Dua Petinju Dunia Tewas Ditembak di Afrika Selatan, Empat Tersangka Diamankan
Baca dalam 60 detik
- Polisi Afrika Selatan menangkap empat orang terkait pembunuhan mantan juara tinju dunia Zolani Tete di depan kediamannya.
- Tete, yang pernah memegang gelar WBO dan IBF, menjadi korban penembakan brutal yang juga melukai seorang perempuan.
- Kasus ini menyoroti tingginya angka kejahatan dengan kekerasan di Afrika Selatan, yang berdampak pada citra keamanan negara tersebut.

Polisi Afrika Selatan menangkap empat orang yang diduga terlibat dalam pembunuhan Zolani Tete, mantan juara tinju dunia kelas bantam, yang tewas ditembak di depan rumahnya di Mdantsane, Eastern Cape, Jumat lalu. Peristiwa ini mengguncang dunia olahraga Afrika Selatan dan memicu gelombang penghormatan dari para pejabat serta penggemar tinju.
Tete, 38 tahun, sedang menunggu gerbang rumahnya terbuka saat dua pria bertopeng keluar dari sebuah kendaraan dan melepaskan tembakan bertubi-tubi ke arahnya serta seorang perempuan berusia 27 tahun yang berada di dalam mobil. Perempuan tersebut kini dirawat di rumah sakit. Menurut keterangan resmi, penembakan itu dideskripsikan sebagai penyergapan yang direncanakan.
Seorang tersangka berusia 22 tahun yang ditangkap pada Sabtu dijadwalkan menjalani sidang perdana pada Senin dan menghadapi dakwaan pembunuhan serta percobaan pembunuhan. Tiga tersangka lainnya ditangkap pada Minggu dan dijadwalkan hadir di pengadilan pada Selasa. Dua di antaranya telah didakwa kepemilikan senjata api dan amunisi secara ilegal, namun belum jelas apakah mereka juga akan dijerat dakwaan pembunuhan.
Zolani Tete bukan nama asing di pentas tinju internasional. Ia pernah memegang gelar WBO kelas bantam pada 2017โ2019 dan gelar IBF kelas super terbang pada 2014. Kariernya yang gemilang sempat tercoreng oleh larangan bertanding selama empat tahun akibat penggunaan steroid anabolik stanozolol, yang berakhir pada Juli tahun ini. Manajernya, Mla Tengimfene, mengonfirmasi bahwa Tete sedang mempersiapkan diri untuk kembali bertarung setelah masa larangannya berakhir.
Menteri Olahraga Afrika Selatan, Gayton McKenzie, menyampaikan duka mendalam, menyebut Tete sebagai salah satu petarung terbaik yang pernah dimiliki negaranya. Mantan Menteri Olahraga Fikile Mbalula juga menilai kepergian Tete sebagai kehilangan besar bagi kontribusinya pada olahraga tinju. Tete mencatatkan 29 kemenangan dari 34 pertarungan, dengan empat kekalahan dan satu no-contest. Ia juga memegang rekor Guinness World Record untuk knockout tercepat dalam pertarungan perebutan gelar, yaitu 11 detik melawan Siboniso Gonya pada 2017.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya keamanan dan perlindungan bagi atlet, terutama mereka yang telah berprestasi di kancah internasional. Tingginya angka kejahatan dengan kekerasan di Afrika Selatan juga menjadi sorotan, mengingat negara tersebut sering menjadi tuan rumah berbagai ajang olahraga internasional. Kejadian ini dapat mempengaruhi persepsi investor dan wisatawan terhadap keamanan di sana, yang pada akhirnya berdampak pada sektor ekonomi dan pariwisata.
Penegakan hukum yang cepat dan transparan dalam kasus ini akan menjadi ujian bagi kredibilitas sistem peradilan Afrika Selatan. Publik menantikan apakah dakwaan terhadap para tersangka akan diperluas, serta bagaimana pihak berwenang menangani kasus kekerasan terhadap atlet yang masih aktif. Pertanyaan yang mengemuka: apakah ini murni aksi kriminal, atau ada motif lain di balik penembakan tersebut? Ke depannya, perlindungan terhadap atlet dan tokoh publik harus menjadi prioritas agar tragedi serupa tidak terulang.



