Prabowo Turun Langsung ke Kalbar, Minta Data Karhutla yang Akurat: 198 Titik Panas Berisiko Tinggi Terdeteksi
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto memimpin langsung rapat penanganan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat, menuntut paparan data terkini dari jajaran terkait.
- Pemantauan satelit mengungkap 198 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi, tersebar di sejumlah kabupaten seperti Ketapang, Kubu Raya, dan Kayong Utara.
- Operasi modifikasi cuaca akan kembali digelar pada 23-27 Agustus 2026 untuk memanfaatkan potensi hujan yang diprediksi BMKG, sebagai upaya mempercepat pemadaman.

Presiden Prabowo Subianto meminta jajaran pemerintah pusat dan daerah untuk menyajikan gambaran aktual kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat, menekankan pentingnya langkah penanganan yang berbasis pada kondisi lapangan, bukan asumsi. Dalam rapat yang digelar di Kubu Raya, Sabtu, ia secara tegas meminta presentasi situasi terkini, menandakan perhatian serius terhadap bencana yang kerap melanda wilayah tersebut.
Rapat yang berlangsung di hadapan delapan pimpinan kementerian/lembaga dan sepuluh kepala daerah, termasuk gubernur, kapolda, pangdam, serta unsur Basarnas, BMKG, dan BNPB, menjadi ajang koordinasi cepat. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya melaporkan kehadiran para pemangku kepentingan sebelum Presiden meminta paparan langsung. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak ingin menangani karhutla dengan data usang, melainkan dengan pemetaan yang akurat dan terukur.
Menanggapi permintaan tersebut, Tenaga Ahli Kepala BNPB, Brigjen TNI (Purn.) Asrianus Bulo, memaparkan hasil pemantauan satelit selama 24 jam terakhir. Data yang disajikan mengungkap 198 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi, 3.100 titik dengan kepercayaan menengah, dan 406 titik berisiko rendah. Konsentrasi titik api terbesar berada di Kabupaten Ketapang, Kubu Raya, dan Kayong Utara di sektor selatan, serta Sanggau, Sintang, dan Sambas di wilayah timur. Angka ini menjadi alarm bagi upaya pencegahan yang lebih agresif.
Di tengah tingginya titik api, pemerintah telah mengerahkan operasi modifikasi cuaca (OMC) pada 11-18 Agustus 2026, namun terpaksa dihentikan karena minimnya potensi awan. Bulo menyebut koordinasi dengan BMKG menunjukkan peluang hujan pada 23-27 Agustus, sehingga OMC akan kembali dilaksanakan. โKami sudah rapat dengan BMKG bahwa potensi awal akan terjadi pada tanggal 23-27 sehingga kami akan melaksanakan operasi modifikasi cuaca,โ ujarnya. Ini menjadi strategi kunci untuk mempercepat pemadaman, terutama di area yang sulit dijangkau.
Bagi Indonesia, karhutla di Kalimantan Barat bukan sekadar bencana lingkungan, tetapi juga ancaman ekonomi dan kesehatan. Asap yang dihasilkan kerap mengganggu aktivitas penerbangan, memicu penyakit pernapasan, dan merusak citra investasi di sektor perkebunan. Langkah Presiden yang turun langsung mengirim sinyal bahwa pemerintah serius menangani masalah ini, sekaligus memastikan anggaran dan sumber daya dialokasikan secara tepat sasaran. Masyarakat di daerah terdampak pun berharap respons cepat ini berujung pada pengurangan titik api secara signifikan.
Ke depan, efektivitas penanganan karhutla akan diuji pada musim kemarau yang masih berlangsung. Apakah koordinasi antara pusat dan daerah mampu menekan angka hotspot secara drastis, atau justru terhambat oleh keterbatasan cuaca dan medan? Publik menanti bukti nyata dari komitmen yang ditunjukkan hari ini.



