Khofifah Sematkan Satyalancana ke 467 ASN Jatim, Tekankan Inovasi sebagai Ukuran Pengabdian
Baca dalam 60 detik
- Gubernur Jatim memberikan penghargaan Satyalancana Karya Satya kepada 467 ASN sebagai pengakuan masa bakti 10, 20, dan 30 tahun.
- Khofifah mendorong ASN untuk tidak berpuas diri dengan masa kerja, melainkan terus berinovasi, seperti program SIKAP yang mendukung ketahanan pangan.
- Praktik baik SIKAP diharapkan direplikasi ke seluruh sekolah dan perangkat daerah, sejalan dengan prioritas nasional Presiden Prabowo.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyematkan tanda kehormatan Satyalancana Karya Satya kepada 467 aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Rabu (19/8) di Surabaya. Penghargaan ini bukan sekadar seremoni, melainkan pengingat bahwa dedikasi puluhan tahun harus berbanding lurus dengan karya nyata yang dirasakan masyarakat.
Penyematan dilakukan dalam dua gelombang, masing-masing untuk 222 dan 245 pegawai. Mereka adalah ASN yang telah mengabdi selama 10, 20, hingga 30 tahun, sebuah rentang waktu yang tidak sebentar. Namun, Khofifah menegaskan bahwa lamanya masa kerja tidak otomatis menjadi ukuran keberhasilan. "Yang lebih penting adalah bagaimana kontribusi itu melahirkan inovasi dan dampak positif bagi publik," ujarnya di hadapan para penerima penghargaan.
Salah satu contoh yang ia sorot adalah program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP) yang digagas Dinas Pendidikan Jawa Timur. Inisiatif ini melibatkan kepala sekolah dan guru dari jenjang SMA, SMK, hingga sekolah luar biasa untuk mengajarkan kemandirian pangan dan jiwa wirausaha kepada peserta didik. Hasilnya, berbagai produk pertanian dan olahan pangan lahir dari sekolah-sekolah tersebut, seperti keripik ikan patin produksi SMKN 1 Tulungagung yang sudah memiliki identitas merek SIKAP.
Menurut Khofifah, SIKAP adalah bukti bahwa inovasi tidak harus selalu berwujud program raksasa. Ia justru mendorong ASN untuk memulai dari persoalan-persoalan kecil di sekitar mereka. "Inovasi bisa dimulai dari hal-hal sederhana dalam keseharian. Yang penting adalah kemauan untuk terus memperbaiki diri dan memberi nilai tambah," kata mantan Menteri Sosial itu. Ia berharap semangat ini menjadi budaya kerja di seluruh jajaran birokrasi Pemprov Jatim.
Lebih jauh, Khofifah mengaitkan inovasi di sektor pendidikan dengan agenda nasional ketahanan pangan yang digaungkan Presiden Prabowo Subianto. Ia menilai, jika setiap sekolah mampu memproduksi bahan pangan sendiri, maka ketergantungan pada pasokan eksternal akan berkurang, sekaligus menumbuhkan jiwa wirausaha sejak dini. "Ini bukan hanya nilai tambah ekonomi bagi sekolah, tetapi juga bagian dari penguatan program ketahanan pangan nasional," tegasnya.
Selain soal inovasi, Khofifah juga menyentuh isu pengelolaan sampah. Ia mengingatkan agar pengelolaan sampah dilakukan sedekat mungkin dengan sumbernya, sehingga volume yang berakhir di tempat pemrosesan akhir bisa ditekan. Pesan ini relevan mengingat banyak kota di Indonesia, termasuk Surabaya, masih bergulat dengan masalah tumpukan sampah.
Di sela acara, Khofifah mengajak para ASN untuk mendoakan warga Nusa Tenggara Timur yang tengah dilanda musibah. Ia berharap para korban meninggal mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan, yang sakit segera diberi kesembuhan, dan masyarakat yang terdampak diberikan ketabahan.
Ke depan, tantangan bagi ASN Jawa Timur bukan hanya mempertahankan masa bakti, tetapi bagaimana mentransformasi pengabdian menjadi solusi konkret atas persoalan publik. Apakah program SIKAP akan menjadi model nasional yang direplikasi daerah lain? Pertanyaan ini layak dinantikan, mengingat pemerintah pusat tengah gencar mendorong kemandirian pangan.



