Ekspor Pangan Jepang Cetak Rekor Baru: Matcha dan Tuna Jadi Primadona, Beras Justru Terhambat
Baca dalam 60 detik
- Nilai ekspor pangan Jepang pada semester pertama 2026 menembus rekor 897,7 miliar yen, didorong lonjakan permintaan matcha dan tuna.
- Kenaikan harga beras domestik akibat krisis pasokan membuat volume ekspor beras justru menurun, meski nilainya naik.
- Jepang menghadapi tantangan diversifikasi pasar, termasuk pasar Muslim, serta maraknya produk tiruan seperti 'Uji matcha' buatan China.

Ekspor produk pertanian, perikanan, dan pangan Jepang pada paruh pertama 2026 menembus rekor baru, mencapai 897,7 miliar yen atau sekitar 5,6 miliar dolar AS. Angka ini melonjak 10,9 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, menandai pertumbuhan dua tahun berturut-turut. Di balik lonjakan ini, ada pergeseran selera global yang kian menggemari kuliner Jepang, terutama matcha dan tuna, sekaligus membuka peluang sekaligus tantangan bagi produsen dalam negeri.
Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang mencatat bahwa minat terhadap makanan Jepang meningkat seiring dengan bertambahnya wisatawan asing yang berkunjung ke Negeri Sakura. Fenomena ini tidak hanya berdampak pada sektor pariwisata, tetapi juga mendorong ekspor produk pangan olahan. Matcha menjadi bintang utama dengan pertumbuhan ekspor menakjubkan 83,5 persen, menghasilkan 48,2 miliar yen. Permintaan terbesar datang dari Eropa dan Amerika Utara, di mana matcha tidak hanya dikonsumsi sebagai minuman, tetapi juga menjadi bahan baku es krim, minuman kemasan, dan aneka kue.
Di posisi kedua, tuna ekor kuning (yellowtail) mencatat kenaikan 69 persen menjadi 43,4 miliar yen, dengan pasar utama Amerika Utara dan Korea Selatan. Saus campuran seperti mayones dan dressing juga ikut meroket, mencapai 39,1 miliar yen. Namun, di balik kesuksesan ini, ada cerita pahit untuk komoditas ikonik Jepang: beras. Krisis pasokan domestik yang dikenal sebagai 'krisis beras era Reiwa' membuat volume ekspor beras justru turun, meskipun nilainya naik ke rekor 7,5 miliar yen akibat harga yang melambung tinggi.
Bagi Indonesia, tren ini menghadirkan pelajaran penting. Pasar produk pangan sehat dan premium terus tumbuh, dan Jepang berhasil memanfaatkan reputasi kualitasnya. Indonesia, dengan kekayaan rempah dan kopi, sebenarnya memiliki potensi serupa. Namun, untuk bersaing di pasar global, diperlukan standardisasi mutu dan perlindungan indikasi geografis yang kuat. Kasus produk tiruan 'Uji matcha' asal China yang meramaikan pasar internasional menjadi peringatan bagi negara-negara produsen, termasuk Indonesia, untuk melindungi produk asli dari klaim yang tidak bertanggung jawab.
Para analis memperkirakan Jepang perlu memperluas pasar ke kawasan dengan populasi Muslim yang besar, seperti Timur Tengah dan Asia Tenggara, yang selama ini belum tergarap maksimal. Sertifikasi halal menjadi kunci untuk membuka pasar tersebut. Selain itu, pengawasan terhadap produk tiruan harus diperketat, baik melalui jalur diplomatik maupun kerja sama bilateral. Tanpa langkah ini, Jepang berisiko kehilangan kepercayaan konsumen terhadap keaslian produknya.
Ke depan, Jepang dihadapkan pada dilema: bagaimana menjaga momentum pertumbuhan ekspor tanpa mengorbankan ketahanan pangan domestik. Krisis beras menunjukkan bahwa pasar ekspor yang menggiurkan bisa berbenturan dengan kebutuhan dalam negeri. Pertanyaannya, apakah Jepang akan berani mereformasi kebijakan pertaniannya untuk menyeimbangkan keduanya? Atau justru akan semakin bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan domestik sambil terus menggenjot ekspor produk bernilai tambah tinggi? Jawabannya akan menentukan arah industri pangan Jepang dalam dekade mendatang.



