Nvidia Dikabarkan Masuk Putaran Pendanaan Perplexity, Valuasi Tembus US$30 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Nvidia disebut-sebut ikut dalam pendanaan Perplexity yang menargetkan valuasi lebih dari US$30 miliar, naik 50% dari tahun lalu.
- Pendapatan tahunan Perplexity melonjak ke US$750 juta, didorong oleh produk AI agent cloud bernama Perplexity Computer.
- Jika terealisasi, investasi ini memperkuat posisi Nvidia di ekosistem AI dan berpotensi mempengaruhi persaingan pasar AI global.

Raksasa semikonduktor asal Amerika Serikat, Nvidia, dikabarkan tengah menjajaki investasi di Perplexity, startup kecerdasan buatan yang tengah naik daun. Menurut laporan The Information yang dirilis akhir pekan lalu, putaran pendanaan ekuitas ini akan membawa valuasi Perplexity menembus angka US$30 miliarโsebuah lompatan signifikan dari penilaian sebelumnya.
Kabar ini muncul di tengah gencarnya ekspansi perusahaan AI di seluruh dunia. Jika terealisasi, investasi Nvidia akan menjadi sinyal kuat bahwa raksasa chip tersebut tidak hanya memasok infrastruktur, tetapi juga mulai menancapkan pengaruh langsung di perusahaan-perusahaan AI yang sedang berkembang. Bagi Perplexity, suntikan dana segar ini menjadi amunisi penting untuk bersaing dengan pemain besar seperti OpenAI dan Anthropic.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa pendanaan ini akan meningkatkan valuasi Perplexity lebih dari 50 persen dibandingkan pendanaan sebelumnya pada tahun lalu. Sebelumnya, pada September 2024, The Information melaporkan Perplexity telah mengunci valuasi US$20 miliar. Kini, dengan angka baru yang fantastis, Perplexity menunjukkan pertumbuhan yang luar biasa dalam waktu singkat.
Salah satu pendorong utama kenaikan valuasi ini adalah pertumbuhan pendapatan yang eksplosif. Perplexity dilaporkan mencatat pendapatan tahunan (annualized revenue) lebih dari US$750 juta, naik drastis dari kurang dari US$250 juta pada awal tahun. Pertumbuhan ini sebagian besar ditopang oleh Perplexity Computer, agen AI berbasis cloud yang dirancang untuk membantu para profesional mengotomatisasi tugas-tugas komputer. Produk ini menjadi primadona baru di kalangan korporasi yang ingin meningkatkan efisiensi operasional.
Kesepakatan dengan Microsoft juga menjadi katalis pertumbuhan Perplexity. Beberapa waktu lalu, Perplexity menandatangani perjanjian senilai US$750 juta untuk menggunakan layanan cloud Azure milik Microsoft. Langkah ini tidak hanya memperkuat infrastruktur teknis Perplexity, tetapi juga membuka akses ke ekosistem enterprise Microsoft yang luas.
Di sisi lain, rencana Perplexity untuk melantai di bursa efek pada 2028 menjadi sorotan. CEO Aravind Srinivas pernah menyatakan bahwa perusahaan akan tetap go public pada 2028, apa pun kondisi pasar saat itu, termasuk bagaimana penerimaan pasar terhadap IPO Anthropic dan OpenAI. Pernyataan ini menunjukkan optimisme dan kepercayaan diri Perplexity terhadap fundamental bisnisnya.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi yang menarik. Pertumbuhan pesat perusahaan AI seperti Perplexity menunjukkan bahwa permintaan global terhadap solusi AI semakin meningkat. Hal ini bisa menjadi peluang bagi talenta digital Indonesia untuk terlibat dalam ekosistem AI global, baik sebagai pengembang, peneliti, maupun pengguna teknologi. Namun, di sisi lain, Indonesia juga perlu memperkuat regulasi dan infrastruktur digitalnya agar tidak hanya menjadi pasar konsumen, tetapi juga pemain aktif dalam industri AI.
Nvidia sendiri belum memberikan komentar resmi terkait kabar ini, sementara Perplexity memilih bungkam. Namun, jika investasi ini benar-benar terjadi, ia akan menjadi salah satu langkah strategis Nvidia dalam memperluas pengaruhnya di luar perangkat keras. Dengan portofolio investasi yang mencakup berbagai perusahaan AI, Nvidia tampaknya ingin memastikan bahwa ekosistem AI yang berkembang tetap bergantung pada teknologi cipnya.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: apakah investasi ini akan mendorong konsolidasi di industri AI, atau justru memicu persaingan yang lebih ketat? Dengan valuasi yang terus meroket, para pengamat akan mencermati apakah Perplexity mampu mempertahankan pertumbuhan pendapatannya dan mencapai target IPO-nya pada 2028. Satu hal yang pasti, lanskap AI global semakin dinamis, dan Indonesia perlu bersiap menghadapi dampaknya.



