70 Up Jadi Penutup Dokumenter Legendaris yang Mengikuti 14 Orang Selama 62 Tahun
Baca dalam 60 detik
- ITV mengakhiri serial dokumenter Up dengan episode final 70 Up yang disutradarai Asif Kapadia, tayang tahun ini di ITV1 dan ITVX.
- Serial yang dimulai 1964 ini menjadi studi sosial unik tentang kelas dan mobilitas di Inggris, dengan 12 dari 14 partisipan asli kembali hadir.
- Dua program spin-off, termasuk 7 Up: The Story dan 70 Up: The Victorians, akan menemani penutupan serial untuk memperkaya konteks sejarah.

ITV resmi mengumumkan bahwa serial dokumenter ikonik Up akan segera berakhir setelah enam dekade mengudara. Babak pamungkas bertajuk 70 Up akan menjadi penutup dari perjalanan panjang yang telah merekam kehidupan 14 warga Inggris sejak usia tujuh tahun, sebuah proyek yang belum pernah ada bandingannya dalam sejarah televisi dunia.
Episode final yang merupakan bagian kesepuluh ini direncanakan tayang dalam dua segmen berdurasi 90 menit di ITV1 dan platform streaming ITVX pada akhir tahun ini. Yang menarik, kursi sutradara dipegang oleh Asif Kapadia, sineas pemenang Oscar yang dikenal lewat film dokumenter Amy dan Senna. Ia menggantikan Michael Apted yang wafat pada 2021, sosok yang selama puluhan tahun menjadi arsitek utama serial ini sejak edisi 7 Up pertama kali tayang pada 1964.
Keputusan mengakhiri serial ini tentu bukan tanpa alasan. Dari 14 partisipan awal, dua di antaranya, Lynn Johnson dan Nick Hitchon, telah meninggal dunia. Namun kabar baiknya, Charles Furneaux yang terakhir muncul di 21 Up akan kembali untuk episode pamungkas ini. Sebagian besar partisipan lain, mulai dari Tony si sopir taksi hingga Sue yang berprofesi sebagai administrator universitas, juga dipastikan hadir. Total ada 12 orang yang akan kembali ke layar kaca, sebuah reuni yang emosional sekaligus bersejarah.
Serial Up sendiri bukan sekadar tayangan dokumenter biasa. Ia adalah eksperimen sosial yang mengikuti prinsip 'beri aku anak hingga usia tujuh tahun, maka kau akan kulihat pria dewasa'โsebuah adagium yang kerap dikaitkan dengan filsuf Jesuit. Selama 62 tahun, penonton diajak menyaksikan bagaimana latar belakang kelas, pendidikan, dan pilihan hidup membentuk nasib para partisipan. Di Inggris, serial ini menjadi cermin perubahan sosial yang dramatis, dari era pasca-perang hingga era digital.
Menariknya, ITV tidak hanya menutup kisah ini dengan 70 Up. Mereka juga menyiapkan dua program pendamping yang menggali sejarah di balik layar. 7 Up: The Story akan mengupas konsepsi awal acara ini sekaligus menampilkan potret kehidupan Inggris pada 1964. Sementara itu, 70 Up: The Victorians akan menayangkan rekaman langka sekelompok orang berusia 70 tahun yang lahir di era Victoria, yang diwawancarai pada saat yang sama dengan dimulainya 7 Up. Rekaman yang sempat terlupakan ini ditemukan kembali oleh tim arsip MultiStory Media milik ITV Studios saat mereka sedang menggarap episode final.
Bagi penonton Indonesia, kisah Up mungkin terasa asing, tetapi esensinya universal. Serial ini mengingatkan kita pada pentingnya mendokumentasikan perjalanan hidup secara jangka panjangโsesuatu yang jarang dilakukan di industri televisi kita. Di tengah maraknya konten instan dan berdurasi pendek, Up menjadi bukti bahwa kesabaran dan konsistensi dapat menghasilkan karya yang mendalam dan bermakna. Bagaimana jika suatu hari nanti ada produser Indonesia yang berani membuat proyek serupa? Mungkin itu pertanyaan yang layak direnungkan.
Dengan berakhirnya Up, dunia kehilangan salah satu serial dokumenter paling ambisius dalam sejarah. Namun, warisan yang ditinggalkannya akan terus hidup, tidak hanya melalui rekaman arsip, tetapi juga melalui inspirasi bagi generasi sineas masa depan. Apakah akan ada lagi proyek dokumenter yang mampu bertahan selama enam dekade? Atau justru era digital ini akan melahirkan format baru yang lebih interaktif? Hanya waktu yang bisa menjawab.



