Duel Fury-Joshua Terancam Batal: Perebutan Tempat dan Uang Jadi Biang Kerok
Baca dalam 60 detik
- Negosiasi laga tinju super antara Tyson Fury dan Anthony Joshua menemui jalan buntu akibat perbedaan lokasi dan kompensasi finansial.
- Tim Joshua menuntut penyesuaian kontrak jika duel digelar di Amerika Serikat, sementara Fury menuduh rivalnya hanya mengejar uang.
- Masa depan duel yang sempat dijadwalkan November ini kini bergantung pada respons Sela selaku promotor, dengan potensi beralih ke lawan lain.

Rencana pertarungan super antara dua raksasa tinju kelas berat asal Inggris, Tyson Fury dan Anthony Joshua, kembali di ambang kehancuran. Fury secara terbuka menyatakan bahwa laga yang sempat dijadwalkan pada November mendatang itu "sepertinya tidak akan terjadi", menyusul kebuntuan negosiasi yang dipicu oleh perebutan lokasi pertandingan dan persoalan kompensasi finansial. Pernyataan ini disampaikan Fury melalui serangkaian unggahan di Instagram Stories, di mana ia melontarkan kritik pedas kepada Joshua dan promotornya, Eddie Hearn.
Kedua petinju sebenarnya telah menandatangani kontrak untuk bertanding di Inggris, namun promotor asal Arab Saudi, Sela, mendorong agar laga dipindahkan ke Amerika Serikat. Sela, yang juga menaungi kedua petinju dalam kontrak terpisah, disebut lebih menginginkan Madison Square Garden di New York sebagai arena, dengan pertimbangan menjangkau pasar Amerika yang lebih luas. Laga ini pun rencananya akan disiarkan langsung melalui platform streaming Netflix, sebuah langkah yang dinilai ambisius untuk menarik penonton global.
Hearn, yang telah menjadi promotor Joshua sejak 2013, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengirimkan daftar perubahan yang diperlukan jika laga digelar di Amerika. Perubahan utama menyangkut kompensasi untuk Joshua, yang akan menerima bayaran lebih rendah karena perbedaan aturan perpajakan di Amerika Serikat. "Secara sederhana, jika laga digelar di Amerika, Anthony Joshua menerima uang lebih sedikit dibandingkan jika bertarung di Inggris sesuai kontrak yang disepakati," ujar Hearn kepada IFL TV.
Fury, yang memiliki rekor 36 kemenangan dari 39 pertarungan, merespons dengan nada sinis. Ia menyebut Joshua dan Hearn sebagai "menjijikkan" dan "haus uang". "Ini klise yang sama sedekade lalu. Teruslah lari, kalian pengecut," sindir Fury dalam unggahannya. Ia bahkan menantang Dana White, presiden UFC yang kini terlibat dalam promosi tinju melalui Zuffa Boxing, untuk bergabung di sisinya jika ingin membuat laga ini terwujud.
Di balik ketegangan ini, terdapat dinamika yang lebih kompleks. Masuknya Zuffa Boxing, perusahaan patungan antara Sela dan TKO Group Holdings, menambah lapisan baru dalam negosiasi. Hearn menuding TKO dan Zuffa telah meyakinkan pihak Sela bahwa laga ini akan menjadi fenomena besar di Amerika, sehingga mendorong perpindahan lokasi. Namun, Hearn menegaskan bahwa esensi laga ini bukan sekadar jumlah penonton, melainkan warisan tinju Inggris. "Ini tentang tinju Inggris, tentang klub tinju amatir, tentang anak-anak yang menonton pertarungan terbesar di negara kita," tegasnya.
Bagi penggemar tinju Indonesia, laga ini sebenarnya memiliki daya tarik tersendiri. Meski tidak ada petinju Indonesia yang terlibat, pertarungan kelas berat antara dua bintang global selalu menjadi tontonan yang dinanti. Jika laga batal, publik kehilangan momen bersejarah yang mungkin tidak akan terulang. Namun, di sisi lain, kebuntuan ini menunjukkan betapa rumitnya bisnis tinju modern, di mana kepentingan finansial dan politik seringkali mengalahkan sportivitas.
Hearn juga mengungkapkan bahwa daftar perubahan yang dikirim telah disetujui oleh Joshua dan pengacaranya, namun hingga kini belum ada tanggapan dari Sela. "Kami belum menerima umpan balik apa pun," katanya, seraya menambahkan bahwa ia belum mendengar kabar dari Sela selama tiga atau empat hari. Situasi ini diperparah dengan adanya laporan tentang email bocor yang berisi daftar tuntutan, namun Hearn membantah bahwa poin-poin dalam email tersebut merupakan bagian dari daftar resmi yang dikirim ke Sela.
Di tengah ketidakpastian ini, Fury mengancam akan beralih ke lawan lain. "Saya akan move on dan bertarung dengan orang lain, tetapi ketahuilah bahwa kalian tidak pernah punya nyali untuk melawan Tyson Fury," ujarnya. Sementara itu, Hearn tetap berharap laga dapat digelar di Inggris, mengingat sejarah Joshua yang meraih medali emas Olimpiade London 2012 dan mengubah wajah tinju Inggris. Pertanyaannya, apakah Sela akan merespons tuntutan tim Joshua, atau justru memilih untuk membatalkan laga dan mencari alternatif lain? Keputusan ini akan menentukan apakah duel yang telah dinanti selama bertahun-tahun ini akhirnya terwujud atau hanya menjadi mimpi yang kandas.



