Dukungan Mengalir untuk Penjual Mie yang Didorong Usai Menepuk Kepala Anak: Kisah di Balik Kontroversi
Baca dalam 60 detik
- Pelanggan setia mendatangi kedai Bei-Ing Wanton Noodles di Singapura untuk memberi semangat pada Yeo Song Khoon, 73 tahun, yang didorong hingga jatuh setelah menepuk kepala seorang anak.
- Insiden yang terekam CCTV itu memicu perdebatan publik tentang batas interaksi fisik dengan anak, sementara polisi masih menyelidiki kasus tersebut.
- Di tengah penyelidikan, dukungan komunitas menjadi sorotan, dengan beberapa orang tua bahkan mengizinkan Yeo menepuk kepala anak mereka sebagai bentuk terapi.

Hampir sepekan setelah insiden mendorong yang menimpa Yeo Song Khoon, pemilik kedai mie Bei-Ing Wanton Noodles di Singapura, arus dukungan dari pelanggan tak surut. Mereka datang bukan hanya untuk menikmati hidangan, tetapi juga untuk menyampaikan harapan baik dan simpati kepada pria 73 tahun yang didorong hingga terjatuh setelah menepuk kepala seorang anak perempuan.
Insiden yang terjadi pada 15 Agustus di gerai Roxy Square itu terekam kamera pengawas dan viral di media sosial. Dalam rekaman, Yeo yang terlihat berjalan terbungkuk menggunakan meja sebagai penyangga, sempat mengulurkan tangan dan menepuk kepala seorang gadis kecil. Sang ayah yang melihat kejadian itu langsung bereaksi dan mendorong Yeo hingga jatuh. Keluarga korban kemudian melaporkan kejadian tersebut ke polisi.
Polisi Singapura, seperti dikutip CNA, mengonfirmasi bahwa kasus ini masih dalam penyelidikan. Laporan medis Yeo telah diserahkan kepada pihak berwenang untuk melengkapi proses hukum. Sementara itu, polisi juga telah mengidentifikasi seorang pria yang diduga terlibat dalam insiden tersebut.
Di tengah penyelidikan, dukungan dari pelanggan setia justru menjadi sorotan. Sejumlah orang tua dengan sengaja membawa anak-anak mereka untuk bertemu Yeo, bahkan mempersilakannya menepuk kepala buah hati mereka. Jo Ng, seorang teknolog tidur berusia 40 tahun, datang bersama putrinya yang berusia satu tahun. Ia mengaku memberikan izin kepada Yeo untuk menepuk kepala anaknya sebagai bentuk terapi. "Saya bilang, 'Anda boleh menepuk kepalanya', dan dia tampak nyaman. Semoga ini menjadi terapi juga untuknya, karena dia mungkin trauma menyentuh kepala anak," ujar Ng.
Joanne Fu, seorang ibu berusia 41 tahun, juga datang bersama putrinya yang berusia empat tahun. Ia meminta sang anak memberikan balon bertuliskan "get well soon" kepada Yeo. "Saya harap dia bisa bangkit kembali. Semoga kecintaannya pada anak-anak terus berlanjut," kata Fu dalam bahasa Mandarin. Hal serupa diungkapkan Janice Tan, ibu rumah tangga yang membawa tiga anaknya yang berusia 7 hingga 12 tahun. "Mereka sedih melihat berita tentang om Yeo. Jadi hari ini saya bilang, 'Om, tiga anak ini boleh kamu tepuk kepalanya kapan saja'," tuturnya.
Yeo sendiri mengaku kini lebih berhati-hati saat berinteraksi dengan anak-anak. "Jika mereka bilang saya boleh mendekati anak mereka, maka saya akan melakukannya," ujarnya. Namun, karena efek obat pereda nyeri punggung yang membuatnya disorientasi, Yeo enggan menjawab pertanyaan lebih lanjut. Meski demikian, ia sempat mengungkapkan bahwa dokter mengonfirmasi adanya patah tulang di punggungnya.
Di meja sebelah stan, terlihat hamparan hadiah, buah-buahan, dan bingkisan dari pelanggan. Bisnis kedai tetap ramai, dengan waktu tunggu hingga satu jam pada jam makan siang. Dukungan ini menunjukkan solidaritas masyarakat terhadap Yeo, yang menurut keluarganya telah kesulitan berjalan selama bertahun-tahun.
Insiden ini memicu perdebatan tentang batas interaksi fisik dengan anak di ruang publik. Di Indonesia, kasus serupa juga pernah terjadi, di mana orang dewasa yang menepuk atau menyentuh anak tanpa izin bisa dianggap sebagai pelecehan. Namun, konteks budaya dan niat baik sering kali menjadi pertimbangan. Polisi Singapura mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi dan membiarkan proses hukum berjalan.
Ke depan, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya komunikasi dan persetujuan dalam interaksi sosial, terutama yang melibatkan anak-anak. Pertanyaannya, bagaimana masyarakat dapat menyeimbangkan antara kewaspadaan terhadap potensi pelecehan dan pemahaman terhadap niat baik orang tua yang mungkin tidak bermaksud negatif? Jawabannya mungkin terletak pada dialog yang lebih terbuka dan edukasi publik yang berkelanjutan.



