Ketegangan UEFA-FIFA Meningkat: Ceferin Sebut Rencana Infantino Jual Saham Piala Dunia Lebih Buruk dari Super League
Baca dalam 60 detik
- Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, mengkritik keras rencana FIFA menjual 21% saham perusahaan komersial baru, menilainya sebagai ancaman eksistensial bagi sepak bola.
- Langkah FIFA memicu krisis kepercayaan dari asosiasi sepak bola Eropa, termasuk Inggris, Skotlandia, dan Wales, yang menarik dukungan mereka terhadap Gianni Infantino.
- Konflik ini berpotensi mempengaruhi tata kelola sepak bola global dan menimbulkan pertanyaan tentang independensi FIFA, terutama terkait intervensi politik.

Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, melontarkan kritik tajam terhadap rencana FIFA yang akan menjual sebagian hak komersial Piala Dunia. Dalam sebuah wawancara dengan podcast The Rest is Politics, Ceferin menyebut langkah tersebut lebih buruk daripada gagasan Super League Eropa yang sempat mengguncang dunia sepak bola pada 2021. Baginya, menjual sepak bola sama saja dengan mengkhianati esensi olahraga yang seharusnya milik semua orang.
Rencana yang dimaksud adalah pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE), sebuah perusahaan baru yang akan mengelola hak komersial dan tiket seluruh kompetisi FIFA. Sebanyak 21% saham perusahaan ini rencananya akan dijual kepada investor swasta. Namun, setelah mendapat tentangan keras dari UEFA dan sejumlah asosiasi nasional, FIFA akhirnya membatalkan usulan tersebut pada awal bulan ini. Meski begitu, luka politik yang ditimbulkan tampaknya belum sembuh.
Ceferin mengungkapkan bahwa UEFA tidak pernah dilibatkan dalam penyusunan rencana itu. Ia bahkan mengetahui kabar tersebut dari media saat sedang berlibur bersama keluarga. "Dia tidak menghubungi saya sejak kejadian ini," ujarnya, merujuk pada Infantino. Kritik Ceferin juga menyentuh sikap Infantino yang dianggapnya lupa diri. "Seseorang harus mengingatkannya bahwa dia orang Eropa, dan dia pernah didukung oleh UEFA, yang dia lupakan," tegas Ceferin.
Ketegangan ini memuncak setelah UEFA mengancam akan memboikot Piala Dunia jika rencana FFE tidak dibatalkan. Sejumlah asosiasi sepak bola dari Inggris, Skotlandia, dan Wales juga telah menarik dukungan mereka terhadap Infantino. Ini merupakan sinyal kuat bahwa kepercayaan terhadap kepemimpinan Infantino di Eropa semakin menipis. Sementara itu, Infantino justru gencar mencari dukungan di luar Eropa, termasuk bertemu dengan anggota Uni Sepak Bola Karibia di Republik Dominika dan menghadiri E-Sports World Cup di Paris yang dihadiri oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron, Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman, dan bintang Portugal Cristiano Ronaldo.
Konteks Indonesia: bagi penggemar sepak bola di Indonesia, konflik ini bukan sekadar drama politik di tingkat global. Indonesia, sebagai salah satu negara dengan basis penggemar sepak bola terbesar di dunia, memiliki kepentingan langsung terhadap tata kelola FIFA yang bersih dan transparan. Jika FIFA terlibat dalam praktik yang dipertanyakan, hal itu dapat mempengaruhi integritas kompetisi internasional yang diikuti oleh Timnas Indonesia. Selain itu, keputusan FIFA mengenai kalender pertandingan dan distribusi pendapatan juga berdampak pada perkembangan sepak bola nasional, termasuk peluang investasi dan pengembangan infrastruktur.
Ceferin juga mengomentari intervensi politik dalam keputusan FIFA, khususnya terkait pembatalan larangan bermain Folarin Balogun atas permintaan Presiden AS Donald Trump. Menurut Ceferin, hal itu menunjukkan lemahnya independensi FIFA. "Itu lebih dari mengejutkan. Kita punya aturan, dan jika Anda tidak menghormati aturan sendiri, maka permainan tidak masuk akal," katanya. Kritik ini menambah daftar panjang kekhawatiran tentang bagaimana FIFA dikelola di bawah kepemimpinan Infantino.
Menjelang Kongres FIFA pada Maret 2027, Infantino diprediksi akan mencalonkan diri untuk periode keempat. Namun, Ceferin menegaskan bahwa ia tidak tertarik untuk mencalonkan diri sebagai presiden FIFA. "Kredibilitas saya jauh lebih tinggi jika saya tidak tertarik pada posisi itu," ujarnya. Pernyataan ini bisa dibaca sebagai sindiran halus terhadap ambisi Infantino yang dianggap terlalu besar.
Pertanyaannya kini: apakah FIFA akan benar-benar berbenah dan memulihkan kepercayaan publik, atau justru semakin terjerumus dalam krisis legitimasi? Bagi Indonesia, penting untuk terus memantau perkembangan ini, karena masa depan sepak bola dunia akan menentukan arah sepak bola nasional di kancah internasional.



