Klub Serie A Sempat Pilih Conte, Simonelli: Kini Semua Harus Dukung Mancini
Baca dalam 60 detik
- Presiden Lega Serie A mengakui mayoritas klub lebih menginginkan Antonio Conte, namun Roberto Mancini tetap menjadi pilihan resmi pelatih timnas Italia.
- Keputusan menunjuk Mancini muncul setelah kekacauan politik yang menggagalkan rencana Andrea Pirlo, memaksa Paolo Maldini dan Leonardo mundur.
- Simonelli menegaskan dukungan penuh untuk Mancini dan membuka peluang peningkatan frekuensi pemusatan latihan timnas di Coverciano.

Presiden Lega Serie A, Ezio Maria Simonelli, mengonfirmasi bahwa mayoritas klub papan atas Italia sebenarnya lebih memilih Antonio Conte sebagai pelatih tim nasional. Namun, ia menegaskan bahwa keputusan final yang jatuh pada Roberto Mancini kini harus didukung semua pihak demi kebangkitan Gli Azzurri di pentas internasional.
Pernyataan tersebut disampaikan Simonelli dalam wawancara dengan Radio Anch'io lo Sport, Senin (10/2). Ia mengakui bahwa sejak awal Mancini merupakan kandidat favorit Giovanni Malagรฒ, presiden Komite Olimpiade Italia (CONI), meski tidak semua klub Serie A sependapat. "Dia pelatih hebat dengan rekam jejak impresif, dan membawa kami juara Eropa. Kami semua harus mendukungnya dan tim nasional," ujarnya.
Kontroversi penunjukan Mancini tidak lepas dari dinamika internal Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) yang sempat kacau. Sebelumnya, Paolo Maldini yang menjabat direktur teknis hanya bertahan dua minggu. Ia dan Leonardo memilih Andrea Pirlo sebagai pelatih baru, tetapi rencana itu gagal setelah muncul skandal politik terkait peran Pirlo sebagai penasihat perusahaan taruhan Rusia. Maldini dan Leonardo menilai isu tersebut dibesar-besarkan dan dijadikan dalih untuk membatalkan penunjukan Pirlo serta membatasi otonomi mereka.
Simonelli tidak menampik bahwa klub-klub Serie A beberapa kali menyuarakan preferensi mereka terhadap Conte. "Itu benar; kami telah menyatakannya dalam beberapa kesempatan. Tapi itu adalah preferensi antara dua pelatih hebat. Kini pilihan jatuh pada Mancini, kami harus mendukungnya agar bisa mengembalikan tim nasional ke level yang layak," tambahnya.
Selain soal pelatih, Simonelli juga menyinggung wacana penambahan frekuensi pemusatan latihan (stages) di Coverciano agar Mancini lebih sering bertemu para pemainnya. "Kalau terserah saya, tentu saja setuju. Terakhir kali dengan Gattuso, itu tidak dilakukan, tapi juga tidak diminta, mengingat jadwal padat dan banyak pemain yang bermain di luar negeri," jelasnya. Ia menyoroti persoalan klasik padatnya kalender pertandingan yang membuat sulit menjadwalkan ulang laga tunda maupun memberi ruang bagi tim nasional.
Keputusan FIGC menunjuk Mancini mendapat sorotan karena ia dianggap sebagai figur yang aman secara politik, berbeda dengan Pirlo yang kontroversial. Mancini, yang sukses membawa Italia juara Euro 2020, diharapkan mampu membangun kembali skuad yang gagal lolos ke Piala Dunia 2022 dan sedang dalam proses regenerasi. Namun, dukungan klub-klub Serie A menjadi kunci keberhasilannya, terutama dalam hal pelepasan pemain untuk pemusatan latihan.
Bagi Indonesia, dinamika internal federasi sepak bola Italia ini memberikan pelajaran berharga. Konflik kepentingan antara federasi, klub, dan pelatih sering kali menghambat kemajuan tim nasional. Di Indonesia, isu serupa kerap muncul, misalnya dalam hal penjadwalan kompetisi domestik yang berbenturan dengan agenda timnas. Jika Italia yang memiliki infrastruktur dan sumber daya mumpuni saja masih kesulitan menyelaraskan kepentingan klub dan tim nasional, maka Indonesia perlu ekstra hati-hati dalam mengelola hubungan antara PSSI, klub-klub Liga 1, dan pelatih timnas.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Mancini mampu memanfaatkan dukungan yang ada untuk membawa Italia kembali ke puncak. Dengan kualifikasi Piala Dunia 2026 yang akan segera bergulir, tekanan terhadap Mancini akan semakin besar. Sementara itu, Simonelli dan klub-klub Serie A harus membuktikan bahwa mereka benar-benar berdiri di belakang pelatih yang sebelumnya bukan pilihan utama mereka. Apakah dukungan ini akan bertahan saat hasil di lapangan tidak sesuai harapan? Hanya waktu yang bisa menjawab.



