Album Solo Brandon Flowers: Lebih Personal, Jauh dari Gaya The Killers
Baca dalam 60 detik
- Vokalis The Killers, Brandon Flowers, merilis album solo 'Thrasher' yang sarat nuansa country dan kisah pribadi.
- Album ini digarap setelah sesi rekaman 'Pressure Machine', dengan lagu-lagu yang dianggap terlalu personal untuk dibawakan bersama band.
- Tur solo yang akan datang menjanjikan pengalaman intim di ruang kecil, kontras dengan megahnya konser The Killers.

Vokalis The Killers, Brandon Flowers, kembali dengan album solo terbarunya bertajuk 'Thrasher'. Pria 45 tahun itu mengungkapkan bahwa proyek ini terasa 'natural' karena lagu-lagu di dalamnya sangat personal, jauh dari nuansa khas The Killers. Album ini menjadi karya solo pertamanya setelah hampir satu dekade, mengikuti jejak 'The Desired Effect' yang rilis pada 2015.
Proses kreatif 'Thrasher' dimulai tak lama setelah The Killers menyelesaikan album 'Pressure Machine' pada 2021. Namun, saat materi mulai terkumpul, Flowers merasa lagu-lagu tersebut tidak cocok untuk dibawakan bersama band. "Lagu-lagu ini tidak terasa seperti lagu The Killersโterlalu personal, jadi wajar jika menjadi album solo," ujarnya dalam wawancara dengan The Sun. Ia menambahkan bahwa album ini menjadi wadah untuk menyalurkan memori, karakter, dan kesedihan yang selama ini tersimpan.
Nuansa country yang kental pada 'Thrasher' tak lepas dari pengaruh sang ayah, Terry Flowers. Sejak kecil, Brandon terbiasa mendengar musik country dari ayahnya, mulai dari legenda seperti Johnny Cash, Waylon Jennings, hingga nama yang lebih jarang didengar seperti John Conlee. "Saat remaja, saya merasa harus memilih: menjadi anak yang mendengarkan New Order atau Waylon Jennings. Kini, semakin dewasa, saya justru kembali ke musik ayah saya," tuturnya. Ia bahkan mengaku masih berusaha membuktikan diri kepada sang ayah yang baru saja menjalani operasi jantung terbuka di usia 81 tahun.
Bagi penggemar di Indonesia, fenomena ini menarik karena menunjukkan bagaimana seorang musisi bisa mengeksplorasi sisi lain di luar band utamanya. Di tengah industri musik yang didominasi single dan kolaborasi, langkah Flowers untuk merilis album solo dengan konsep personal dan intim bisa menjadi inspirasi bagi musisi Tanah Air yang ingin bereksperimen tanpa terbebani ekspektasi pasar. Apalagi, tren musik country dan folk mulai mendapat tempat di telinga pendengar Indonesia, membuka peluang bagi musisi lokal untuk mengeksplorasi genre serupa.
Untuk mendukung album ini, Flowers akan menggelar tur solo yang kontras dengan kemegahan konser The Killers. Ia memilih venue-venue kecil seperti Royal Albert Hall, dengan format yang lebih intim dan penuh cerita. "Saya akan bercerita lebih banyak dan memanfaatkan ruang kecil ini. Di stadion, hal itu mustahil dilakukan," jelasnya. Ia juga mengaku khawatir penonton bosan dengan lagu 'Mr. Brightside' yang selalu dibawakan The Killers, sehingga ia bersyukur memiliki wadah lain untuk berekspresi.
Langkah Brandon Flowers ini menegaskan bahwa seorang musisi tidak harus terpaku pada satu identitas. Dengan 'Thrasher', ia berhasil merangkai narasi personal yang mungkin tidak akan pernah terdengar dalam bingkai The Killers. Pertanyaannya, akankah album ini mampu bersaing di tengah gempuran musik pop yang serba cepat? Atau justru menjadi oase bagi pendengar yang merindukan keintiman bermusik? Waktu yang akan menjawab, namun satu hal pasti: Flowers berani mengambil risiko demi sebuah karya yang jujur.



