Kontrak Mateta di Palace Kian Panas: Klub dan Pemain Menuju Perpisahan?
Baca dalam 60 detik
- Penyerang Crystal Palace, Jean-Philippe Mateta, berselisih dengan klub soal validitas tahun terakhir kontraknya, yang berujung pada sengketa hukum.
- Dengan hanya delapan hari tersisa di bursa transfer, Palace berisiko kehilangan Mateta secara gratis jika tidak menjualnya sekarang.
- Minat dari Aston Villa dan klub lain bisa memaksa Palace mengambil keputusan cepat di tengah ketegangan hubungan yang semakin nyata.

Kontrak Jean-Philippe Mateta di Crystal Palace hanya menyisakan sepuluh bulan, namun ketegangan antara pemain dan klub justru memuncak di saat bursa transfer akan segera ditutup. Sengketa mengenai validitas tahun terakhir kontraknya telah membawa pemain asal Prancis itu ke meja hijau, memicu spekulasi bahwa ia mungkin segera hengkang dari Selhurst Park.
Mateta dan penasihatnya berargumen bahwa perpanjangan satu tahun yang diaktifkan klub pada kontrak awal empat setengah tahun tidak mengikat secara hukum. Mereka membawa perkara ini ke pengadilan independen Premier League dan dengar pendapat FIFA. Namun, keputusan FIFA yang menyatakan di luar yurisdiksi mereka, serta kenyataan bahwa Mateta tetap terdaftar sebagai pemain Palace, mengindikasikan bahwa upaya sang striker untuk membatalkan kontraknya tidak membuahkan hasil. Bagi pihak klub, perselisihan ini dianggap selesai.
Meski demikian, laga pembuka Premier League melawan Everton akhir pekan lalu menunjukkan bahwa hubungan keduanya belum sepenuhnya retak. Mateta bermain selama 63 menit, menandakan bahwa luka akibat sengketa ini mungkin masih bisa disembuhkan. Namun, sejarah mencatat bahwa Mateta pernah berada di titik terendah bersama suporter Palace, bahkan sempat dicemooh karena cedera lutut yang menggagalkan transfernya ke AC Milan. Namun, gol kemenangannya di final UEFA Conference League melawan Rayo Vallecano pada bulan Mei lalu berhasil mengubah segalanya, menjadikannya pahlawan di mata pendukung.
Ketenangan itu kini terusik. Sumber internal menyebutkan adanya simpati terhadap Mateta, yang mungkin saja mendapat nasihat kurang tepat, meski suporter di media sosial lebih banyak melontarkan kritik. Pengacara ketenagakerjaan Libby Payne menilai bahwa argumen ketidakadilan dalam opsi perpanjangan kontrak memang mungkin, tetapi ambang batasnya sangat tinggi dan jarang berhasil. Dengan hanya delapan hari tersisa di bursa transfer, pertanyaan besarnya adalah: apakah pernikahan yang dulu bahagia ini akan berakhir dengan perceraian?
Bagi Crystal Palace, situasi ini menjadi dilema finansial. Jika tidak menjual Mateta dalam delapan hari ke depan, mereka akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan dana transfer, karena pemain berusia 29 tahun itu bisa menandatangani pra-kontrak dengan klub luar negeri pada Januari. Di sisi lain, Mateta mungkin lebih diuntungkan dengan menunggu hingga kontraknya habis, karena ia bisa mendapatkan gaji lebih besar sebagai pemain bebas transfer. Ini menjelaskan mengapa sang striker tidak terburu-buru untuk pergi.
Upaya Palace untuk memperpanjang kontrak Mateta selama setahun terakhir selalu menemui jalan buntu. Dengan segala upaya yang ia lakukan untuk membuktikan kontraknya tidak sah, sangat tidak mungkin ia akan berbalik arah sekarang. Pihak klub pun diperkirakan akan mendengarkan tawaran yang masuk, mengingat sikap Mateta yang jelas mengindikasikan bahwa masa depannya tidak lagi di Selhurst Park.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kisruh ini menjadi pelajaran menarik tentang dinamika kuasa antara klub dan pemain di Eropa. Di tengah hiruk-pikuk bursa transfer yang kerap didominasi klub-klub besar, kasus Mateta menunjukkan bahwa pemain kelas menengah pun bisa bersikap vokal untuk memperjuangkan haknya. Pertanyaannya, akankah Palace mengambil keputusan tegas di menit-menit akhir, atau membiarkan Mateta pergi dengan cuma-cuma? Keputusan ini akan menjadi preseden bagi klub-klub lain dalam menghadapi pemain yang kontraknya hampir habis.



