AS Resmi Hapus Suriah dari Daftar Sponsor Terorisme: Era Baru Investasi atau Risiko Geopolitik?
Baca dalam 60 detik
- Pencabutan status sponsor terorisme oleh AS membuka peluang investasi dan bantuan ekonomi bagi Suriah pasca-Assad.
- Langkah ini merupakan buah dari pertemuan Trump dan al-Sharaa, sekaligus sinyal kepercayaan terhadap pemerintahan baru.
- Meski sanksi dicabut, AS menegaskan komitmennya memerangi terorisme, menyisakan pertanyaan tentang pengawasan kelompok ekstrem.

Washington secara resmi menghapus Suriah dari daftar negara sponsor terorisme pada Senin (24/8), sebuah keputusan yang mengakhiri sanksi ekonomi berat yang telah membelenggu negara itu selama puluhan tahun. Langkah ini tidak hanya mencabut status hukum yang menstigma, tetapi juga membuka jalan bagi gelombang investasi asing dan normalisasi hubungan diplomatik yang lebih luas, seiring upaya Suriah bangkit dari kehancuran perang saudara yang berkepanjangan.
Keputusan ini diumumkan bersamaan dengan pencabutan penunjukan Hay'at Tahrir al-Sham (HTS), kelompok yang memimpin penggulingan Bashar al-Assad pada Desember 2024, dari daftar organisasi teroris global. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyatakan bahwa tindakan ini sejalan dengan janji Presiden Donald Trump untuk memberikan keringanan sanksi, dan diharapkan dapat mendorong stabilitas politik serta ekonomi Suriah. Namun, ia menegaskan bahwa kebijakan AS terhadap kontraterorisme tidak berubah, dan komitmen untuk menghukum aktor-aktor jahat di Suriah tetap berlaku.
Pencabutan status ini merupakan puncak dari proses yang dimulai pada Juli lalu, ketika AS pertama kali mengumumkan niatnya untuk menghapus Suriah dari daftar tersebut. Pertemuan antara Trump dan presiden Suriah yang baru, Ahmed al-Sharaa, di sela-sela KTT NATO di Turki menjadi katalis utama. Al-Sharaa, yang sebelumnya dikenal sebagai pemimpin HTS, telah berusaha menampilkan diri sebagai tokoh pemersatu setelah tumbangnya rezim Assad yang otoriter selama setengah abad. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyebut pencabutan ini sebagai "jalan menuju kemakmuran" bagi rakyat Suriah, dan menghilangkan hambatan terakhir bagi investasi sektor swasta.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi yang tidak bisa diabaikan. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan anggota OKI, Indonesia memiliki kepentingan strategis dalam stabilitas Timur Tengah. Pencabutan sanksi ini dapat membuka peluang bagi perusahaan-perusahaan Indonesia untuk berpartisipasi dalam proyek rekonstruksi Suriah, terutama di sektor infrastruktur, energi, dan teknologi. Namun, di sisi lain, Indonesia juga harus mencermati potensi risiko keamanan, mengingat HTS pernah menjadi bagian dari jaringan Al-Qaeda. Pemerintah Indonesia perlu memperkuat dialog dengan pemerintahan baru Suriah untuk memastikan bahwa kelompok-kelompok radikal tidak memanfaatkan kelonggaran ini untuk memperluas pengaruh di kawasan.
Para pejabat tinggi di Damaskus menyambut baik keputusan ini sebagai pencapaian diplomatik yang bersejarah. Menteri Luar Negeri Suriah, Assad al-Shaibani, menyebutnya sebagai "tonggak bersejarah" yang mencerminkan komitmen negara baru terhadap perdamaian dan keamanan internasional. Menteri Keuangan Mohammed Barnieh, melalui kantor berita resmi SANA, mengatakan bahwa langkah ini membuka pintu yang telah lama ditunggu untuk integrasi Suriah ke dalam sistem ekonomi dan keuangan global, menarik investasi serta teknologi modern. Gubernur bank sentral, Safwat Raslan, juga menegaskan bahwa institusinya sedang membangun sistem keuangan yang modern dan andal untuk memanfaatkan peluang ini.
Meskipun ada optimisme, masih ada pertanyaan besar tentang masa depan Suriah. Bagaimana AS akan memastikan bahwa bantuan dan investasi tidak jatuh ke tangan kelompok ekstrem? Bagaimana Indonesia dan negara-negara lain dapat berkontribusi tanpa mengorbankan prinsip-prinsip demokrasi dan hak asasi manusia? Keputusan ini memang membuka babak baru, tetapi jalan menuju pemulihan penuh masih panjang dan penuh tantangan. Apakah pencabutan sanksi ini akan benar-benar membawa kemakmuran bagi rakyat Suriah, atau hanya menjadi alat geopolitik baru? Hanya waktu yang akan menjawab.



