Pegolf Jepang Miyu Yamashita Samai Rekor Skor Terendah LPGA, Menang Telak di Kanada
Baca dalam 60 detik
- Pegolf Jepang berusia 25 tahun itu menuntaskan CPKC Women's Open dengan total 257 pukulan, menyamai rekor 72 lubang yang dipegang Kim Sei-young.
- Kemenangan kesembilan ini menandai dominasi Yamashita di LPGA, dengan keunggulan sembilan pukulan atas pesaing terdekatnya.
- Rekor turnamen yang dipecahkan dan konsistensinya sepanjang musim mengukuhkan posisinya sebagai salah satu kekuatan baru di golf putri dunia.

Miyu Yamashita, pegolf muda asal Jepang, mencatatkan namanya dalam buku rekor LPGA Tour setelah menuntaskan CPKC Women's Open di Kanada dengan total 257 pukulan, 23 di bawah par. Putri berusia 25 tahun itu menutup putaran final dengan birdie delapan kaki di lubang ke-18, sekaligus mengunci kemenangan telak sembilan pukulan atas para pesaingnya.
Pencapaian tersebut menyamai rekor skor terendah 72 lubang yang dipegang Kim Sei-young dari Korea Selatan sejak 2018. Kim juga membukukan 257 pukulan saat menjuarai turnamen di Thornberry Creek dengan skor 31 di bawah par. Namun, Yamashita berhasil memecahkan rekor turnamen CPKC Women's Open yang sebelumnya dipegang Ko Jin-young, juga dari Korea Selatan, dengan catatan 262 pukulan pada 2019.
Dominasi Yamashita sepanjang pekan di Royal Mayfair Course sulit ditandingi. Ia memimpin sejak putaran pertama dan memulai hari terakhir dengan keunggulan enam pukulan. Enam birdie pada putaran penutup memastikan kemenangan yang tidak pernah benar-benar terancam. Yuri Yoshida, rekan senegaranya, harus puas di posisi kedua dengan skor 14 di bawah par, sementara Kim Sei-young menempati posisi ketiga dengan selisih satu pukulan lagi.
Kemenangan ini menjadi yang keempat bagi Yamashita dalam 13 bulan terakhir di LPGA. Sebelumnya, ia dinobatkan sebagai pendatang baru terbaik 2025 setelah memenangkan mayor pertamanya di Women's Open. Konsistensinya sepanjang musim, termasuk kemenangan di Meijer Classic pada Juni lalu, menegaskan bahwa ia bukan sekadar kejutan sesaat.
Bagi penggemar golf di Indonesia, performa Yamashita menjadi sorotan menarik. Ia mewakili gelombang baru pegolf Asia yang mendominasi panggung internasional, mengikuti jejak para pendahulunya dari Korea Selatan dan Jepang. Keberhasilannya juga menjadi inspirasi bagi pegolf muda di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang mulai serius mengembangkan bakat di ajang internasional.
Para analis menilai bahwa kunci keberhasilan Yamashita terletak pada ketenangan dan akurasi pukulannya, terutama dalam tekanan di putaran final. "Ia memiliki mentalitas yang luar biasa dan kemampuan membaca lapangan yang matang," ujar seorang pengamat golf yang mengikuti perkembangan LPGA. "Kemenangan ini bukan kebetulan, melainkan hasil kerja keras yang konsisten."
Dengan rekor yang kini sejajar dengan nama-nama besar seperti Kim Sei-young, ekspektasi terhadap Yamashita akan semakin tinggi. Pertanyaannya, apakah ia mampu mempertahankan performa ini dan menambah koleksi gelar mayor? Jika tren positifnya berlanjut, bukan tidak mungkin ia akan menjadi salah satu wajah dominan golf putri dalam beberapa tahun ke depan.



