Perpisahan Manis Wawrinka di US Open: Wildcard Terakhir Sebelum Gantung Raket
Baca dalam 60 detik
- Stan Wawrinka, juara US Open 2016, dipastikan tampil di turnamen terakhirnya setelah mendapat wildcard pengganti pemain cedera.
- Keputusan ini mengakhiri kontroversi publik setelah awalnya ia tidak masuk daftar peserta, memicu kritik dari penggemar.
- Momen ini menjadi penutup karier legendarisnya yang telah mengoleksi tiga gelar Grand Slam, sekaligus sinyal regenerasi di tenis putra.

Stan Wawrinka akhirnya mendapat kesempatan pamungkas untuk berlaga di US Open 2024. Petenis Swiss berusia 41 tahun itu dipastikan tampil di Flushing Meadows setelah panitia memberikan wildcard pengganti, menyusul mundurnya petenis Amerika Serikat, Patrick Kypson, akibat cedera. Kepastian itu diterima Wawrinka melalui panggilan telepon pada Rabu malam waktu setempat, hanya beberapa hari menjelang turnamen dimulai.
Kabar ini sekaligus mengakhiri drama panjang yang sempat memanas di kalangan penggemar tenis. Sebelumnya, Wawrinka yang kini menempati peringkat 127 dunia nyaris absen dari turnamen Grand Slam terakhirnya karena tidak masuk daftar wildcard awal. Gelombang protes dari penggemar pun bermunculan, hingga akhirnya panitia bergerak cepat menutup celah tersebut. Bagi Wawrinka, ini bukan sekadar tiket bertanding, melainkan penutup yang layak untuk karier panjang yang telah mengantarnya meraih tiga gelar Grand Slam.
โIni Grand Slam terakhir dalam karier saya, jadi tentu akan menjadi momen yang sangat spesial saat saya turun ke lapangan,โ ujar Wawrinka dalam konferensi pers di Flushing Meadows, Sabtu (31/8). Ia mengaku sangat antusias dan bersyukur masih diberi kesempatan untuk merasakan atmosfer turnamen yang pernah mengangkat namanya ke puncak pada 2016 itu. โSaya akan merasakannya, itu pasti. Tapi saya sangat senang dan menikmati fakta bahwa saya bisa berada di sini untuk terakhir kalinya,โ tambahnya.
Perjalanan Wawrinka di musim perpisahannya memang penuh liku. Sebelum US Open, ia telah tampil di Australian Open, Prancis Terbuka, dan Wimbledon melalui jalur wildcard. Keputusan untuk pensiun di akhir musim ini diambilnya setelah melalui pertimbangan panjang. Saat masih muda, ia pernah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak memikirkan penyesalan sebelum kariernya benar-benar berakhir. Kini, janji itu ia tepati dengan kepala tegak.
โSaya pikir saya telah melakukan segalanya untuk menjadi versi terbaik dari seorang petenis. Saya selalu mendorong diri saya selama bertahun-tahun, mencoba memberikan segalanya di dalam dan luar lapangan. Dengan itu, saya cukup berdamai dengan diri saya sendiri,โ kata Wawrinka. Meski mengakui ada sedikit penyesalan, terutama tentang beberapa pertandingan yang ingin ia ubah hasilnya, ia merasa tenang karena telah mengambil semua peluang yang ada.
Bagi penggemar tenis Indonesia, kehadiran Wawrinka di US Open kali ini menjadi pengingat akan era keemasan tenis putra yang diwarnai persaingan sengit antara generasi Big Four dan para penantangnya. Meski tidak sepopuler Roger Federer atau Rafael Nadal di Tanah Air, Wawrinka memiliki basis penggemar tersendiri berkat gaya bermainnya yang agresif dan backhand satu tangan yang mematikan. Kesempatan untuk menyaksikan aksi terakhirnya di Grand Slam tentu menjadi tontonan berharga, sekaligus momen refleksi tentang regenerasi di dunia tenis.
Keputusan Wawrinka untuk pensiun juga menandai berakhirnya satu babak penting dalam tenis profesional. Dengan mundurnya para legenda secara bertahap, muncul pertanyaan besar: siapa yang akan mengisi kekosongan yang ditinggalkan? Petenis-petenis muda seperti Carlos Alcaraz dan Jannik Sinner telah menunjukkan tajinya, tetapi belum ada yang mampu menandingi konsistensi dan mentalitas juara seperti Wawrinka. Akankah era baru ini mampu menghadirkan persaingan yang sama sengitnya? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal yang pasti: Flushing Meadows akan menjadi saksi bisu perpisahan yang mengharukan bagi salah satu pejuang sejati tenis dunia.



