Juventus Kembali Incar Sorloth Usai Spalletti Kecewa pada Kolo Muani
Baca dalam 60 detik
- Bianconeri menghidupkan kembali negosiasi dengan Atletico Madrid untuk mendatangkan Alexander Sorloth di bursa transfer musim panas.
- Langkah ini muncul setelah pelatih Timnas Italia, Luciano Spalletti, mengkritik performa Randal Kolo Muani yang baru direkrut dengan nilai fantastis.
- Kesepakatan potensial melibatkan pertukaran dengan Nico Gonzalez, yang ingin kembali ke Spanyol sebelum tenggat 1 September.

Juventus kembali membuka pembicaraan dengan Atletico Madrid untuk merekrut penyerang Norwegia, Alexander Sorloth, menyusul kritik tajam dari pelatih tim nasional Italia, Luciano Spalletti, terhadap performa Randal Kolo Muani. Langkah ini menegaskan bahwa raksasa Serie A itu belum puas dengan lini depan mereka meski telah menggelontorkan dana besar di bursa transfer musim panas ini.
Menurut laporan La Gazzetta dello Sport, dalam beberapa jam terakhir kedua klub telah berdialog intensif mengenai kemungkinan transfer Sorloth. Juventus memang masih memburu seorang striker murni untuk memperkuat opsi serangan, dan nama Sorloth muncul sebagai target utama. Ketertarikan ini bukan hal baru; pada bulan Juni lalu kedua tim sempat membahas paket pertukaran yang melibatkan Nico Gonzalez, pemain sayap asal Argentina yang menghabiskan musim lalu dengan status pinjaman di Wanda Metropolitano.
Yang menarik, keputusan untuk kembali mengejar Sorloth datang setelah Spalletti melontarkan pernyataan keras tentang Kolo Muani. Padahal, pelatih yang akrab disapa Spalletti itu sebelumnya menjadi motor di balik kepindahan Kolo Muani dari Paris Saint-Germain ke Turin dengan nilai mencapai โฌ38 juta plus bonus โฌ12 juta. Namun kini, ia justru menginginkan tambahan amunisi di lini depan, idealnya seorang penyerang tengah klasik. Hal ini mengindikasikan bahwa ekspektasi terhadap Kolo Muani belum sepenuhnya terpenuhi, atau setidaknya Spalletti ingin memiliki lebih banyak variasi dalam skema serangannya.
Perbandingan pun mencuat: Sorloth dinilai lebih cocok dengan keinginan Spalletti dibandingkan Josha Zirkzee dari Manchester United. Sorloth, yang memiliki postur tinggi dan naluri mencetak gol tajam, dianggap sebagai profil yang lebih sesuai untuk menjadi ujung tombak. Sementara itu, Zirkzee lebih sering dimainkan sebagai second striker atau false nine, yang mungkin tidak persis seperti yang dibayangkan pelatih asal Italia tersebut.
Di sisi lain, Atletico Madrid tampak terbuka untuk melepas Sorloth, terutama jika kesepakatan melibatkan kembalinya Nico Gonzalez. Pemain berusia 27 tahun itu dikabarkan ingin kembali ke Spanyol sebelum jendela transfer ditutup pada 1 September. Pertukaran pemain bisa menjadi solusi yang saling menguntungkan, mengingat kedua klub memiliki kebutuhan yang berbeda.
Bagi pengamat sepak bola Italia, situasi ini menunjukkan dinamika yang menarik di dalam tubuh Juventus. Di satu sisi, manajemen klub yang baru, dengan Giovanni Carnevali sebagai CEO, mungkin ingin memberikan dukungan penuh kepada pelatih. Namun, keputusan untuk mengeluarkan dana lagi setelah investasi besar untuk Kolo Muani tentu memicu pertanyaan tentang perencanaan skuad jangka panjang.
Konteks ini juga relevan bagi penggemar sepak bola Indonesia yang kerap menjadikan Serie A sebagai liga favorit. Ketertarikan Juventus pada striker bertipe klasik seperti Sorloth bisa menjadi sinyal bahwa permainan langsung dan fisik masih dihargai di level tertinggi Eropa. Selain itu, perkembangan bursa transfer ini selalu dinantikan karena berdampak pada persaingan di papan atas Italia, yang juga memengaruhi kualitas pertandingan yang disiarkan di tanah air.
Hingga saat ini, belum ada kesepakatan final yang dicapai. Kedua klub masih bernegosiasi, dan faktor keinginan pemain menjadi kunci. Jika Sorloth pindah ke Turin, ia akan bergabung dengan skuad yang sedang membangun kembali kejayaan. Namun, jika batal, Juventus harus mencari alternatif lain sebelum tenggat waktu yang semakin dekat. Pertanyaannya, akankah Spalletti mendapatkan striker yang ia inginkan, atau justru keputusan ini akan menjadi bumerang bagi stabilitas tim?



