Prediksi Premier League 2025/26: Manusia Vs AI, Chris Sutton Tantang Microsoft Copilot
Baca dalam 60 detik
- Musim baru Premier League 2025/26 dimulai dengan duel prediksi antara pakar Chris Sutton dan AI Microsoft Copilot, yang musim lalu menjuarai liga prediksi BBC.
- Sutton, yang kalah tipis di hari terakhir musim lalu, kini didampingi vokalis Courteeners, Liam Fray, untuk membalas kekalahan dari mesin.
- Fokus utama musim ini adalah performa Manchester United di bawah Michael Carrick, yang diyakini Fray bisa membangkitkan Marcus Rashford.

Liga Premier Inggris 2025/26 resmi bergulir akhir pekan ini, dan persaingan di dalam lapangan ternyata bukan satu-satunya yang menarik perhatian. Di luar stadion, terjadi duel sengit antara manusia dan kecerdasan buatan (AI) dalam memprediksi hasil pertandingan. Musim lalu, Microsoft Copilot, chatbot AI, berhasil mengungguli 380 prediksi pakar BBC Sport, Chris Sutton, dan para pembaca. Kini, Sutton bersiap membalas kekalahan tersebut dengan bantuan tamu spesial di pekan pembuka: vokalis band indie asal Manchester, Courteeners, Liam Fray.
Kompetisi prediksi ini bukan sekadar permainan iseng. Setiap prediksi yang tepat—menebak menang, kalah, atau seri—memberikan 10 poin, sementara skor persis bernilai 40 poin. Musim lalu, Sutton mengaku kalah dramatis di hari terakhir. "Itu adalah kekalahan di hari terakhir, begitulah dekatnya saya dengan gelar," ujarnya kepada BBC Sport. Dengan nada bercanda, ia menambahkan, "Saya terus membaca bagaimana model AI menjadi liar dan saling menyerang. Jadi, apakah saya juga diretas? Kedengarannya seperti kecurangan—jika begitu, musim lalu seharusnya menjadi kemenangan bagi saya."
Liam Fray, yang juga penggemar berat Manchester United, optimistis dengan prospek timnya musim ini, terutama karena kehadiran Michael Carrick sebagai manajer. "Saya cukup bersemangat. Kami tidak akan menantang gelar karena kami tidak berada di level Arsenal atau Manchester City, tapi saya pikir kami akan berada di atas—dan saya suka Carrick. Saya langsung ingin memberinya pekerjaan ketika Ruben Amorim dipecat pada Januari," kata Fray. Ia menilai Carrick memiliki koneksi emosional dengan klub dan penggemar, sesuatu yang kurang dari manajer-manajer sebelumnya seperti Ralf Rangnick, Erik ten Hag, atau Amorim. "Ini seperti berada di atas panggung—tidak sulit untuk menunjukkan kepada penonton bahwa Anda sepenuhnya terlibat dalam apa yang Anda lakukan," tambahnya.
Menariknya, Fray bukan pendatang baru dalam permainan prediksi ini. Pada pekan pembuka musim 2024/25, ia berhasil mengalahkan Sutton dengan skor 150 poin, yang membuatnya bertahan di puncak papan peringkat tamu sepanjang musim. "Itu berarti ini adalah kesempatan gratis kali ini," katanya. "Bahkan jika saya salah semua, tidak ada tekanan."
Dalam prediksinya untuk pekan pertama, Sutton dan Fray memberikan pandangan mereka untuk beberapa pertandingan kunci. Untuk laga Arsenal vs Coventry City, Sutton memprediksi kemenangan telak Arsenal 3-0, mengingat kekuatan skuad The Gunners yang tampil impresif di Community Shield. Sementara Fray, yang mengenang masa kecilnya dengan album stiker Merlin, juga memilih Arsenal menang 3-0. Di laga Hull City vs Manchester United, Sutton khawatir dengan jadwal padat United yang harus bermain di Liga Champions, namun tetap memilih United menang 0-3. Fray setuju, bahkan memilih skor lebih besar, 0-3, dengan alasan atmosfer kandang Hull justru bisa menjadi bumerang.
Salah satu sorotan menarik adalah masa depan Marcus Rashford di Manchester United. Fray, yang mengaku menyayangi Rashford, berharap Carrick bisa mengeluarkan kemampuan terbaik pemain sayap tersebut. "Saya memikirkan tentang berjalan di atas panggung di konser kampung halaman dan saya tahu bagaimana rasanya. Jika saya adalah Marcus, saya akan berpikir 'saya akan membuat ini berhasil' karena betapa istimewanya jika itu terjadi," tuturnya. Namun, ia juga ragu apakah itu akan terjadi.
Pertandingan lain yang menarik adalah Newcastle United vs Liverpool. Sutton menyoroti kepergian Sandro Tonali dan Bruno Guimaraes dari Newcastle yang dianggapnya merobek jantung tim. Namun, ia tetap memprediksi kemenangan Liverpool 1-2, dengan Alexander Isak yang akan bersinar. Fray, yang merasa iba dengan penggemar Newcastle, juga memilih Liverpool menang 1-2. Sementara itu, di laga Fulham vs Chelsea, Sutton khawatir dengan kepergian Marco Silva dari Fulham dan memprediksi Chelsea menang 0-2. Fray sependapat, meski ia mengingatkan penggemar Fulham untuk waspada terhadap potensi degradasi.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, persaingan prediksi ini menambah warna dalam mengikuti Premier League. Meski tidak ada keterlibatan langsung, tren penggunaan AI dalam analisis olahraga semakin relevan, mengingat banyaknya platform taruhan dan aplikasi prediksi yang mulai mengadopsi teknologi serupa. Ke depannya, pertanyaan yang muncul: akankah AI terus mendominasi, atau manusia seperti Sutton dan Fray mampu membalikkan keadaan musim ini?



