Bencana Himalaya: Hampir 3.000 Orang Hilang, Nepal dan China Kewalahan
Baca dalam 60 detik
- Banjir bandang akibat longsoran gletser di perbatasan Nepal-Tibet telah menewaskan lebih dari 680 orang dan membuat hampir 3.000 lainnya hilang.
- Pemerintah Nepal memperkirakan biaya rekonstruksi mencapai US$4-5 miliar, sementara bantuan internasional mulai berdatangan dari India dan China.
- Peristiwa ini menjadi pengingat akan dampak perubahan iklim terhadap kerentanan kawasan Himalaya dan pentingnya kesiapsiagaan bencana.

Lebih dari 680 jenazah telah ditemukan dan hampir 3.000 orang masih dinyatakan hilang setelah gelombang air dan lumpur dahsyat yang dipicu longsoran gletser melanda kawasan perbatasan Nepal dan Tibet pada Rabu (26/8). Bencana yang berlangsung dalam hitungan menit ini menyapu bersih permukiman di lembah sungai, menghancurkan infrastruktur energi, dan memicu operasi pencarian yang berlarut-larut di tengah lumpur tebal dan ancaman banjir susulan.
Menurut data resmi yang dirilis Sabtu (29/8), Nepal mencatat 675 korban tewas dan 2.426 orang belum diketahui nasibnya, termasuk ratusan warga asing. Di sisi Tibet, otoritas China melaporkan 7 tewas dan 554 hilang. Sebagian korban diduga hanyut hingga ke India, di mana tujuh jenazah ditemukan di sungai yang berhulu dari Nepal. Angka ini diperkirakan akan terus bertambah seiring proses evakuasi dan identifikasi yang berjalan lambat.
Skala kerusakan yang ditimbulkan sangat masif. Survei Geologi AS menyebutkan bahwa runtuhnya gletser di perbatasan Tibet-Nepal memicu aliran puing raksasa yang menghantam permukiman dan proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Sebanyak 933 pekerja PLTA tercatat hilang di Nepal, bersama 517 wisatawan dan peziarah yang tengah menuju Gunung Kailash yang suci. Palang Merah memperkirakan hingga 93.000 orang terkena dampak langsung, dan trauma psikologis yang dialami para penyintas disebut "sangat besar".
Di tengah duka, pemerintah Nepal berupaya mengoordinasikan respons darurat. Menteri Keuangan Swarnim Wagle menyebut perkiraan awal biaya rekonstruksi mencapai US$4-5 miliar, sementara Menteri Luar Negeri Shisir Khanal meminta bantuan internasional untuk peralatan berat, drone, serta peralatan forensik dan unit pendingin untuk menyimpan jenazah yang cepat membusuk. "Kapasitas layanan kesehatan kami sangat terbatas untuk membekukan jenazah dalam waktu lama," ujarnya. India telah mengirim tiga penerbangan berisi 60 ton bantuan, sementara China mengerahkan tim ahli terowongan untuk membantu penyelamatan di proyek PLTA Trishuli 3A, di mana sekitar 100 orang masih terjebak.
Di lapangan, para penyintas dan keluarga korban menghadapi kenyataan pahit. Buddhi Ram Dangol, warga Nuwakot, mengatakan seluruh permukiman di dekat sungai lenyap. "Tidak ada yang tersisa," katanya. Saraswati Ghale, 43, kehilangan rumahnya dan mengaku selamat setelah berlari ke bukit saat tanah bergetar seperti gempa. Sementara itu, Kalka Sharda mencari nama putranya yang berusia 18 tahun, pekerja PLTA, dalam daftar korban selamat di pangkalan militer Bidur. "Saya tidak yakin masih ada harapan," ujarnya lirih.
Bencana ini juga menyoroti kerentanan kawasan Himalaya terhadap perubahan iklim. Mencairnya gletser meningkatkan risiko longsoran dan banjir bandang, seperti yang terjadi di Nepal. Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya sistem peringatan dini dan pengelolaan risiko bencana, terutama di daerah pegunungan dan aliran sungai yang padat penduduk. Meski secara geografis berbeda, pelajaran tentang kesiapsiagaan dan respons cepat sangat relevan.
Operasi pencarian masih terus berlanjut, dengan tim penyelamat gunung Nepal yang berpengalaman di Everest ikut serta. Namun, risiko banjir susulan dari danau glasial yang terbentuk masih mengancam. Otoritas China sempat menghentikan operasi di Gyirong karena kekhawatiran tersebut. Sementara itu, keluarga di Malaysia dan India menanti kabar dengan cemas. Pertanyaannya, akankah bencana ini mendorong negara-negara di kawasan untuk berinvestasi lebih dalam mitigasi bencana dan adaptasi iklim?



