Raja Harald Wafat, Norwegia Bersiap di Bawah Kepemimpinan Haakon VIII
Baca dalam 60 detik
- Raja Harald V dari Norwegia meninggal dunia pada usia 89 tahun setelah menjalani perawatan di rumah sakit, menandai berakhirnya era kepemimpinan 35 tahun.
- Putranya, Haakon VIII, langsung naik takhta di tengah berbagai tantangan yang dihadapi keluarga kerajaan, termasuk skandal yang melibatkan menantunya.
- Pemerintah Norwegia menetapkan masa berkabung nasional hingga pemakaman, sementara dunia internasional memberikan penghormatan terakhir.

Ribuan warga Norwegia memadati kawasan sekitar Istana Kerajaan di Oslo pada Jumat (28/8) untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Raja Harald V yang wafat pada usia 89 tahun. Kepergian raja yang telah memimpin selama 35 tahun ini langsung diikuti oleh suksesi putranya, Haakon VIII, yang kini resmi memegang tampuk kepemimpinan kerajaan. Momen ini menjadi titik balik bagi monarki Norwegia yang selama ini dikenal modern dan sederhana, namun tak lepas dari berbagai ujian di tahun-tahun terakhir.
Perdana Menteri Jonas Gahr Store, dalam pidatonya setelah bertemu dengan raja baru, menyampaikan duka mendalam sekaligus harapan baru. "Satu era telah berakhir, era baru dimulai. Raja telah tiada, panjang umur raja," ujarnya. Store juga mengenang Raja Harald sebagai sosok yang penuh cinta, humor, dan keyakinan yang tak tergoyahkan terhadap rakyatnya. Prosesi pemakaman militer membawa jenazah raja dari Rumah Sakit Universitas Oslo menuju istana, diiringi barisan warga yang berdiri di sepanjang jalan. Haakon, yang didampingi putrinya yang berusia 22 tahun, Putri Mahkota Ingrid Alexandra, telah lebih dulu tiba di istana untuk secara resmi memberitahukan kabar duka ini kepada pemerintah.
Raja Harald, yang merupakan raja tertua di Eropa, telah dirawat di rumah sakit sejak 17 Agustus karena menderita anemia hemolitik, kondisi yang menyebabkan kerusakan sel darah merah secara cepat dan berujung pada kelelahan serta sesak napas. Selama masa pemerintahannya, Norwegia mengalami transformasi besar, dari negara yang relatif homogen menjadi masyarakat yang lebih kaya, lebih beragam, dan lebih terbuka. Hal ini diakui oleh Store yang menyebut Harald sebagai "raja pada zamannya dan untuk zamannya". Di bawah kepemimpinannya, Norwegia juga menghadapi berbagai tragedi, termasuk serangan teroris 2011 yang menewaskan 77 orang. Dalam pidatonya setelah peristiwa itu, Harald berhasil menyatukan rakyatnya dengan kata-kata yang hangat dan menenangkan, seperti yang diingat oleh banyak warga.
Kehadiran ribuan pelayat di tengah hujan deras menunjukkan betapa besar kecintaan rakyat terhadap rajanya. Mereka meninggalkan tumpukan bunga, kartu ucapan, dan bendera nasional sebagai simbol duka. Salah seorang pelayat, Line Stousland (49), menggambarkan Harald sebagai "kakek bagi seluruh bangsa". Sementara itu, Martin Korslund (37) mengingat pidato-pidato raja yang selalu bermakna, baik di masa sulit maupun saat perayaan. Para pengamat menilai bahwa Harald adalah simbol keterbukaan dan toleransi Norwegia, sebuah warisan yang kini diwariskan kepada putranya.
Namun, di balik duka mendalam, keluarga kerajaan Norwegia tengah menghadapi serangkaian masalah. Tahun lalu, istri Haakon, Putri Mette-Marit, menjadi sorotan karena hubungannya dengan Jeffrey Epstein, terpidana kasus seksual asal Amerika Serikat. Selain itu, putra tiri Haakon, Marius Borg Hoiby, dijatuhi hukuman empat tahun penjara karena kasus pemerkosaan pada Juni lalu. Mette-Marit sendiri baru saja menjalani transplantasi paru-paru pada Juli karena penyakit paru-paru kronis yang dideritanya. Kondisi kesehatan Ratu Sonja, istri Raja Harald, juga sempat menurun dan dirawat di rumah sakit pada Mei lalu.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Haakon VIII kini harus membuktikan diri sebagai pemimpin yang mampu membawa monarki Norwegia ke era baru. Ia mewarisi institusi yang dicintai rakyatnya, tetapi juga harus membersihkan nama keluarga kerajaan dari berbagai skandal. Pertanyaannya, mampukah ia menjaga kepercayaan publik dan melanjutkan warisan ayahnya sebagai simbol persatuan? Dunia akan terus mengawasi langkah pertamanya sebagai raja, terutama dalam menghadapi tekanan internal dan eksternal yang tidak mudah.



