Presiden Peru Keiko Fujimori Rencanakan Kunjungan ke Jepang: Simbol Ikatan Sejarah dan Strategi Politik
Baca dalam 60 detik
- Presiden Peru Keiko Fujimori dikabarkan akan mengunjungi Jepang pada November 2026, menjadikan Tokyo salah satu destinasi luar negeri pertamanya setelah menjabat.
- Kunjungan ini dirancang setelah pertemuan APEC di Shenzhen dan kunjungan Paus Leo XIV ke Peru, menunjukkan prioritas diplomasi ekonomi dan hubungan historis.
- Langkah ini dinilai sebagai upaya memperkuat kerja sama bilateral, sekaligus menghidupkan kembali warisan politik ayahnya, Alberto Fujimori, yang dekat dengan Jepang.

Presiden Peru, Keiko Fujimori, dikabarkan tengah menyusun rencana kunjungan kenegaraan ke Jepang pada November mendatang. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa Tokyo akan menjadi salah satu tujuan luar negeri pertama dalam masa kepemimpinannya, sekaligus menegaskan prioritas hubungan bilateral yang telah lama terjalin.
Menurut sumber dari kedua pemerintah, Fujimori akan terbang ke Jepang setelah menghadiri pertemuan pemimpin Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Shenzhen, China, yang dijadwalkan berlangsung hingga 19 November. Sebelumnya, ia juga dijadwalkan menerima kunjungan Paus Leo XIV di Peru pada 11โ17 November. Rangkaian agenda ini menunjukkan bahwa Fujimori ingin memanfaatkan momen internasional untuk memperkuat posisi Peru di kancah global, sekaligus merawat hubungan historis dengan Jepang.
Ikatan antara keluarga Fujimori dan Jepang bukanlah hal baru. Ayahnya, Alberto Fujimori, yang memimpin Peru dari 1990 hingga 2000, dikenal sebagai presiden pertama berdarah Jepang di Amerika Selatan. Ia rutin mengunjungi Jepang hampir setiap tahun selama masa jabatannya. Keiko sendiri merupakan presiden kedua berdarah Jepang di Peru, dengan kakek-nenek dari pihak ayah berasal dari Prefektur Kumamoto, sementara kakek-nenek dari pihak ibu berasal dari Prefektur Fukuoka.
Dalam kampanye presidennya pada April lalu, Fujimori menyatakan komitmennya untuk mempererat hubungan dengan Jepang dan berharap dapat berkunjung dalam waktu dekat. Kini, rencana tersebut mulai terwujud. Namun, di balik agenda diplomatik ini, terdapat nuansa politik yang menarik. Alberto Fujimori, yang jatuh dari kekuasaan akibat skandal korupsi pada 2000, sempat melarikan diri ke Jepang dan hidup dalam pengasingan de facto. Meski demikian, ia tetap memiliki hubungan dekat dengan Jepang, bahkan sempat mencalonkan diri sebagai anggota Majelis Tinggi Jepang pada 2007 saat berada di bawah tahanan rumah di Chile.
Bagi Indonesia, kunjungan ini memiliki relevansi tersendiri. Sebagai sesama negara berkembang di kawasan Asia-Pasifik, Indonesia dapat melihat bagaimana Peru memanfaatkan hubungan historis dengan Jepang untuk mendorong investasi dan kerja sama ekonomi. Jepang sendiri merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia, dan dinamika diplomasi semacam ini bisa menjadi contoh bagaimana negara-negara dengan diaspora Jepang memperkuat posisi mereka di panggung internasional.
Kunjungan ini juga menjadi ujian bagi Fujimori untuk menunjukkan kapasitasnya dalam menjalankan diplomasi internasional di tengah berbagai tantangan domestik. Ia mewarisi situasi politik yang kompleks, termasuk kritik terhadap rekam jejak ayahnya. Namun, dengan memilih Jepang sebagai salah satu tujuan awal, ia tampaknya ingin menegaskan kontinuitas hubungan yang telah dibangun keluarganya, sekaligus membuka babak baru bagi hubungan Peru-Jepang.
Ke depan, pertanyaannya adalah bagaimana Jepang akan merespons kunjungan ini. Apakah Tokyo akan memberikan dukungan penuh terhadap agenda ekonomi Fujimori, atau justru berhati-hati mengingat warisan kontroversial ayahnya? Yang jelas, langkah ini menegaskan bahwa Jepang tetap menjadi mitra penting bagi negara-negara dengan ikatan historis kuat, dan Indonesia dapat mengambil pelajaran dari strategi diplomasi semacam ini.



