Teofimo Lopez Kunci Gelar Juara Dunia Ketiga, tapi Abaikan Tantangan Jack Catterall
Baca dalam 60 detik
- Teofimo Lopez menang angka mutlak atas Rolando Romero di Las Vegas, merebut sabuk WBA Super kelas welter dan menjadi juara tiga divisi.
- Alih-alih menghadapi penantang wajib Jack Catterall, Lopez mengarahkan bidikan ke pemenang duel Ryan Garcia vs Conor Benn atau unifikasi dengan Liam Paro.
- Keputusan Lopez memicu perdebatan soal prioritas gelar versus laga unifikasi, sekaligus membuka peluang Catterall untuk mendapatkan mandat dari WBA.

Teofimo Lopez menorehkan sejarah baru di karier tinju profesionalnya dengan mengalahkan Rolando Romero di T-Mobile Arena, Las Vegas, Sabtu (6/9) waktu setempat. Kemenangan angka mayoritas itu mengantarkan petinju asal Brooklyn tersebut merebut sabuk WBA Super kelas welter, sekaligus menjadikannya juara dunia di tiga divisi berbeda. Namun, di tengah euforia kemenangan, Lopez justru memicu kontroversi dengan menolak menyebut nama Jack Catterall sebagai lawan berikutnya.
Lopez, yang sebelumnya pernah memegang gelar di kelas ringan dan ringan welter, tampil dominan sepanjang dua belas ronde. Ia mengandalkan jabbing untuk mengontrol jarak dan meredam agresivitas Romero. Meski sempat mengalami luka cukup serius di atas mata kanan pada ronde kelima, Lopez tetap tenang dan berhasil memenangi pertarungan dengan skor 116-112 dan 115-113 dari dua juri, sementara satu juri lain memberikan hasil imbang 114-114. Kemenangan ini menjadi yang ke-23 dari 25 pertarungan profesionalnya, namun ia masih belum mencatatkan kemenangan knockout sejak 2022.
Yang menarik, alih-alih menatap Catterall yang merupakan penantang wajib, Lopez justru menyebut nama-nama besar lain. Ia mengincar pemenang duel WBC antara Ryan Garcia dan Conor Benn yang dijadwalkan berlangsung di arena yang sama pada 12 September mendatang. "Jadi, ada Ryan Garcia versus Conor Benn. Itu laga berikutnya. Kita lihat saja nanti. Kalau Conor menang, itu pertarungan bagus untuk dibawa ke seberang Atlantik," ujar Lopez. Ia juga menyebut kemungkinan unifikasi dengan Liam Paro, juara IBF asal Australia, atau menunggu Devin Haney yang memegang sabuk WBO.
Keputusan Lopez ini jelas mengecewakan Catterall, yang memegang gelar WBA Regular dan secara otomatis menjadi penantang wajib. Petinju asal Chorley itu langsung merespons melalui media sosial dengan nada percaya diri. "Selamat Teofimo Lopez, tapi saya akan mengambil sabuk itu 100 persen. Ayo," tulisnya. Respons ini menegaskan bahwa Catterall tidak akan tinggal diam, dan ia berharap WBA tidak mengabaikan statusnya demi laga unifikasi yang lebih menguntungkan secara komersial.
Bagi penggemar tinju Indonesia, perkembangan ini menarik karena menunjukkan bagaimana dinamika kelas welter semakin memanas. Lopez, yang dikenal dengan gaya bertarung agresif dan teknikal, kini berada di posisi strategis untuk menentukan arah kariernya. Jika ia memilih menghadapi pemenang Garcia-Benn, laga tersebut berpotensi menjadi mega fight yang menyedot perhatian global, termasuk di Indonesia yang memiliki basis penggemar tinju yang cukup besar. Sementara itu, jika ia memilih unifikasi dengan Paro, maka akan tercipta juara sejati di kelas welter, sebuah gelar yang selama ini terpecah-pecah di berbagai badan sanksi.
Di sisi lain, Romero yang kalah tampak tidak terima dengan hasil keputusan juri. "Dia tidak pernah menyakiti saya. Justru dia yang terluka beberapa kali sepanjang pertarungan," protesnya. Namun, statistik menunjukkan bahwa Lopez lebih unggul dalam hal akurasi pukulan dan penguasaan ring. Romero, yang sebelumnya tampil agresif, justru cenderung pasif di ronde-ronde akhir, sehingga gagal memanfaatkan momentum saat Lopez terluka.
Konteks domestik juga relevan: di Indonesia, pertarungan tinju kelas dunia selalu menjadi tontonan yang dinantikan, terutama dengan maraknya platform streaming yang menayangkan laga-laga internasional. Keputusan Lopez untuk tidak langsung menghadapi Catterall bisa jadi akan memicu perdebatan di kalangan penggemar, apakah ia menghindari lawan berbahaya atau justru mencari tantangan yang lebih besar. Yang jelas, kelas welter kini menjadi salah satu divisi paling menarik untuk diikuti, dengan banyak nama besar saling berebut supremasi.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: akankah WBA memaksa Lopez untuk menghadapi Catterall, atau memberikan kelonggaran untuk laga unifikasi? Jika Lopez memilih jalur unifikasi, maka Catterall harus bersabar menunggu kesempatan berikutnya. Namun, jika ia nekat menghadapi pemenang Garcia-Benn, risiko kekalahan akan semakin besar, mengingat kedua petinju tersebut sama-sama memiliki kekuatan pukulan yang mematikan. Apapun keputusannya, satu hal yang pasti: karier Lopez di kelas welter baru saja dimulai, dan semua mata akan tertuju pada langkah selanjutnya.



