Sanksi AS ke Iran dan Rapat Fed Bayangi Pasar Global, IHSG Berpotensi Tertekan
Baca dalam 60 detik
- Pasar saham global dan harga minyak melemah jelang pengumuman sanksi AS terhadap Iran yang akan disampaikan Menteri Keuangan Scott Bessent.
- Investor mencermati rilis laba Nvidia dan pidato Gubernur The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole untuk menentukan arah kebijakan suku bunga.
- Eskalasi perang dagang AS-Kanada serta aksi korporasi Alibaba menambah ketidakpastian, berpotensi mempengaruhi sentimen pasar Indonesia.

Langkah Washington menjatuhkan sanksi baru terhadap Teheran menjadi pemicu utama gejolak di pasar keuangan global pada awal pekan ini. Indeks saham utama di Eropa dan Asia dibuka melemah, sementara harga minyak mentah turun lebih dari satu persen, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan pasokan dari Selat Hormuz. Eskalasi ini terjadi di tengah ketidakpastian lain, mulai dari rilis laba raksasa chip Nvidia hingga sinyal kebijakan moneter bank sentral AS.
Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, dijadwalkan menggelar konferensi pers untuk memaparkan rincian sanksi yang menyasar Iran. Negeri para Ayatollah itu dinilai belum menunjukkan tanda-tanda akan melepaskan kendali atas Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak dunia. Aksi ambil untung para trader setelah kenaikan signifikan pekan lalu turut menekan harga minyak, namun analis memperingatkan bahwa volatilitas masih akan tinggi seiring perkembangan geopolitik.
Sementara itu, pelaku pasar menanti laporan keuangan Nvidia yang akan dirilis Rabu. Ekspektasi terhadap perusahaan semikonduktor tersebut sangat tinggi, dengan proyeksi pendapatan kuartalan yang hampir dua kali lipat menjadi sekitar 92 miliar dolar AS. "Nada rilis laba Nvidia akan sangat menentukan sentimen di pasar Nasdaq," ujar Mark Ellis, Chief Investment Officer Nutshell Asset Management. Jika hasilnya di bawah ekspektasi, aksi jual di sektor teknologi berpotensi meluas.
Dari sisi kebijakan moneter, Gubernur Federal Reserve Kevin Warsh dijadwalkan berbicara di simposium Jackson Hole pada Jumat. Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 40 persen pada pertemuan September, dan sepenuhnya memperhitungkan langkah serupa pada Desember. Namun, Bruce Kasman, ekonom utama JPMorgan, mengingatkan bahwa Warsh cenderung menghindari panduan ke depan dan lebih fokus pada agenda 'perubahan rezim' yang diusungnya, termasuk pengurangan neraca bank sentral. Pernyataan ini berpotensi mengecewakan investor yang berharap kejelasan arah suku bunga.
Di sisi lain, perang dagang antara AS dan Kanada kembali memanas. Perdana Menteri Kanada Mark Carney mengumumkan rencana pembalasan tarif terhadap berbagai produk AS, mulai dari baja, produk susu, hingga elektronik, setelah negosiasi dagang gagal. Dolar Kanada melemah 0,5 persen terhadap dolar AS, menambah daftar ketidakpastian yang membebani mata uang negara berkembang. Sementara itu, harga emas justru menguat ke level 4.640 dolar AS per ons, naik 15 persen sepanjang bulan ini, menegaskan posisinya sebagai aset lindung nilai di tengah gejolak.
Bagi pasar Indonesia, kombinasi faktor eksternal ini berpotensi menekan IHSG dan nilai tukar rupiah. Kenaikan yield obligasi AS yang berkelanjutan dapat memicu arus keluar modal asing dari pasar obligasi domestik. Namun, fundamental ekonomi Indonesia yang relatif stabil dan cadangan devisa yang memadai diharapkan mampu meredam dampak negatif. Investor domestik disarankan mencermati perkembangan sanksi Iran dan pidato Warsh sebagai penentu arah pasar dalam jangka pendek.
Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah sanksi AS terhadap Iran benar-benar mengganggu pasokan minyak global, atau hanya sekadar retorika politik? Jawabannya akan sangat menentukan arah inflasi dan kebijakan moneter di berbagai negara, termasuk Indonesia. Dengan begitu banyak variabel yang belum pasti, volatilitas pasar diperkirakan akan terus berlanjut dalam beberapa pekan ke depan.



