Prabowo Dorong Produksi Massal Tepung Singkong sebagai Senjata Baru Lawan Karhutla
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto memerintahkan riset dan produksi besar-besaran bahan pemadam berbasis tepung singkong untuk menangani karhutla.
- Inovasi yang dijuluki 'ubi bombing' ini dinilai lebih efektif meredam api dibanding water bombing konvensional dan berpotensi menghemat biaya operasional.
- Langkah ini membuka peluang hilirisasi singkong dalam negeri dan menuntut uji ilmiah ketat sebelum diadopsi luas.

Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan percepatan riset dan produksi massal bahan pemadam kebakaran berbasis tepung singkong, sebuah terobosan yang diyakini mampu menggantikan metode water bombing dalam memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Instruksi ini disampaikan dalam rapat koordinasi penanganan karhutla di Sumatera Selatan, Senin (tanggal), menyusul kekhawatiran meluasnya titik api yang mengancam ekosistem gambut dan kesehatan masyarakat.
Gagasan ini berawal dari pertanyaan Presiden kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tentang keberadaan zat kimia yang lebih efektif daripada air untuk menutup api. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo kemudian memaparkan temuan bahan berbasis tepung ubi yang telah diuji mampu mencegah dan memadamkan api pada tahap awal. Menanggapi hal itu, Presiden menyebut inovasi tersebut sebagai "ubi bombing", sebuah plesetan dari istilah water bombing yang selama ini menjadi andalan operasi udara.
Langkah ini bukan sekadar upaya taktis, melainkan juga strategi ekonomi. Singkong merupakan komoditas yang melimpah di Indonesia, dan pemanfaatannya sebagai bahan pemadam dapat membuka rantai nilai baru bagi petani lokal. Namun, para pengamat mengingatkan bahwa efektivitas tepung singkong dalam skala operasional masih perlu diuji secara ilmiah, terutama untuk penanganan api di lahan gambut yang membakar di bawah permukaan.
Dalam rapat yang dipantau secara daring dari Jakarta, Presiden menekankan perlunya inovasi teknologi untuk memperkuat penanganan karhutla yang berdampak luas pada masyarakat. Ia meminta seluruh jajaran mengevaluasi kebutuhan di lapangan dan segera mengajukan tambahan bantuan jika diperlukan. Sebelumnya, pemerintah telah mengerahkan helikopter water bombing, namun keterbatasan sumber air dan akses ke lokasi terpencil menjadi kendala utama.
Bagi Indonesia, pengembangan bahan pemadam berbasis singkong memiliki nilai strategis ganda. Di satu sisi, ini mengurangi ketergantungan pada impor bahan kimia pemadam yang mahal. Di sisi lain, ini mendorong hilirisasi pertanian, sejalan dengan program swasembada pangan. Namun, para ahli mengingatkan bahwa tepung singkong bersifat higroskopis dan dapat menggumpal, sehingga formulasi dan teknik aplikasi harus disesuaikan dengan kondisi lapangan.
Keputusan untuk memproduksi massal "ubi bombing" juga menyiratkan pergeseran paradigma dalam manajemen bencana: dari sekadar respons darurat menuju pencegahan berbasis sumber daya lokal. Meski demikian, pertanyaan besar masih menggantung: apakah teknologi ini mampu menggantikan water bombing untuk kebakaran skala besar? Uji coba lapangan yang melibatkan TNI, Polri, dan BNPB akan menjadi penentu.
Ke depan, keberhasilan inovasi ini tidak hanya diukur dari kemampuannya memadamkan api, tetapi juga dari dampaknya terhadap ekonomi petani singkong dan ketahanan energi nasional. Jika terbukti efektif, bukan tidak mungkin "ubi bombing" menjadi standar baru dalam penanggulangan karhutla di Indonesia, sekaligus menempatkan negeri ini sebagai pelopor teknologi pemadam ramah lingkungan.



