Dari Premier League ke WSL: Mengapa Pesepakbola Australia Justru Membanjiri Liga Putri Inggris?
Baca dalam 60 detik
- Liga Super Wanita Inggris kini dihuni 13 pemain Australia, sementara Premier League hanya memiliki satu wakil, menandai pergeseran peta persebaran talenta.
- Pelatih Timnas Putri Australia, Joe Montemurro, menilai tumbuhnya A-League dan kompetisi domestik membuat pemain pria lebih memilih bertahan di dalam negeri.
- Kesenjangan gaji yang mencolok antara WSL dan kompetisi domestik Australia menjadi daya tarik utama bagi pesepakbola putri untuk berkarier di Inggris.

Liga Super Wanita Inggris (WSL) kini menjadi rumah bagi 13 pesepakbola Australia, sebuah fenomena yang kontras dengan hanya satu wakil Australia di Premier League. Ketimpangan ini memunculkan pertanyaan: mengapa jalur karier pesepakbola putri Australia justru lebih terbuka di Inggris dibandingkan dengan rekan pria mereka?
Sejarah mencatat deretan nama Australia yang gemilang di Premier League, seperti Mark Schwarzer dengan 514 penampilan, Harry Kewell, Tim Cahill, hingga Mark Viduka. Namun, era keemasan itu tampaknya telah berlalu. Kini, hanya Lucas Herrington, pemuda 18 tahun yang baru bergabung dengan Hull City, yang mewakili Australia di kasta tertinggi sepak bola Inggris. Sementara itu, di WSL, para pemain seperti Steph Catley, Caitlin Foord, dan Kyra Cooney-Cross dari Arsenal, serta Ellie Carpenter dari Chelsea, menjadi bintang yang bersinar.
Pelatih Timnas Putri Australia, Joe Montemurro, menilai bahwa berdirinya A-League pada 2004 menjadi faktor kunci mengapa pemain pria Australia kini lebih memilih berkarier di dalam negeri. "Banyak pemain yang merasa nyaman menjadi profesional di negara sendiri," ujarnya. Selain itu, perkembangan pesat sepak bola di Afrika dan Asia turut memperluas pasar pemain, sehingga klub-klub Inggris memiliki lebih banyak pilihan. Di sisi lain, ekspansi WSL dengan adanya divisi kedua (WSL 2) dinilai Montemurro sebagai pendorong utama meningkatnya jumlah pemain putri Australia di Inggris.
Fenomena ini tidak lepas dari daya tarik finansial. Rata-rata gaji di WSL mencapai sekitar ยฃ47.000 pada 2022, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan gaji minimum di A-League Women (ALW) yang hanya sekitar A$26.500. Ellie Carpenter, bek Chelsea, secara blak-blakan mengkritik kondisi kompetisi domestik Australia. "Sangat mengecewakan melihat kondisi liga saat ini, terutama setelah geliat Piala Dunia 2023. Kita perlu berinvestasi lebih," katanya. Carpenter bahkan mengaku secara finansial tidak memungkinkan baginya untuk kembali bermain di Australia.
Kesenjangan ini juga mencerminkan masalah struktural yang lebih dalam di sepak bola Australia. Meskipun memiliki 1,93 juta partisipan dan lolos enam kali berturut-turut ke Piala Dunia pria, Australia tidak memiliki pusat pelatihan nasional yang permanen. Graham Arnold, mantan pelatih Socceroos, bahkan menyebut Football Australia sebagai "tunawisma" karena harus berpindah-pindah tempat latihan. Montemurro mengusulkan pembangunan satu atau dua pusat pelatihan yang tersebar secara geografis untuk mengakomodasi pengembangan pemain muda.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pelajaran berharga. Keberhasilan WSL menarik talenta Australia tidak lepas dari profesionalisme liga dan infrastruktur yang mumpuni. Indonesia, yang tengah mengembangkan Liga 1 dan Liga 1 Putri, dapat belajar bahwa investasi pada kompetisi domestik, kesejahteraan pemain, dan fasilitas pelatihan adalah kunci untuk mencegah "brain drain" pesepakbola berbakat ke luar negeri. Tanpa perbaikan fundamental, bukan tidak mungkin talenta terbaik Indonesia justru lebih memilih berkarier di liga asing yang lebih menjanjikan.
Ke depan, apakah Australia akan mampu memperbaiki daya saing liga domestiknya untuk menahan laju eksodus pemain? Atau justru semakin banyak pemain putri Australia yang akan meramaikan WSL? Jawabannya bergantung pada kemauan politik dan investasi jangka panjang dari federasi sepak bola Australia.



