Teh Laos Utara Mencuri Perhatian di Hong Kong: Dua Penghargaan Internasional Diraih
Baca dalam 60 detik
- Delegasi teh Laos Utara membawa pulang dua penghargaan bergengsi dari Hong Kong Tea Competition 2026, mengalahkan 160 peserta dari 60 negara.
- Kemenangan ini didukung oleh proyek Green CUP yang didanai AFD dan Uni Eropa, bertujuan meningkatkan kualitas dan akses pasar produk pertanian Laos.
- Prestasi ini membuka peluang bagi produk teh dan kopi Laos untuk menembus pasar Asia, sekaligus menjadi pelajaran bagi industri serupa di Indonesia.

Vientiane, 21 Agustus 2026 โ Dua produk teh asal Laos Utara berhasil meraih penghargaan di ajang Hong Kong Tea Competition 2026, sebuah pencapaian yang menempatkan Laos di peta industri teh global. Dalam kompetisi yang diikuti 160 peserta dari lebih dari 60 negara, teh hitam Lanexang dari Thipphavong Tea Processing Factory meraih posisi kedua runner-up untuk kategori Black Tea (Orthodox), sementara teh putih Kanewasanh dari Nyot Ou Tea Cooperative meraih posisi yang sama di kategori Other Teas.
Prestasi ini bukan sekadar kebanggaan nasional, tetapi juga buah dari kerja keras proyek Green CUP yang digagas Kementerian Pertanian dan Lingkungan Laos, didanai bersama oleh Agence Franรงaise de Dรฉveloppement (AFD) dan Uni Eropa. Proyek ini bertujuan memberdayakan koperasi dan organisasi produsen di provinsi Phongsaly untuk meningkatkan kualitas produk, memperluas akses pasar, dan mempromosikan praktik pertanian berkelanjutan. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa pendampingan yang terstruktur dapat mengangkat produk lokal ke pentas internasional.
Delegasi Laos tidak hanya memamerkan teh, tetapi juga kopi Arabika yang ditanam di bawah naungan pohon (shade-grown) dalam sesi cupping resmi. Kopi ini menarik minat besar dari para pemanggang dan importir khusus, menandakan bahwa Laos memiliki potensi besar sebagai pemasok produk specialty. Selama tiga hari pameran, stan Laos selalu ramai dikunjungi, terutama saat sesi pencicipan teh di Tea Gallery yang menampilkan teh-teh pemenang penghargaan.
Bagi Indonesia, pencapaian ini menjadi cermin sekaligus tantangan. Indonesia, sebagai salah satu produsen teh terbesar di dunia, seringkali masih berkutat pada pasar komoditas. Keberhasilan Laos dalam membangun citra teh specialty melalui pendekatan proyek terarah dan partisipasi aktif dalam pameran internasional bisa menjadi pelajaran berharga. Apakah Indonesia akan mampu mengikuti jejak Laos dalam mengangkat produk teh lokal ke tingkat global?
Menurut pengamat industri teh Asia, kemenangan ini tidak lepas dari strategi diferensiasi produk. Laos menonjolkan keunikan rasa dan cerita di balik tehnya, sebuah pendekatan yang mulai dilirik oleh negara-negara produsen lain. "Mereka tidak menjual teh sebagai komoditas, tetapi sebagai produk dengan warisan budaya," ujar seorang analis yang enggan disebut namanya.
Ke depan, pertanyaannya adalah bagaimana Laos mempertahankan momentum ini. Apakah mereka akan mampu meningkatkan produksi tanpa mengorbankan kualitas? Atau justru akan menghadapi tantangan logistik dan regulasi yang sering menghambat ekspor? Bagi Indonesia, ini adalah saat yang tepat untuk mengevaluasi strategi pengembangan produk teh dan kopi nasional, agar tidak tertinggal dalam persaingan pasar global yang semakin kompetitif.



