Everton Lebih Butuh Gabriel Jesus daripada Liam Delap: Analisis Perburuan Striker The Toffees
Baca dalam 60 detik
- Everton dikabarkan membuka negosiasi dengan Arsenal untuk mendatangkan Gabriel Jesus, yang banderolnya jauh lebih murah ketimbang Liam Delap.
- Delap gagal bersinar di Chelsea dengan hanya satu gol di Premier League, membuat nilai transfernya yang ยฃ50 juta dinilai terlalu mahal.
- Pengalaman dan fleksibilitas Jesus di lini depan dinilai lebih cocok untuk skema David Moyes dibandingkan opsi lain yang ada.

Everton tengah menghadapi dilema menarik di bursa transfer musim panas ini: merekrut striker muda Inggris yang harganya selangit, atau memanfaatkan pengalaman pemain Brasil yang banderolnya jauh lebih bersahabat. Kabar dari media Spanyol, AS, menyebut The Toffees telah membuka pembicaraan dengan Arsenal untuk mengamankan jasa Gabriel Jesus, yang justru lebih diprioritaskan ketimbang mengejar Liam Delap dari Chelsea.
Musim lalu menjadi antiklimaks bagi Everton. Ditangani David Moyes, tim asal Merseyside itu hanya mampu finis di peringkat ke-13 klasemen Premier League, jauh dari ekspektasi awal yang sempat menargetkan tiket Liga Champions. Kini, dengan kontrak Moyes yang tersisa satu tahun, tekanan untuk segera memperbaiki skuad menjadi sangat nyata. Prioritas utama memang ada di posisi bek kanan, tetapi kebutuhan akan penyerang yang lebih tajam juga tak bisa diabaikan, terutama dengan masa depan Iliman Ndiaye yang belum jelas.
Di lini depan, Everton sebenarnya memiliki Beto dan Thierno Barry yang akan bersaing memperebutkan posisi penyerang utama. Namun, Barry justru dikaitkan dengan kepindahan ke RB Leipzig, sementara nama Delap muncul sebagai target. Masalahnya, performa Delap di Chelsea musim lalu sangat mengecewakan. Hanya mencetak satu gol di Premier League, nilai jualnya pun anjlok. Chelsea yang membelinya dari Ipswich Town seharga ยฃ30 juta setahun lalu, kini memasang banderol ยฃ50 jutaโangka yang dinilai Everton terlalu berlebihan.
Di sisi lain, Gabriel Jesus menawarkan paket yang lebih menarik. Usianya baru 29 tahun, tetapi sudah malang melintang di Premier League dengan lima gelar juara, 79 gol, dan 45 assist dalam 243 penampilan. Pengalaman dan kecerdasannya dalam membaca permainan diyakini bisa membawa Everton ke level penguasaan bola yang lebih baik. Moyes, yang dikenal pragmatis, mungkin melihat Jesus sebagai sosok yang bisa memberi dimensi baru di lini serang, terutama dengan kehadiran dua striker bertipe power seperti Beto dan Barry.
Meski begitu, ada catatan penting terkait kebugaran Jesus. Beberapa musim terakhir ia kerap diganggu cedera, yang membuatnya kehilangan tempat utama di Arsenal. Namun, dengan adanya opsi lain di lini depan, manajemen Everton bisa mengelola menit bermainnya dengan bijak. Jika Jesus mampu menjaga kebugarannya, ia bisa menjadi pembeda yang membawa Everton bersaing di papan atas, alih-alih membuang dana besar untuk Delap yang justru gagal menunjukkan performa terbaiknya.
Konteks ini menarik untuk dicermati dari perspektif Indonesia. Meski bukan liga yang secara langsung melibatkan pemain Indonesia, Premier League memiliki basis penggemar yang sangat besar di Tanah Air. Keputusan Everton dalam memilih striker akan memengaruhi daya saing tim, yang pada akhirnya berdampak pada kualitas tontonan bagi penggemar setia di Indonesia. Selain itu, pergerakan bursa transfer seperti ini kerap menjadi sorotan media dan bahan diskusi hangat di berbagai platform, menunjukkan betapa eratnya hubungan emosional antara penggemar Indonesia dan klub-klub Eropa.
Pertanyaan besarnya kini: apakah Moyes berani mengambil risiko dengan pemain yang sempat redup, atau tetap memilih opsi yang lebih aman namun mahal? Keputusan ini tidak hanya menentukan arah bursa transfer Everton, tetapi juga menjadi sinyal ambisi klub dalam menembus papan atas Inggris. Jika Jesus datang dengan harga miring dan tampil konsisten, ini bisa menjadi salah satu pencurian terbaik musim panas. Namun, jika cedera kembali menghantuinya, Everton mungkin akan menyesali keputusan ini di tengah musim.



