Retakan 100 Meter Menganga di Bibir Kawah Kelimutu: Ancaman Longsor Menghantui Wisatawan
Baca dalam 60 detik
- Survei udara mengungkap celah tanah sepanjang 100 meter di Kawah I Kelimutu, berjarak hanya enam meter dari tepi kawah.
- Status gunung tetap Normal, namun potensi longsor meningkat jika terjadi gempa susulan atau hujan deras.
- Badan Geologi mendesak pemasangan garis batas dan papan peringatan untuk melindungi pengunjung yang padat.

Tim pemantau dari Badan Geologi Kementerian ESDM menemukan retakan tanah sepanjang 100 meter di bibir Kawah I (Tiwu Ata Polo) Gunung Kelimutu, Nusa Tenggara Timur, menyusul gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang Flores. Temuan ini memicu kekhawatiran akan terjadinya longsoran yang dapat membahayakan wisatawan yang kerap memadati kawasan danau tiga warna tersebut.
Hasil pengamatan lapangan dan pemetaan menggunakan drone menunjukkan celah tersebut berada sekitar enam meter dari tepi kawah, mengarah ke timur laut sejalan dengan kemiringan lereng. Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menggarisbawahi bahwa kondisi ini memerlukan kewaspadaan ekstra. "Retakan berpotensi meluas dan memicu longsoran ke dalam Kawah I, terutama jika terjadi gempa susulan atau curah hujan tinggi," ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin.
Selain retakan di Kawah I, tim juga mendeteksi longsoran material tua di Kawah II (Tiwu Koofai Nuwamuri) yang sempat menimbulkan suara gemuruh dari puncak gunung. Meski demikian, Lana menegaskan status aktivitas vulkanik Kelimutu masih berada pada Level I atau Normal. Namun, ia tidak menampik bahwa kombinasi antara retakan baru dan material longsor yang tidak stabil meningkatkan risiko bahaya di area kawah.
Bagi industri pariwisata NTT, temuan ini menjadi sinyal yang tidak bisa diabaikan. Kelimutu adalah ikon wisata andalan Flores yang menyumbang kunjungan domestik dan mancanegara. Jika retakan berkembang menjadi longsoran besar, akses ke kawah bisa ditutup, mengganggu pendapatan masyarakat sekitar yang bergantung pada sektor jasa. Badan Geologi pun meminta pemerintah daerah dan pengelola kawasan segera memasang garis pembatas bahaya serta papan peringatan di Kawah I dan II, sembari memperkuat koordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Api Kelimutu di Ende dan PVMBG Bandung.
Langkah mitigasi ini dinilai krusial mengingat tingginya mobilitas wisatawan yang kerap mendekati tepi kawah untuk berfoto. Lana menegaskan, "Perlu dibuat tanda peringatan atau larangan khusus potensi bahaya longsoran di sekitar Kawah I dan Kawah II." Ia juga mengimbau pengunjung untuk tidak beraktivitas pada radius 6โ10 meter dari bibir kawah, sebuah jarak yang kini menjadi zona bahaya utama.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah seberapa cepat retakan ini melebar dan apakah langkah pengamanan akan efektif mencegah korban jiwa. Dengan musim hujan yang masih berlangsung di sebagian wilayah Indonesia, tekanan pada lereng kawah akan semakin besar. Apakah pemerintah daerah akan bergerak cepat, atau justru menunggu hingga tragedi terjadi? Semua mata kini tertuju pada upaya mitigasi di Kelimutu.



