Sunderland Alihkan Incaran ke Ernest Poku: Alternatif Lebih Murah dari Catamo?
Baca dalam 60 detik
- Sunderland dikabarkan mengajukan pertanyaan resmi untuk merekrut winger Bayer Leverkusen, Ernest Poku, dengan banderol €25 juta.
- Langkah ini muncul setelah harga Geny Catamo yang dipatok Sporting CP sebesar £51 juta dinilai terlalu mahal di tengah gejolak bursa transfer.
- Poku, yang dikenal sebagai pemain tercepat di Euro U-21 2024, diharapkan bisa menjadi solusi kreativitas lini serang The Black Cats musim ini.

Sunderland tampaknya harus memutar otak di bursa transfer musim panas ini. Setelah gagal mendekati angka permintaan Sporting CP untuk Geny Catamo yang mencapai £51 juta, klub asal timur laut Inggris itu kini dikabarkan mengalihkan perhatian ke Ernest Poku, winger muda Bayer Leverkusen yang banderolnya jauh lebih bersahabat, yakni €25 juta atau sekitar £21 juta.
Musim lalu, Sunderland mengejutkan banyak pihak dengan finis di posisi ketujuh Liga Inggris, sebuah pencapaian yang mengantarkan mereka ke kompetisi Eropa. Namun, di balik kesuksesan tersebut, ada kelemahan yang cukup mencolok: produktivitas serangan yang rendah. Data menunjukkan The Black Cats termasuk tim dengan peluang emas paling sedikit yang diciptakan di Premier League musim lalu. Ketergantungan pada pertahanan solid dan atmosfer Stadion of Light tidak lagi cukup untuk bersaing di level yang lebih tinggi.
Manajer Regis Le Bris jelas membutuhkan tambahan amunisi di lini depan. Hingga saat ini, belum ada satu pun pemain menyerang yang direkrut. Enzo Le Fee memang tampil impresif dengan enam assist dan 13 peluang emas, tetapi di sisi kanan, Chemsdine Talbi gagal menciptakan satu pun peluang emas sepanjang musim. Kesenjangan ini menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diatasi, terlebih musim baru sudah di depan mata.
Nama Geny Catamo sempat menjadi prioritas. Pemain sayap asal Mozambik itu dikabarkan tertarik pindah ke Wearside, namun Sporting CP mematok harga yang membuat Sunderland berpikir ulang. Di tengah kondisi bursa yang digambarkan seorang agen sebagai "kekacauan"—dengan gaji pemain yang melambung tinggi—Sunderland tampaknya memilih pendekatan yang lebih hati-hati. Mereka mencari pemain dengan nilai yang sepadan, bukan sekadar nama besar.
Ernest Poku muncul sebagai kandidat kuat. Pemain berusia 22 tahun asal Belanda ini sebelumnya menimba ilmu di AZ Alkmaar sebelum pindah ke Leverkusen. Meski hanya menjadi starter dalam 16 pertandingan Bundesliga musim lalu, ia berhasil mencatatkan lima gol dan lima assist. Kecepatan dan kelincahannya menjadi senjata utama, bahkan jurnalis Ronan Murphy pernah menjulukinya sebagai pemain tercepat di Euro U-21 2024. Kemampuannya bermain di berbagai posisi serang—baik sebagai sayap maupun penyerang tengah—memberi fleksibilitas taktis bagi Le Bris.
Perbandingan dengan Le Fee menjadi menarik. Le Fee sempat kesulitan di Rennes sebelum akhirnya bersinar di Sunderland. Poku, yang mengalami musim naik-turun di Leverkusen, diharapkan bisa mengikuti jejak serupa. Ia butuh tempat untuk memulai ulang kariernya, dan Sunderland bisa menjadi panggung yang tepat. Dengan gaya bermain yang mengandalkan kecepatan dan kemampuan menembus pertahanan lawan, Poku berpotensi menjadi elemen kunci dalam skema serangan The Black Cats.
Bagi pembaca di Indonesia, kabar ini menarik karena menunjukkan bagaimana klub-klub Liga Inggris, termasuk yang baru kembali ke papan atas, harus cermat dalam berbelanja pemain di tengah inflasi harga. Fenomena ini juga relevan dengan perkembangan sepak bola Asia Tenggara, di mana klub-klub mulai berani berinvestasi pada pemain muda Eropa yang sedang naik daun. Jika Poku berhasil bersinar di Premier League, ia bisa menjadi inspirasi bagi pemain-pemain muda Indonesia yang bercita-cita menembus liga top Eropa.
Pertanyaan besarnya, apakah Poku mampu beradaptasi dengan cepat dan menjadi pembeda di lini serang Sunderland? Ataukah ia hanya akan menjadi sekadar pelengkap? Musim ini akan menjadi ujian nyata bagi pemain Belanda tersebut, sekaligus bagi ketajaman Le Bris dalam meracik strategi. Jika transfer ini terwujud, publik Wearside tentu berharap Poku bisa menjadi jawaban atas kerinduan akan kreativitas yang selama ini hilang.



