat pencernaan karbohidrat, sehingga glukosa diserap lebih bertahap ke dalam darah. Efek ini bermanfaat bagi penderita kolesterol tinggi atau diabetes tipe 2, kata Penny Kris-Etherton, profesor emeritus ilmu nutrisi di Penn State. Meski demikian, ia menekankan bahwa manfaat yang lebih besar justru diperoleh dari mengonsumsi makanan kaya serat seperti biji-bijian utuh, kacang-kacangan, buah, dan sayuran.
Soal penurunan berat badan, psyllium memang membuat perut terasa kenyang lebih lama karena mengembang di usus dan memperlambat pencernaan karbohidrat. Namun, efek ini hanya bertahan satu hingga dua jam, menurut Julia Lloyd, ahli diet di Mass General Brigham. Sayangnya, rasa kenyang tersebut tidak serta-merta berujung pada penurunan berat badan yang signifikan. Sebuah tinjauan terhadap 22 uji klinis kecil pada tahun 2020, yang sebagian besar melibatkan orang dewasa dengan kelebihan berat badan atau obesitas, menemukan bahwa konsumsi psyllium tidak berbeda dengan plasebo dalam hal berat badan, indeks massa tubuh, atau lingkar pinggang.
Bagi konsumen Indonesia yang tengah gencar mencari solusi cepat untuk menurunkan berat badan atau mengontrol gula darah, temuan ini menjadi pengingat penting. Suplemen seperti psyllium mungkin membantu sebagai pendukung, tetapi bukan pengganti pola makan sehat. Masyarakat Indonesia yang kaya akan sumber serat alami seperti sayuran, buah lokal, dan biji-bijian seperti kacang hijau atau ubi jalar sebenarnya memiliki alternatif yang lebih murah dan efektif. Selain itu, konsultasi dengan dokter atau ahli gizi tetap diperlukan sebelum mengonsumsi suplemen apa pun, terutama bagi mereka yang memiliki kondisi medis tertentu.
Ke depan, pertanyaan yang perlu dijawab adalah sejauh mana suplemen serat dapat diintegrasikan dalam strategi kesehatan masyarakat di Indonesia, yang masih menghadapi tantangan kurangnya asupan serat. Apakah edukasi gizi yang lebih masif akan lebih berdampak daripada sekadar mendorong konsumsi suplemen? Atau justru suplemen menjadi solusi praktis di tengah gaya hidup serba cepat? Yang jelas, bukti ilmiah saat ini menempatkan psyllium sebagai alat bantu, bukan solusi utama.



